Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Dok pribadi
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Dok pribadi (Lestari Moerdijat)

Lestari Moerdijat

Lestari Moerdijat

Refleksi Akhir Tahun 2021

Menyelisik Indonesia

Pilar ruu prt covid-19 pandemi covid-19 kekerasan seksual Lestari Moerdijat RUU TPKS Kaleidoskop 2021
Lestari Moerdijat • 01 Januari 2022 00:03
Kita tiba di penghujung tahun. Panta rhei kai uden menei, semua mengalir tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap. Tahun 2021 kita alami ragam pengalaman. Ada yang tersimpan sebagai penyemangat, ada pula yang jadi pembelajaran. Akhir tahun menjadi momen untuk merefleksi diri, sebagai individu dan bangsa Indonesia. Menjadi pribadi maupun bangsa yang terus membarui diri, sikap ugahari menjadi titik berangkat. Keugaharian menjadi prasyarat mengetahui diri sendiri, mampu memeriksa diri terkait apa yang diketahui dan yang tidak diketahui. Mampu menyelami diri untuk berbenah, memperbaiki kekurangan, menata potensi diri, untuk menatap kenyataan hidup.
 
Pandemi memberi pelajaran berharga. Bahwa kebersamaan dan persatuan kesatuan patut diandalkan dalam menghadapi tantangan bangsa. Tak dapat ditolak, sejumlah pekerjaan rumah tersisa lintas sektor yang mendesak untuk segera dituntaskan.
 
Tahun 2021 adalah tahun kedua pandemi. Meski secara umum manusia sudah lebih siap dari tahun sebelumnya, kematian dan pertumbuhan jumlah kasus belum bisa ditanggulangi. Secara agregat, jumlah kematian pada 2020 mencapai 1,9 juta orang di seluruh dunia, sedangkan pada 2021 jumlahnya mencapai 3,5 juta orang. Artinya, angka kematian pada 2021 hampir dua kali lipat lebih banyak ketimbang 2020. Salah satu sebab meningkatnya angka kematian sepanjang 2021 adalah karena terjadinya gelombang kedua pada bulan Juni-Juli dan munculnya beberapa varian virus baru. Pandemi belum berlalu, bahaya belum usai. Pola hidup manusia belum banyak berubah dengan tuntutan adaptasi pada kenormalan baru. Ungkapan terima kasih berlimpah kepada paramedis sebagai garda terdepan yang tak lelah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat terdampak. Terus mengingatkan agar menaati protokol kesehatan sehingga masyarakat tergerak untuk tetap saling menjaga. Vaksinasi berhasil mengatasi lonjakan kasus dan menekan angka kematian. Namun, kekhawatiran akan munculnya varian-varian baru bakal menjadi beban tambahan yang harus diantisipasi. Tidak semua negara mampu melaksanakan program vaksinasi. Indonesia baru mampu menyuntikkan vaksin sebesar 53 persen kepada warganya. Selama mayoritas masyarakat belum divaksin, selama itu pula kita hidup dalam kekhawatiran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Baca: Kaleidoskop 2021: Meski Tertekan, Sektor UMKM Paling Tahan Banting Memang, pandemi covid-19 telah memporak-porandakan perekonomian bangsa. Dampaknya tak terkira, pengangguran dan kemiskinan meningkat. Selain itu, defisit neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan dan defisit neraca pembayaran berdampak pada meningkatnya utang pemerintah. Pengalaman kejatuhan Orba dimulai dari krisis ekonomi yang merambat kemana-mana. Tahun mendatang akan menjadi ujian berat tetapi diperlukan rasa optimis menyaksikan pemerintah mengambil kebijakan baik penanggulangan penyebaran wabah, vaksinasi dan stimulus pemulihan ekonomi menjadi segumpal harap di tengah krisis.
 
Apresiasi kepada pemerintah yang terus berupaya mengendalikan pergerakan masyarakat. Melalui ragam kebijakan pengendalian senantiasa mengupayakan yang terbaik. Memaksimalkan pelayanan kesehatan, memperbaiki tata kelola dan sistem pelayanan kesehatan mesti menjadi perhatian menyongsong pergantian tahun. Kita tentu tak ingin berkutat pada persoalan yang sama di setiap pergantian waktu. Partisipasi dan kerja sama masyarakat diharapkan untuk mencegah penyebaran wabah sekaligus bergotong-royong mempertahankan kehidupan. Mempertahankan kehidupan berarti melakukan yang terbaik untuk hidup yang lebih damai. Hidup yang menyenangkan, penuh dengan rasa hormat pada integritas dan martabat manusia.
 
Pada kenyataannya, masih terjadi ragam kekerasan karena perbedaan ideologi atau konflik sosial, konflik kepentingan dengan titik akhir marjinalisasi. Di titik ini kebijakan inklusif adalah jawaban untuk mengakomodir seluruh anak bangsa tanpa membedakan atas dasar kemampuan atau gender. Para sahabat difabel sering dilihat sebagai kelompok berkebutuhan khusus sejatinya ketika persepsi diletakkan pada kemampuan berkontribusi, maka para sahabat difabel memiliki kemampuan yang dapat dioptimalkan untuk menyelesaikan ragam persoalan sosial. Bahwa keterbatasan fisik merupakan cara mendobrak kenormalan, memperkaya persepsi berpikir dan bekerja.

 
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif