NEWS
Perusahaan Teknologi Dorong Okupansi Kantor CBD Jakarta ke 72 Persen
Rizkie Fauzian
Jumat 06 November 2026 / 13:16
- Okupansi perkantoran CBD Jakarta mencapai 72 persen pada kuartal III 2026 dengan penyerapan ruang 25 ribu meter persegi.
- Perusahaan teknologi, AI, pusat data, dan teknologi finansial menjadi pendorong permintaan ruang kantor di Jakarta.
- Harga sewa rata-rata kantor CBD Jakarta mencapai Rp213 ribu per meter persegi per bulan, sedangkan non-CBD sebesar Rp102 ribu.
Jakarta: Tingkat okupansi perkantoran di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta mencapai 72 persen pada kuartal III 2026. Aktivitas penyewaan ruang kantor terutama didorong perusahaan teknologi, jasa keuangan, dan asuransi.
Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan penyerapan ruang kantor di kawasan CBD menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang kuartal III 2026, penyerapan ruang mencapai 25 ribu meter persegi. Dengan demikian, total penyerapan selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai sekitar 65 ribu meter persegi.
"Sektor perkantoran CBD ini masih mendapatkan minat dari para penyewa, biasanya memang baik dari ekspansi maupun juga perpindahan dari non CBD ke CBD, selain itu juga ada perpindahan dari gedung yang lama ke gedung yang lebih baru," ujar Yunus dalam pemaparan pasar properti kuartal III 2026 JLL Indonesia, Kamis, 5 November 2026.
Dari sisi permintaan, perusahaan teknologi menjadi salah satu kelompok penyewa yang aktif mencari ruang kantor. Yunus menyebut permintaan juga datang dari perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI), pusat data, dan teknologi finansial.
"Kemudian dari sisi perusahaan atau dari demand driversnya kita lihat memang perusahaan teknologi yang mendominasi di kuartal ini, termasuk juga AI, data center, dan fintech companies," kata Yunus.
Sementara itu, pasokan gedung perkantoran baru di kawasan CBD diperkirakan masih terbatas dalam beberapa tahun mendatang. Berdasarkan proyeksi JLL Indonesia, terdapat dua gedung baru dengan total luas sekitar 120 ribu meter persegi yang diperkirakan masuk hingga 2030.
"Supply untuk tahun 2026 ini diperkirakan tidak akan ada yang sudah dibangun, sejauh ini kita melihat hanya akan ada 2 gedung, yang kurang lebih totalnya sekitar 120 ribu meter persegi untuk 2 gedung, hingga tahun 2030 nanti,” ungkap Yunus.
Adapun harga sewa rata-rata perkantoran di kawasan CBD berada di kisaran Rp213 ribu per meter persegi per bulan.
Tidak terdapat gedung baru yang selesai dibangun pada kuartal tersebut. Meski demikian, penyerapan ruang kantor mencapai sekitar 19.300 meter persegi.
Perusahaan teknologi kembali menjadi salah satu pendorong utama permintaan ruang kantor di kawasan ini. Selain itu, sektor pendidikan juga mulai terlihat berkontribusi terhadap aktivitas penyewaan.
"Jadi kita lihat memang sektor teknologi ini menjadi primary driver untuk leasing activity. Salah satunya juga ada sektor pendidikan yang kita lihat muncul di kawasan non-CBD," ujar Yunus.
Berdasarkan wilayah, Jakarta Utara mencatat aktivitas penyewaan yang relatif lebih tinggi. Kondisi tersebut berkaitan dengan masuknya gedung baru pada kuartal sebelumnya yang turut mendorong penyerapan ruang kantor.
Sementara dari sisi harga, tarif sewa perkantoran non-CBD mengalami kenaikan sekitar 0,3 persen pada kuartal III 2026. Harga sewa rata-rata perkantoran non-CBD berada di kisaran Rp102 ribu per meter persegi per bulan.
Ketersediaan ruang kantor yang sudah dilengkapi fasilitas juga menjadi pertimbangan penyewa karena dapat membantu perusahaan menghemat biaya penyesuaian interior sebelum mulai beroperasi. (Syarifah Komalasari)
(KIE)
Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan penyerapan ruang kantor di kawasan CBD menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang kuartal III 2026, penyerapan ruang mencapai 25 ribu meter persegi. Dengan demikian, total penyerapan selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai sekitar 65 ribu meter persegi.
"Sektor perkantoran CBD ini masih mendapatkan minat dari para penyewa, biasanya memang baik dari ekspansi maupun juga perpindahan dari non CBD ke CBD, selain itu juga ada perpindahan dari gedung yang lama ke gedung yang lebih baru," ujar Yunus dalam pemaparan pasar properti kuartal III 2026 JLL Indonesia, Kamis, 5 November 2026.
Gedung Premium dan Grade A Catat Kenaikan Harga Sewa
Aktivitas penyewaan tersebut turut memengaruhi pergerakan harga sewa perkantoran di kawasan CBD. Pada kuartal III 2026, harga sewa tercatat meningkat sekitar 1,1 persen, terutama pada gedung kategori premium dan Grade A.Dari sisi permintaan, perusahaan teknologi menjadi salah satu kelompok penyewa yang aktif mencari ruang kantor. Yunus menyebut permintaan juga datang dari perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI), pusat data, dan teknologi finansial.
"Kemudian dari sisi perusahaan atau dari demand driversnya kita lihat memang perusahaan teknologi yang mendominasi di kuartal ini, termasuk juga AI, data center, dan fintech companies," kata Yunus.
Sementara itu, pasokan gedung perkantoran baru di kawasan CBD diperkirakan masih terbatas dalam beberapa tahun mendatang. Berdasarkan proyeksi JLL Indonesia, terdapat dua gedung baru dengan total luas sekitar 120 ribu meter persegi yang diperkirakan masuk hingga 2030.
"Supply untuk tahun 2026 ini diperkirakan tidak akan ada yang sudah dibangun, sejauh ini kita melihat hanya akan ada 2 gedung, yang kurang lebih totalnya sekitar 120 ribu meter persegi untuk 2 gedung, hingga tahun 2030 nanti,” ungkap Yunus.
Adapun harga sewa rata-rata perkantoran di kawasan CBD berada di kisaran Rp213 ribu per meter persegi per bulan.
Okupansi Perkantoran Non-CBD Berada di Angka 69 Persen
Pada kuartal III 2026, tingkat okupansi perkantoran non-CBD tercatat sebesar 69 persen dengan total pasokan sekitar 3,5 juta meter persegi.Tidak terdapat gedung baru yang selesai dibangun pada kuartal tersebut. Meski demikian, penyerapan ruang kantor mencapai sekitar 19.300 meter persegi.
Perusahaan teknologi kembali menjadi salah satu pendorong utama permintaan ruang kantor di kawasan ini. Selain itu, sektor pendidikan juga mulai terlihat berkontribusi terhadap aktivitas penyewaan.
"Jadi kita lihat memang sektor teknologi ini menjadi primary driver untuk leasing activity. Salah satunya juga ada sektor pendidikan yang kita lihat muncul di kawasan non-CBD," ujar Yunus.
Berdasarkan wilayah, Jakarta Utara mencatat aktivitas penyewaan yang relatif lebih tinggi. Kondisi tersebut berkaitan dengan masuknya gedung baru pada kuartal sebelumnya yang turut mendorong penyerapan ruang kantor.
Sementara dari sisi harga, tarif sewa perkantoran non-CBD mengalami kenaikan sekitar 0,3 persen pada kuartal III 2026. Harga sewa rata-rata perkantoran non-CBD berada di kisaran Rp102 ribu per meter persegi per bulan.
Ketersediaan ruang kantor yang sudah dilengkapi fasilitas juga menjadi pertimbangan penyewa karena dapat membantu perusahaan menghemat biaya penyesuaian interior sebelum mulai beroperasi. (Syarifah Komalasari)
(KIE)