Investasi properti komersial Asia Pasifik mencapai rekor USD47 miliar pada kuartal I-2026. Foto: Freepik
Investasi properti komersial Asia Pasifik mencapai rekor USD47 miliar pada kuartal I-2026. Foto: Freepik

Investasi Properti Asia Pasifik Cetak Rekor

Rizkie Fauzian • 26 Mei 2026 13:18
Ringkasnya gini..
  • Investasi properti komersial Asia Pasifik mencapai rekor USD47 miliar pada kuartal I-2026.
  • Sektor perkantoran menjadi kontributor terbesar investasi dengan nilai transaksi USD24 miliar.
  • Data center, logistik, dan perhotelan menjadi sektor yang semakin diminati investor di kawasan Asia Pasifik.
Jakarta: Investasi properti komersial atau commercial real estate (CRE) di kawasan Asia Pasifik mencapai USD47 miliar atau setara Rp766 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut naik 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi capaian kuartal pertama tertinggi sepanjang sejarah di kawasan tersebut.
 
Data tersebut dirilis perusahaan konsultan properti global JLL. Kinerja positif pasar properti komersial Asia Pasifik didorong tingginya permintaan terhadap aset perkantoran serta meningkatnya aktivitas investasi lintas negara.
 
Meski demikian, investor masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar energi global.

Investasi lintas negara melonjak

Pada kuartal pertama 2026, aktivitas investasi lintas negara mencapai USD16,3 miliar atau naik 87 persen secara tahunan. Nilai tersebut sekaligus menjadi rekor tertinggi investasi lintas negara dalam satu kuartal di Asia Pasifik.

Singapore mencatat pertumbuhan investasi tertinggi di kawasan dengan lonjakan 433 persen menjadi USD11,5 miliar. Kenaikan tersebut terutama didorong transfer aset milik Hongkong Land dan Qatar Investment Authority ke dana investasi SCPREF senilai USD6,4 miliar.
Sementara itu, Japan tetap menjadi pasar properti komersial terbesar di Asia Pasifik dengan total investasi mencapai USD13,2 miliar meski turun 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
 
Sektor perkantoran masih mendominasi aktivitas investasi di Jepang, termasuk melalui transaksi akuisisi kantor pusat lama Dentsu Group oleh Brookfield dari Hulic senilai USD1,9 miliar.

Sektor perkantoran dan logistik mendominasi

CEO Asia Pacific Capital Markets JLL, Stuart Crow, mengatakan pasar Asia Pasifik masih menghadapi risiko akibat gejolak harga energi yang dipicu situasi geopolitik.
 
Menurut dia, modal investasi dalam jangka pendek diperkirakan lebih banyak mengalir ke pasar matang dan likuid seperti Jepang dan Singapura.
 
“Selain itu, kenaikan biaya konstruksi akibat harga energi juga dapat membatasi pasokan baru sehingga memperkuat prospek pendapatan dan nilai aset di lokasi strategis,” ujar Stuart Crow dalam keterangan, Selasa, 26 Mei 2026.
 
Sektor perkantoran menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai transaksi mencapai USD24 miliar atau naik 46 persen secara tahunan. Nilai tersebut menyumbang lebih dari separuh total investasi regional.
 
Di sisi lain, sektor industri dan logistik juga mencatat pertumbuhan kuat dengan nilai transaksi mencapai USD8,5 miliar atau naik 53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data center dan hotel semakin diminati

Investasi pada sektor data center mencapai USD4,1 miliar pada kuartal pertama 2026. Pertumbuhan ini didorong meningkatnya kebutuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), regulasi kedaulatan data, serta upaya berbagai negara menarik investasi teknologi.
 
JLL memperkirakan permintaan kapasitas data center yang didorong AI dan layanan cloud akan tumbuh rata-rata 19 persen per tahun dalam lima tahun ke depan.
 
Beberapa lokasi berkembang seperti Johor Bahru di Malaysia, Batam di Indonesia, dan Bangkok di Thailand mulai dilirik karena memiliki potensi pasokan energi lebih memadai.
 
Selain itu, sektor perhotelan Asia Pasifik juga menunjukkan pertumbuhan positif. Volume transaksi hotel pada kuartal pertama 2026 meningkat 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dipimpin Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.
 
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, mengatakan Indonesia masih menarik minat investor karena didukung fundamental pasar yang kuat serta pertumbuhan ekonomi digital dan adopsi AI.
 
“Kami melihat minat investor tetap tinggi terhadap sektor logistik dan manufaktur, data center, hingga perhotelan,” ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan