Dewan Redaksi Media Group Gaudensius Suhardi/MI/Ebet
Dewan Redaksi Media Group Gaudensius Suhardi/MI/Ebet (Gaudensius Suhardi)

Gaudensius Suhardi

Anggota Dewan Redaksi Media Group

Segelintir Bikin Bising

Pilar Jokowi pemilu politik Podium Pemilu 2024
Gaudensius Suhardi • 04 April 2022 05:35
OBROLAN di warung kopi dengan seorang teman tiba-tiba serius. Ia bertanya, “Mengapa masih ada elite negeri ini yang menampar muka Presiden Joko Widodo?”
 
Saya pun terperanjat. Saya menimpali dia dengan bercanda. “Bro, apakah di pipi Presiden terlihat tanda merah bekas gambar tangan? Jangan-jangan dirimu bernostalgia lagu Hati yang Luka.”
 
Lagu ciptaan Obbie Messakh melukiskan kekerasan domestik. Syairnya puitis kali, ‘Lihat lah tanda merah di pipi bekas gambar tanganmu. Sering kau lakukan bila kau marah menutupi salahmu’.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Bersuara lirih, teman itu menjelaskan bahwa Presiden Jokowi pada 2 Desember 2019 menolak usulan masa jabatan presiden tiga periode. Mengapa selama tiga tahun ini usulan perpanjangan masa jabatan itu malah kian kencang dikumandangkan? Kata Jokowi saat itu, usulan itu ada tiga. “Satu, ingin menampar muka saya. Yang kedua, ingin cari muka, padahal saya sudah punya muka. Yang ketiga, ingin menjerumuskan. Itu saja. Ini yang sejak awal saya sampaikan,” ucap Presiden Jokowi.
 
Intonasi suara teman saya mulai meninggi. “Bukan kah usulan penundaan pemilu dan memperpanjang masa jabatan presiden, hakikatnya ingin menampar muka Jokowi? Mengapa Jokowi tidak menindak anak buahnya yang doyan kasak-kusuk untuk menunda pemilu dan memperpanjang masa jabatan presiden?”
 
Baca:Soal 3 Periode, Presiden: Kita Harus Taat Konstitusi
 
Dalam hati saya membenarkan pernyataan teman saya. Jika Jokowi risih dengan ulah anak buahnya tentu ia mencopot, minimal menegur anak buahnya. Saya buru-buru buang ke laut dugaan ikut menikmati situasi saat ini. Tidak ada basis argumentasinya. Bukan kah ada pepatah kerbau dipegang tali hidungnya, manusia dipegang pada katanya? Saya kukuh memegang kata-kata Jokowi.
 
Menjawab pertanyaan teman itu, saya mengutip artikel Prof Budiono Kusumohamidjojo berjudul Ketertiban yang Adil versus Ketidakadilan: Bebas Sosial-Ekonomi yang Historis dari Hukum.
 
Kata Kusumohamidjojo, di segala zaman dan tempat, memang selalu terdapat segelintir orang yang seperti dilahirkan dengan bakat-bakat untuk selalu lekat dengan kekuasaan politik.
 
Padahal, lanjut Kusumohamidjojo mengutip Hannah Arendt, kekuasaan politik selalu digoda oleh dorongan untuk menjadi tidak rasional, karena bagaimanapun juga kekuasaan itu selalu merupakan hasrat untuk menguasai, baik dengan cara dan tujuan yang “baik” maupun dengan cara dan tujuan yang “tidak baik”.

 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif