Investasi kawasan Asia Tenggara naik 16 persen sepanjang 2025. Foto: Freepik
Investasi kawasan Asia Tenggara naik 16 persen sepanjang 2025. Foto: Freepik

Diam-Diam Melonjak, Investasi Properti Asia Tenggara Naik 16%

Rizkie Fauzian • 21 April 2026 11:00
Ringkasnya gini..
  • Investasi properti Asia Tenggara naik 16 persen menjadi USD21,8 miliar pada 2025, menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global.
  • Indonesia menjadi pendorong utama dengan kekuatan pasar domestik dan meningkatnya investasi di sektor industri serta logistik.
  • Data center dan digitalisasi menjadi tren baru yang diprediksi akan mendorong pertumbuhan properti kawasan dalam jangka panjang.
Jakarta: Indonesia bersama kawasan Asia Tenggara (Southeast Asia/SEA) menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global. Hal ini tercermin dari meningkatnya nilai transaksi investasi properti yang mencapai USD21,8 miliar sepanjang 2025, atau tumbuh 16 persen secara tahunan.
 
Laporan dari Cushman & Wakefield menyebutkan, penguatan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, permintaan domestik yang kuat, serta perubahan strategi alokasi modal investor.
 
Sebagai ekonomi terbesar di kawasan, Indonesia memainkan peran penting dalam menopang kinerja regional. Dengan populasi sekitar 286 juta jiwa dan PDB mencapai USD1,388 triliun, Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, tingkat pengangguran stabil, serta peningkatan pendapatan masyarakat.
 

Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap ekspor ke Amerika Serikat relatif lebih rendah dibandingkan negara lain di kawasan. Hal ini membuat ekonomi domestik lebih tahan terhadap gejolak perdagangan global.

Sektor industri dan logistik jadi primadona

Minat investor di Asia Tenggara saat ini banyak mengarah ke sektor industri dan logistik. Pada 2025, nilai transaksi di sektor ini mencapai sekitar USD1,3 miliar atau naik 48 persen secara tahunan.
 
 
Pertumbuhan tersebut didorong oleh pesatnya e-commerce, meningkatnya kebutuhan layanan logistik pihak ketiga, serta peran Asia Tenggara sebagai basis manufaktur global yang semakin kuat.
 
Indonesia dan Filipina menjadi dua negara yang menonjol berkat permintaan domestik yang solid, sehingga mampu menjaga daya tarik investasi di tengah dinamika global.

Data center jadi tema investasi baru

Selain sektor industri, data center muncul sebagai salah satu tema investasi utama di kawasan. Meski pasar yang lebih matang masih mendominasi, Indonesia dinilai memiliki potensi besar karena pasar yang belum sepenuhnya terpenuhi.
 
Percepatan digitalisasi, pertumbuhan ekonomi digital, serta urbanisasi menjadi faktor utama yang mendorong kebutuhan infrastruktur data di Indonesia.
 
Menurut Lini Djafar, fundamental domestik Indonesia tetap kuat dan menjadikan negara ini sebagai destinasi investasi yang stabil dan menarik.
 
Sementara itu, Wong Xian Yang menilai bahwa pemulihan investasi bukan sekadar siklus, melainkan bagian dari pergeseran struktural ke sektor yang mendukung manufaktur dan digitalisasi.

Prospek jangka panjang tetap positif

Ke depan, prospek Asia Tenggara dinilai tetap cerah. Kawasan ini diproyeksikan mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 4,3 persen pada 2026, menjadikannya salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
 
Konsumsi domestik bahkan diperkirakan mencapai USD5 triliun pada 2035, dengan pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun.
 
Indonesia diprediksi tetap menjadi kontributor utama, seiring meningkatnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan sektor ritel yang diperkirakan melampaui 5 persen secara tahunan.
 
Menurut Anshul Jain, momentum kawasan tidak hanya didorong oleh investor, tetapi juga oleh pertumbuhan kelas menengah, populasi produktif, serta pembangunan infrastruktur yang semakin masif.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan