NEWS

Okupansi Bukan Lagi Prioritas, Hotel Jakarta dan Bali Ubah Strategi

Rizkie Fauzian
Sabtu 01 Agustus 2026 / 15:28
Ringkasnya gini..
  • Colliers menyebut industri hotel di Jakarta dan Bali mulai mengutamakan kualitas pendapatan dibanding sekadar mengejar tingkat okupansi.
  • Di Jakarta, hotel memperluas pasar ke segmen korporasi, staycation, dan acara sosial untuk mengurangi ketergantungan pada permintaan pemerintah.
  • Sementara di Bali, hotel semakin fokus menarik wisatawan premium dengan layanan yang lebih personal guna meningkatkan profitabilitas jangka panjang.
Jakarta: Industri perhotelan di Jakarta dan Bali mulai memasuki fase pertumbuhan baru. Jika sebelumnya tingkat okupansi menjadi indikator utama, kini pelaku industri lebih berfokus pada peningkatan kualitas pendapatan dengan menyasar tamu yang memiliki tingkat belanja lebih tinggi dan memperluas sumber pendapatan.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan perubahan tersebut dipicu oleh dinamika pasar yang berbeda di masing-masing daerah. Meski demikian, Jakarta dan Bali memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan profitabilitas jangka panjang.

"Hotel tidak lagi hanya bersaing mengejar okupansi, tetapi juga berupaya menarik tamu yang memberikan kontribusi pendapatan lebih besar melalui tingkat belanja, pengalaman menginap, dan loyalitas mereka," ujar Ferry dalam laporan yang dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.

Hotel Jakarta kurangi ketergantungan pada segmen pemerintah

Di Jakarta, kebijakan efisiensi fiskal membuat permintaan dari sektor pemerintah, khususnya untuk kegiatan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE), belum kembali ke level sebelumnya.

Kondisi tersebut mendorong operator hotel melakukan diversifikasi pasar dengan menyasar pelaku perjalanan bisnis, wisatawan mandiri (free independent travelers), staycation, hingga penyelenggaraan pernikahan dan berbagai acara sosial.
 
Menurut Colliers, langkah tersebut membuat struktur permintaan hotel di Jakarta menjadi lebih seimbang karena tidak lagi bergantung pada satu segmen pelanggan.

Selain itu, keterbatasan pasokan hotel baru turut membantu menjaga stabilitas pasar. Meskipun tingkat okupansi masih menghadapi tekanan, tarif rata-rata kamar (average room rate/ARR) dinilai tetap terjaga.

Bali bidik wisatawan dengan belanja lebih tinggi

Berbeda dengan Jakarta, tantangan utama sektor perhotelan di Bali bukan lagi meningkatkan jumlah wisatawan, melainkan mengoptimalkan nilai ekonomi dari setiap kunjungan.

Karena itu, hotel di Pulau Dewata mulai berfokus menarik wisatawan premium yang memiliki daya belanja lebih tinggi melalui layanan yang lebih personal, pengalaman budaya, serta fasilitas wellness.

Colliers mencatat kepercayaan investor terhadap segmen hotel mewah juga masih kuat. Hingga 2029 diperkirakan akan hadir sekitar 1.700 kamar hotel baru yang mayoritas berasal dari proyek hotel bintang lima.

Menurut Ferry, fase pertumbuhan berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan hotel menciptakan nilai dari setiap tamu, bukan sekadar meningkatkan jumlah pengunjung.

Selain itu, durasi menginap wisatawan yang lebih lama dinilai turut mendorong peningkatan belanja sehingga memberikan tingkat profitabilitas yang lebih baik bagi pelaku industri perhotelan.

Colliers menilai perubahan strategi di Jakarta maupun Bali menunjukkan bahwa industri perhotelan Indonesia mulai bergeser dari mengejar volume tamu menuju penciptaan pendapatan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)

MOST SEARCH