Tingkat okupansi ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta diproyeksikan terus meningkat. Foto: Freepik
Tingkat okupansi ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta diproyeksikan terus meningkat. Foto: Freepik

Okupansi Kantor CBD Jakarta Diprediksi Tembus 80% pada 2030

Rizkie Fauzian • 07 Mei 2026 11:17
Ringkasnya gini..
  • CBRE memprediksi tingkat okupansi kantor CBD Jakarta meningkat hingga 80 persen pada 2030.
  • Minimnya pasokan gedung baru sejak 2021 membuat ruang kantor di CBD semakin terbatas.
  • Harga sewa kantor Grade A mulai naik seiring meningkatnya permintaan ruang kerja berkualitas tinggi.
Jakarta: Tingkat okupansi ruang perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai 80 persen pada 2030. Tren ini dipicu minimnya pasokan gedung kantor baru dalam dua tahun ke depan, sementara penyerapan pasar tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
 
Berdasarkan laporan CBRE kuartal I-2026, total stok perkantoran di CBD Jakarta saat ini mencapai 7,1 juta meter persegi dengan ruang kosong sekitar 1,7 juta meter persegi. Pada periode tersebut, permintaan ruang kantor tercatat positif sebesar 21.300 meter persegi sehingga tingkat okupansi naik menjadi 76,1 persen.
 
Senior Director Research CBRE, Anton Sitorus, mengatakan sejak 2021 hampir tidak ada tambahan gedung kantor baru di kawasan CBD. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga akhir 2027.

“Kalau kita lihat proyeksi ke depan untuk perkantoran di CBD, 2026-2027 supply baru diperkirakan masih kosong. Mungkin baru akan masuk ke pasar dari tahun 2028. Jadi dalam dua tahun ke depan diperkirakan kosong, tapi penyerapannya masih akan terus berlanjut,” ujar Anton dalam Media Briefing di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
 
Menurut Anton, stabilnya tingkat penyerapan membuat pasar perkantoran CBD semakin optimistis. Berkurangnya ruang kosong juga membuka peluang kenaikan harga sewa yang sebelumnya sempat tertekan selama pandemi.
 
“Diproyeksikan tingkat hunian di daerah CBD ini akan terus naik di kisaran 80 persen, dari saat ini 76 persen ke posisi 80 persen pada 2030. Kita cukup optimistis bahwa permintaan perkantoran di CBD masih akan terus berlanjut,” jelas dia.
 
Saat ini rata-rata harga sewa kantor di kawasan CBD tercatat sebesar Rp171.600 per meter persegi per bulan. Kenaikan harga sewa mulai terlihat terutama pada gedung Grade A karena banyak perusahaan mulai mencari ruang kerja dengan kualitas lebih baik.

Pasar perkantoran Non-CBD mulai stabil

Kondisi pasar serupa juga terjadi di wilayah Non-CBD Jakarta. Pada kuartal I-2026, terdapat tambahan pasokan baru dari gedung ADR di kawasan PIK seluas 56.000 meter persegi.
 
Masuknya pasokan baru membuat tingkat hunian perkantoran Non-CBD turun sementara ke level 72,9 persen. Namun, penyerapan pasar tetap positif dengan angka mencapai 23.000 meter persegi.
 
Anton menilai pengembang kini lebih berhati-hati dalam meluncurkan proyek baru dibandingkan periode sebelum pandemi. Menurutnya, pasar properti saat ini memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang dan terkendali.
 
“Sekarang supply lebih terkontrol, market lebih mature, lebih rasional dan berhati-hati. Tidak hanya di sektor perkantoran, tapi juga sektor properti lainnya,” jelasnya.
 
CBRE memproyeksikan tingkat okupansi perkantoran Non-CBD akan meningkat dari 73 persen menjadi 77 persen pada 2030. Saat ini total stok perkantoran Non-CBD mencapai 3,4 juta meter persegi dengan tambahan pasokan mendatang sekitar 63.000 meter persegi. (Syarifah Komalasari)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan