FITNESS & HEALTH
Maudy Ayunda Bicara Mindfulness, Apa Sih Itu?
Yatin Suleha
Selasa 15 September 2026 / 14:22
- Pernah enggak sih kamu merasa lelah banget tiap kali scrolling media sosial karena isinya berita buruk semua?
- Mulai dari krisis lingkungan, bencana alam, sampai huru-hara harian yang rasanya bikin dada sesak.
- Isu ini mendadak ramai dibicarakan setelah Maudy Ayunda mengunggah konten video yang membahas cara mempraktikkan mindfulness.
Jakarta: Pernah enggak sih kamu merasa lelah banget tiap kali scrolling media sosial karena isinya berita buruk semua? Mulai dari krisis lingkungan, bencana alam, sampai huru-hara harian yang rasanya bikin dada sesak.
Perasaan overwhelmed ini memang makin sering dirasakan sama Gen Z yang terpapar arus informasi tanpa henti selama 24 jam sehari.
Isu ini mendadak ramai dibicarakan setelah Maudy Ayunda mengunggah konten video yang membahas cara mempraktikkan mindfulness di tengah gempuran berita buruk.
Konten tersebut langsung memicu diskusi hangat di berbagai platform media sosial. Ada yang merasa relatable dan terbantu, tapi enggak sedikit juga yang memberikan kritik mendalam.
Lantas, apa sih sebenarnya yang disampaikan Maudy, dan kenapa perbincangan ini bisa jadi pelajaran berharga soal kesehatan mental sekaligus kepekaan sosial? Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Jadi kayak apa sih tips mindfulness itu? Beberapa langkah di bawah ini bisa kamu lakukan:
Mengkurasi sumber informasi: Pilih akun atau sumber berita tepercaya (trusted sources) yang lebih berimbang.
Menentukan window time: Enggak perlu mengekspos diri ke berita buruk sepanjang hari. Kamu bisa menentukan waktu khusus, misalnya di malam hari, untuk mencerna kabar terkini lalu log off dan istirahat.

(Mindfulness adalah mengamati tanpa menghakimi. Saat pikiran atau emosi negatif muncul, kamu cukup menyadarinya saja. Kamu enggak perlu melabelinya sebagai hal "baik" atau "buruk", dan enggak terburu-buru bereaksi secara impulsif. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kapan harus berhenti: Pasang batas tegas (boundary). Kalau dirasa pemahaman soal suatu isu sudah cukup dan emosi mulai terkuras, enggak ada salahnya untuk berhenti membaca belasan artikel lain dengan topik yang sama.
Menyeimbangkan input: Ada baiknya juga kamu menyeimbangan konten dari yang sebelumnya membuat kamu stres lalu kamu bisa mengonsumsi hal-hal kecil yang positif, indah, dan menenangkan.
Tips di atas secara teoretis memang sangat baik untuk menjaga mental sanity. Namun, respons riuh warganet menunjukkan bahwa menerapkan mindfulness dengan cara "menjauh sejenak dari berita" ternyata enggak semudah itu bagi semua orang.
Bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh krisis—seperti warga yang menghadapi bencana alam, kabut asap, atau ketidakadilan ekonomi—berita buruk bukanlah sekadar pilihan konten di layar ponsel, melainkan realitas hidup harian.
Di titik inilah muncul kritik bahwa ajakan untuk mengambil jeda bisa terasa kurang sensitif (tone deaf) jika tidak memperhitungkan faktor privilese.
Menariknya, Maudy merespons masukan tersebut dengan terbuka. Ia menyampaikan permohonan maaf dan mengakui satu poin penting yang sempat terlewat.
Dari fenomena ini, ada beberapa poin relevan yang bisa kita petik.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti menutup mata dari penderitaan orang lain. Mindfulness sejatinya adalah melatih kesadaran penuh agar kita enggak tenggelam dalam rasa tidak berdaya (helplessness).
Kamu enggak bisa membantu orang lain atau bersuara secara efektif kalau kondisi psikologis kamu sendiri sudah runtuh. Menjaga kesehatan pikiran adalah modal awal agar kamu tetap punya energi untuk berempati dan bertindak.
Gunakan pikiran yang tenang bukan untuk acuh tak acuh, melainkan untuk berpikir lebih jernih dan mencari cara berkontribusi secara nyata.
(TIN)
Perasaan overwhelmed ini memang makin sering dirasakan sama Gen Z yang terpapar arus informasi tanpa henti selama 24 jam sehari.
Isu ini mendadak ramai dibicarakan setelah Maudy Ayunda mengunggah konten video yang membahas cara mempraktikkan mindfulness di tengah gempuran berita buruk.
Konten tersebut langsung memicu diskusi hangat di berbagai platform media sosial. Ada yang merasa relatable dan terbantu, tapi enggak sedikit juga yang memberikan kritik mendalam.
Lantas, apa sih sebenarnya yang disampaikan Maudy, dan kenapa perbincangan ini bisa jadi pelajaran berharga soal kesehatan mental sekaligus kepekaan sosial? Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Tips mindfulness
Jadi kayak apa sih tips mindfulness itu? Beberapa langkah di bawah ini bisa kamu lakukan:
Mengkurasi sumber informasi: Pilih akun atau sumber berita tepercaya (trusted sources) yang lebih berimbang.
Menentukan window time: Enggak perlu mengekspos diri ke berita buruk sepanjang hari. Kamu bisa menentukan waktu khusus, misalnya di malam hari, untuk mencerna kabar terkini lalu log off dan istirahat.

(Mindfulness adalah mengamati tanpa menghakimi. Saat pikiran atau emosi negatif muncul, kamu cukup menyadarinya saja. Kamu enggak perlu melabelinya sebagai hal "baik" atau "buruk", dan enggak terburu-buru bereaksi secara impulsif. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kapan harus berhenti: Pasang batas tegas (boundary). Kalau dirasa pemahaman soal suatu isu sudah cukup dan emosi mulai terkuras, enggak ada salahnya untuk berhenti membaca belasan artikel lain dengan topik yang sama.
Menyeimbangkan input: Ada baiknya juga kamu menyeimbangan konten dari yang sebelumnya membuat kamu stres lalu kamu bisa mengonsumsi hal-hal kecil yang positif, indah, dan menenangkan.
Realitas privilege dan kritik yang muncul
Tips di atas secara teoretis memang sangat baik untuk menjaga mental sanity. Namun, respons riuh warganet menunjukkan bahwa menerapkan mindfulness dengan cara "menjauh sejenak dari berita" ternyata enggak semudah itu bagi semua orang.
Bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh krisis—seperti warga yang menghadapi bencana alam, kabut asap, atau ketidakadilan ekonomi—berita buruk bukanlah sekadar pilihan konten di layar ponsel, melainkan realitas hidup harian.
Di titik inilah muncul kritik bahwa ajakan untuk mengambil jeda bisa terasa kurang sensitif (tone deaf) jika tidak memperhitungkan faktor privilese.
Menariknya, Maudy merespons masukan tersebut dengan terbuka. Ia menyampaikan permohonan maaf dan mengakui satu poin penting yang sempat terlewat.
Pelajaran pentingnya
Dari fenomena ini, ada beberapa poin relevan yang bisa kita petik.
1. Mindfulness bukan artinya apatis
Menjaga kesehatan mental bukan berarti menutup mata dari penderitaan orang lain. Mindfulness sejatinya adalah melatih kesadaran penuh agar kita enggak tenggelam dalam rasa tidak berdaya (helplessness).
Baca Juga :
COPAS JUDUL LINK DISINI
2. Keseimbangan energi
Kamu enggak bisa membantu orang lain atau bersuara secara efektif kalau kondisi psikologis kamu sendiri sudah runtuh. Menjaga kesehatan pikiran adalah modal awal agar kamu tetap punya energi untuk berempati dan bertindak.
3. Bisa berkontribusi
Gunakan pikiran yang tenang bukan untuk acuh tak acuh, melainkan untuk berpikir lebih jernih dan mencari cara berkontribusi secara nyata.
(TIN)