ILUSTRASI: Dua siswa membaca buku di Perpustakaan Daerah Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa (2/1)/ANTARA/Oky Lukmansyah
ILUSTRASI: Dua siswa membaca buku di Perpustakaan Daerah Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa (2/1)/ANTARA/Oky Lukmansyah (JC Pramudia Natal)

JC Pramudia Natal

Pemerhati Pendidikan 

Gerakan Literasi Nasional? Acuan Dasar Literatur Sastra Dulu Saja

Oase sastra minat baca
JC Pramudia Natal • 21 Februari 2018 14:57
JC Pramudia Natal
Pemerhati Pendidikan
 
PADA peringatan Sumpah Pemuda Terakhir, sebagai bagian dari Gerakan Literasi Nasional dan perayaan Sumpah Pemuda, Kementerian Pendidikan Kebudayaan mengadakan Festival Literasi Sekolah. Tepat sebulan sebelumnya, pada Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan juga menginisiasi diskusi publik melalui perhelatan Beranda PSPK Jilid IX dengan tema “Setelah Membaca, So What?”.
Dalam kerangka peningkatan aktifitas membaca kedua perhelatan ini seolah menandai sebuah pencapaian monumental. Jika kita kembali ke sekolah-sekolah, maka akan kita temui praktik-praktik nyata Gerakan Literasi, antara lain Literasi Pagi (siswi/a membaca kitab suci selama beberapa menit sebelum memulai kelas pertama), “Pojok Baca” (tiap kelas membuat sebuah perpustakaan kecil di salah satu sudut kelas, yang membuat akses peserta kelas kepada buku lebih mudah), “Gerakan 1000 Murid dan/atau Guru Menulis” (siswi/a dan guru membuat sebuah tulisan fiksi/non-fiksi dan jika memungkinkan menerbitkan tulisan atau kumpulan tulisan tersebut). Dengan ragam praktik semacam itu di jenjang akar rumput, tidak heran kalangan perumus dan pencetus kebijakan terkait literasi merasa perlu menyiram dengan ragam aktifitas literasi yang lebih komunal.
Sayangnya ketika baik lapisan rakyat dan pemerintah sama-sama sedang larut bersemangat merayakan literasi, pertanyaan lebih tajam terkait gerakan literasi perlu diajukan, terutama dalam konteks i) Bagaimana pengukuran pencapaian praktik literasi dalam kaitannya dengan kualitas literatur yang dijadikan bahan praktik? ii) kualitas literasi macam apa yang dicoba dikembangkan oleh pemerintah? Dan yang paling krusial, iii) apakah kualitas literatur sasaran telah melalui proses perancangan yang mempertimbangkan ketepatgunaannya dan kepastian penyediaannya?
Dari yang tekstual kepada yang kontekstual

Pertanyaan yang pertama bertujuan memperjelas standar yang digunakan pemerintah sehingga dalam setiap program atau gerakan literasi sebuah pesan pencapaian positif dapat disampaikan.. Apabila kita berkaca kepada pelaksanaan gerakan literasi selama ini, maka dapat disimpulkan bahwa standar yang diharapkan hanyalah selama ada praktik kegiatan literasi yang terdokumentasi itu sudah cukup. Praktiknya dapat sesederhana kegiatan membaca 5 menit di dalam kelas hingga festival guru atau murid menulis. Kesimpulan ini bukan tanpa refleksi mendalam. Tidak usah ambil hasil PIAAC 2012 ketika kurang dari 1 persen responden Indonesia (Jakarta) yang mampu melakukan praktik kompilasi-telaah-interpretasi-sintesi ragam teks, bahwa Festival Literasi ASEAN 2017 dengan para sastrawati/wan penggiatnya di Jakarta mampu mengangkat tema mendalam seperti Radikalisasi sementara Festival Literasi Sekolah (Nasional) bergerak dalam semangat membaca tanpa membawa nilai moral apapun seharusnya sudah menimbulkan percik penasaran.
Implikasi dari gerakan literasi yang hanya berorientasi praktis literasi belaka, tanpa kehadiran sebuah konsep nilai sebagai fondasi visi misi pembingkai, adalah tidak ada standar kualitas yang dikenakan kepada literatur yang digunakan sebagai objek praktik. Praktik nir-standar ini dapat diakomodasi dalam jangka pendek dengan mempertimbangkan bahwa belum ada satu dasawarsa Gerakan Literasi digalakkan. Namun dalam jangka panjang ketiadaan standar terhadap literatur sasaran berpotensi memunculkan rantai akibat yang mengerikan.

Mungkin tidak ada yang menganggap ketika 20 tahun lalu Taufik Ismail mengobarkan tanda bahaya bahwa pada jenjang SMU murid-murid tidak membaca karya sastra. Bahkan ketika sekitar satu dasawarsa lalu penggiat literasi Satria Dharma dan psikolog-pedagog Bukik Setiawan kembali meneriakkan pekik Taufik Ismail, dunia pendidikan Indonesia tetap berjalan bagaikan kafilah pekak berlalu saat anjing menggonggong. Namun mendadak, belum ada triwulan, publik nasional dikejutkan fakta bahwa di kampus garda depan ilmu keguruan nasional sudah mengakar kuat praktik korupsi, baik korupsi tingkat keluarga lewat praktik nepotisme, hingga korupsi tingkat intelektual lewat praktik plagiarisme.
...di kampus garda depan ilmu keguruan nasional sudah mengakar kuat praktik korupsi, baik korupsi tingkat keluarga lewat praktik nepotisme, hingga korupsi tingkat intelektual lewat praktik plagiarisme.
Terlalu dini untuk mengatakan bahwa ada hubungan antara kegagalan literasi sastra selama 20 tahun dengan ketidakmampuan para maha-pelajar menggunakan literasi mereka untuk menghasilkan karya tulis orisinil. Namun juga terlalu naif jika kita mengatakan bahwa sama sekali tidak ada keterkaitan antara matinya pelajaran sastra dan mewabahnya kasus plagiarisme dua dekade kemudian. Justru dengan melihat teks sastra sebagai wahana katarsis nilai moral (Budi Darma), kontekstual adanya setelah dua dekade puasa karya sastra sebagai literatur standar masyarakat Indonesia mengalami gegar moral dalam praktik literasi. Ketika kita tidak pernah membaca teks yang merepresantasikan kenyataan hidup, bagaimana kita menginterpretasi dan memahami relasi kon-teks-tual dalam kenyataan sehari-hari?
Acuan dasar literatur sastra

Kenyataan bahwa pencapaian gerakan literasi sejauh ini baru terbatas pada pendataan dan penggalakkan praktik membaca di muka umum, dibarengi dengan kegagalan-kegagalan yang dialami dalam dunia literasi intelektual mengisyaratkan bahwa sesungguhnya tidak ada sebuah kerangka dasar atau cetak-biru gerakan literasi nasional. Dalam lingkup gerakan literasi, perwujudan sebuah kerangka dasar adalah adanya sasaran acuan literatur sastra yang ditempatkan di tiap fase akhir suatu jenjang pendidikan. Dengan demikian apabila gerakan literasi menyasar peserta didik jenjang dini sampai menengah atas, maka seyogyanya dapat kita temukan semacam acuan literatur sastra dasar pada fase akhir tiap jenjang (dini, dasar, menengah), atau minimal pada fase akhir jenjang menengah sebelum berlanjut ke pendidikan tinggi.
 
Apakah hal ini dapat kita ketemukan di dalam kurikulum bahasa dan sastra nasional? Atau lebih mengerucut, di dalam kerangka dasar Gerakan Literasi Nasional? Sebagai contoh kasus, negara macam Uganda (tidak tergabung Ranking PISA OECD atau juga Ranking Negara Terliterat) saja secara spesifik menyatakan bahwa peserta didik jenjang sekolah menengah atas saat lulus wajib mampu membaca The Merchant of Venice karya Shakespeare. Sementara itu berkaca kepada Amerika Serikat (Ranking PISA OECD 25, Ranking Negara Terliterat 7), khususnya Departemen Pendidikan California, laman daringnya secara khusus menyediakan katalog judul karya sastra berbasis umur, kelas, dan bahkan bahasa pengantar (mulai dari Rusia hingga Vietnam).
Refleksi paling kontekstual mungkin dapat mengacu kepada pengakuan wartawan-sastrawan Triyanto Triwikromo, bahwa saat beliau menginjak jenjang SPG 1 (setara SMU Kelas 1) beliau telah akrab dengan Pangeran Kecil karya Saint-Exupery, Metamorfosis karya Franz Kafka, dan Ziarah beserta Kering Iwan Simatupang.
Berkaca dari tulisan di atas, apabila gerakan literasi nasional memang hanya mengincar praktik-praktik dasar macam membaca bersama dan baru mampu membuat guru mengajak muridnya membaca kisah bahwa Majapahit bukan warisan Nusantara atau Marx adalah pencetus Kapitalisme, apa tidak lebih sangkil bahwa para intelektual literasi tekun teliti merancang acuan dasar literatur sastra yang perlu digunakan di dalam kurikulum bahasa Indonesia, daripada gembar-gembor memopulerkan gerakan literasi?

Dengan latar belakang pelaksanaan Gerakan Literasi Nasional sejak dua tahun ke belakang, seyogyanya kita naik kelas dan bukan hanya nyaman menikmati tataran membaca, namun juga mempertanyakan, menelaah, dan membingkai ulang alasan kita membaca suatu buku, dan syukur-syukur, literatur sastra.[]

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif