Nelly Sembiring, Child Protection Specialist Wahana Visi Indonesia
Nelly Sembiring, Child Protection Specialist Wahana Visi Indonesia (Nelly Siswaty Sembiring)

Nelly Siswaty Sembiring

Child Protection Specialist Wahana Visi Indonesia

Tantangan Orang Tua Menyelamatkan Anak dari Kekerasan Dunia Digital

Pilar Kekerasan Anak internet transformasi digital anak
Nelly Siswaty Sembiring • 18 April 2022 20:30
BELUM lama ini beberapa forum orang tua mengeluhkan Roblox yang ternyata memaparkan anak pada konten seksual. Meski menurut Roblox permainan digital yang diakses oleh berbagai lapisan umur ini sudah berupaya agar aplikasinya lebih ramah terhadap anak, mereka juga mengakui bahwa ada orang-orang yang secara intens terus berusaha memecahkan kode agar dapat menerobos aturan yang sudah dibuat itu.¹
 
Roblox hanyalah salah satu contoh. Di dunia maya ada banyak sekali permainan yang berpotensi
membuat anak terpapar pada konten negatif seperti kekerasan fisik, psikologis, seksual, hingga
kemungkinan penyebaran radikalisme.
 
Mempercayakan anak kita pada gawai yang telah dipasang parental guide tidak bisa lagi menjadi
satu-satunya solusi. Terbukti, banyak anak yang masih dapat terpapar konten kekerasan di aplikasi yang mengeklaim diri mereka sebagai ramah lingkungan atau ramah anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Lalu, bagaimana orang tua harus melindungi anaknya berselancar di dunia maya? Dunia maya di mana anak dan kita semua hidup adalah gambaran dari dunia nyata. Hanya saja,
karena letaknya berada tepat di genggaman, jadi tidak semua orang dapat melihat dengan mudah apa yang sedang terjadi di dalamnya.
 
Mari kita berandai-andai sedang bermain di taman dengan anak-anak. Cara orang tua melindungi dan memastikan anaknya dalam kondisi aman adalah dengan terus mengawasi gerak-geriknya agar tidak mendekati atau didekati bahaya.
 
Ketika ada orang tidak dikenal dan mencurigakan memberikan permen, orang tua bisa langsung mendekat dan melindungi anaknya, menjauhkan dari orang tersebut. Tetapi bayangkan hal tersebut terjadi di dunia maya. Bagaimana kita melindungi anak?
 
Pelaku kejahatan di dunia maya sering kali bersembunyi di balik identitas palsu. Mereka
mendaftarkan diri dengan mengaku berusia 13 tahun atau bahkan kurang, agar dapat berinteraksi dengan sesama usia tersebut secara leluasa.
 
Dengan memanfaatkan kepolosan anak, mereka mengambil keuntungan untuk melancarkan niat jahatnya. Pada orang dewasa, ketika menyadari dirinya menjadi korban, mereka bisa segera berhenti bermain dan mencari bantuan. Tetapi anak belum tentu dapat berpikir sejauh itu.
 
Bermacam aplikasi digital saat ini sudah menyerupai dunia nyata, dan sangat mungkin
dipersepsikan sebagai dunia nyata oleh anak-anak kita. Semakin jauh anak berada di dalamnya,
selain potensi menjadi antisosial di dunia nyata, ada banyak informasi yang dapat diakses anak di luar kontrol kita.
 

¹https://www.eurogamer.net/articles/2022-02-15-roblox-commits-to-ensuring-a-positive-and-safe-experience-
for-its users#:~:text=A%20new%20report%20from%20the,and%20engage%20in%20virtual%20sex.

 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif