NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id (Satriwan Salim)

Satriwan Salim

Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia

Salah Kaprah Pembelajaran Online di Rumah

Pilar Pembelajaran Daring
Satriwan Salim • 24 Maret 2020 10:00
SEBAGAI Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), saya mendapatkan banyak keluhan dari para orang tua dan siswa. Mereka merasa terbebani dengan pembelajaran di rumah (home learning) yang sudah berjalan seminggu ini, karena kasus merebaknya virus covid-19.
 
Kebijakan belajar di rumah menjadi keputusan para kepala daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan daerah lain untuk menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang makin meluas.
 
Menjadi beban, sebab bukannya “pembelajaran” yang terbangun, melainkan tumpukan banyak tugas yang datangnya berbarengan tiap mata pelajaran di setiap harinya. Sekolah membuat jadwal mata pelajaran (mapel) secara khusus selama libur di rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Satu hari bisa terdiri dari tiga sampai empat mata pelajaran yang dipelajari secara online (daring). Bayangkan saja, guru di masing-masing pelajaran memberikan tugas tiap hari kepada siswa. Untuk SMA ada sekitar 14-16 mapel, SMP 10 mapel, belum lagi SD. Guru memberikan tugas tiap mapel secara daring tiap hari. Salahkah guru dalam mengelola pembelajaran daring?
 
Turut perintah
 
Tunggu dulu. Jujur saja mental guru kita adalah “turut perintah”. Guru turut perintah kepala sekolah. Kepala sekolah diperintah pengawas, di atasnya ada Dinas Pendidikan yang “berkuasa” atas guru dan sekolah-sekolah di daerah.
 
Para birokrat pendidikan ini tak mau tahu, yang penting sekolah membuat laporan kepada pengawas dan Dinas Pendidikan setiap hari selama musim “libur virus corona”. Bahwa para guru sudah memberikan tugas kepada siswa tiap hari. Agar mereka tak keluyuran kemana-mana. Securiga itukah kita ke anak didik?


Esensi belajar di rumah dengan metode daring (online learning) adalah guru berinteraksi dengan siswa seperti hari-hari biasa. Bedanya sekarang, interaksinya secara virtual.


Jadi semestinya tetap ada suasana diskusi, dialog, tanya jawab, kuis, dst. Bahkan guru tetap bisa menjelaskan materi pelajaran secara daring, misalnya via aplikasi Zoom, Google Meet, Live Instagram, live FB, skype, dan ragam lainnya.
 
Guru jangan selalu memberi tugas-tugas yang bertumpuk, tiap hari di tiap mapel. Lalu siswa dipantau, hadir daring atau tidak. Konsep daring seperti inilah yang menjadi beban bagi siswa dan orang tua.
 
Butuh kreativitas
 
Maka sebagai konsekuensi, memang dibutuhkan kreativitas guru dalam mengelola media berbasis teknologi informasi, termasuk media sosial. Ini adalah kunci. Lalu laptop, gawai (kebutuhan tetring jika tak ada jaringan wifi di rumah), dan jaringan internet (wifi) mesti tersedia.
 
Asumsinya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang semua guru dan siswa memilikinya. Jujur harus diakui, kebijakan belajar online memang tak ramah terhadap siswa dan guru yang belum memiliki perangkat seperti di atas.
 
Model home learning seperti itu direduksi menjadi: “Guru beri tugas ke siswa. Siswa kerjakan. Siswa dicatat hadir daring. Lalu sekolah lapor ke Dinas Pendidikan.”
 
Jika didalami baik-baik, fenomena tersebut sangat paradoks dengan jargon “Merdeka Belajar” ala Mas Nadiem. Bukan merdeka belajar namanya jika pimpinan sekolah dan Dinas Pendidikan terlalu ribet dengan administrasi pelaporan kehadiran siswa/guru, dan tugas apa yang guru berikan setiap hari.
 
Bukan merdeka belajar namanya jika pimpinan sekolah (kepala sekolah dan wakil kepala sekolah) plus guru terlalu rigid dalam mengelola pembelajaran selama kondisi darurat dan khusus begini. Wong keadaannya khusus kok, ya pendekatannya juga mesti khusus dan fleksibel.
 
Reaksi siswa
 
Terhadap itu semua bagaimana reaksi siswa? “Lebih baik sekolah normal biasa, Pak. Tugasnya ga numpuk-numpuk kayak gini!” Saya terhenyak mendengar curhatan para siswa.
 
Generasi Z itu ternyata merdeka bicara. Selintas saya teringat kembali ucapan pedagog Indonesia, Prof. Mochtar Buchori (1926-2011): “Guru itu mestinya menghamba kepada kemauan anak didik, bukan kemauan birokrasi.”
 
Walaupun guru di DKI Jakarta diasumsikan sudah memiliki ragam perangkat TIK, tapi persoalan kemudian adalah: Apakah mereka mampu menggunakan dan mengelola aplikasi sophisticated tersebut? Jawabnya, belum tentu. Maaf, rasa-rasanya ini persoalan laten guru generasi baby boomers atau guru generasi X awal.
 
Bagaimana dengan daerah lain, yang jaringan internet pun belum kuat, bahkan belum ada. Ditambah para siswa dan orang tua yang belum memiliki perangkat modern tersebut. Tentu metode pembelajaran daring bukan pilihan.
 
Penugasan yang fleksibel dan tugas terintegrasi, bisa saja dipilih. Yang dimaksud tugas terintegrasi misalnya gabungan beberapa mapel meminta siswa membuat karya bertemakan corona/covid-19. Waktunya 1-2 pekan. Sebagai pengganti belajar daring, cukup ringan bukan?
 
Bahan introspeksi
 
Sebagai bahan introspeksi, FSGI meminta para guru dan kepala sekolah untuk sekali-sekali. bertanya ke anak-anak kita. Bagaimana pendapat atau perasaan mereka terhadap metode daring yang sekarang sedang berjalan. Membuat mereka senang atau sebaliknya? Bagi mereka bermakna atau tidak?
 
Begawan pendidikan Prof. Conny Semiawan menyebut istilah “pembelajaran yang mengundang.” Mengundang antusiasme, semangat, kebahagiaan, dan menyenangkan bagi siswa. Apakah metode daring selama sepekan ini berhasil mencapai itu semua? Jawabnya tidak.
 
Anak merasa tertekan dengan metode daring yang esensinya sudah direduksi itu. Berarti kita sebagai guru telah gagal mengaktualisasikan filosofi merdeka belajar.
 
Ki Hajar Dewantara (1889-1959) jauh-jauh hari mengingatkan, esensi belajar adalah untuk membuat anak merdeka dan bahagia. Tapi banyak diantara birokrat pendidikan, kepala sekolah, bahkan guru yang sudah melupakan akar pendidikan kita.
 
Hasilnya, bukan pembelajaran menyenangkan (joyfull learning) dan bermakna (meaningful learning) yang dicapai. Salah kaprah pembelajaran online model begini mesti dihentikan. Patut dipikir ulang dan segera berbenah, karena waktu liburnya masih seminggu lagi.
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif