Head of Research JLL Indonesia, James Taylor, mengatakan pasar perkantoran Jakarta sebelumnya mengalami tekanan cukup panjang. Dalam satu dekade terakhir sejak 2015, pasokan ruang kantor di Jakarta bertambah hingga sekitar 1 juta meter persegi, sementara tingkat okupansi turun dari 95 persen menjadi 65 persen.
Namun, pada kuartal I-2026 kondisi mulai berbalik positif. Tingkat okupansi pasar perkantoran CBD Jakarta kini stabil di angka 72 persen dengan permintaan yang terus meningkat.
Minim pasokan dorong pemulihan
Menurut James, pemulihan pasar perkantoran didorong oleh terbatasnya pasokan gedung baru yang masuk ke pasar. Bahkan, JLL memperkirakan tidak akan ada tambahan pasokan signifikan hingga 2028.“Pemulihan ini didukung dengan kurangnya pasokan. Kita tidak melihat pasokan baru hingga tahun 2028. Penyerapan tahun ini dua kali lipat dari yang kita lihat pada kuartal I tahun lalu,” ujar James dalam Media Briefing JLL, Selasa, 12 Mei 2026.
JLL juga mencatat pemulihan tidak hanya terjadi pada gedung Grade A, tetapi mulai terlihat pada gedung perkantoran Grade B dan Grade C. Kenaikan harga sewa tercatat sekitar 1 persen pada kuartal ini dan diproyeksikan tumbuh hingga 4 persen sepanjang 2026.
TB Simatupang masih diminati
Sementara itu, pasar perkantoran non-CBD Jakarta dinilai relatif stabil, terutama di wilayah Jakarta Utara, Timur, dan Barat. Kawasan TB Simatupang menjadi salah satu area yang menunjukkan kinerja positif.Pada kuartal I-2026 terdapat satu gedung baru seluas 30.000 meter persegi di kawasan tersebut dengan tingkat penyerapan mencapai sekitar 15.000 meter persegi atau meningkat dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.
“Kami melihat satu proyek baru sekitar 30.000 meter persegi pada kuartal ini. Permintaan terfokus pada gedung tersebut di TB Simatupang. Penyerapan bersih untuk kuartal ini sekitar 15.000 meter persegi,” kata James.
Ia menilai kenaikan harga sewa di kawasan CBD dapat membuat penyewa kembali melirik area non-CBD seperti TB Simatupang yang menawarkan biaya lebih kompetitif.
Tren WFO dorong permintaan kantor
Head of Tenant Representation JLL Indonesia, Panji Aziz, mengatakan meningkatnya permintaan ruang kantor juga dipicu kebijakan perusahaan yang mulai kembali menerapkan work from office (WFO).“Ada beberapa alasan, karena kepentingan dari perusahaan itu sendiri, dan juga dari perusahaan yang sebelumnya menerapkan hybrid working, sekarang mereka kembali bekerja di kantor,” ujar Panji.
Selain itu, efisiensi menjadi pertimbangan utama bagi banyak penyewa. Saat ini perusahaan cenderung mencari ruang kantor yang sudah dilengkapi furnitur untuk mengurangi biaya investasi awal.
JLL memproyeksikan tren positif sektor perkantoran Jakarta akan terus berlanjut hingga akhir 2026 seiring meningkatnya permintaan dan pendapatan di seluruh segmen pasar kantor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News