Menurut Stella, kemampuan menulis, berpikir, dan menganalisis tidak bisa begitu saja digantikan oleh AI. Justru proses tersebut penting agar siswa memiliki kemampuan untuk menilai kualitas sebuah karya.
"Kalau siswanya tidak pernah menulis sendiri, membuat karangan sendiri, bagaimana bisa tahu karangan mana yang bagus atau tidak, kata Stella dalam siaran Bersama Indonesia di Metro TV, dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
| Baca juga: Kuliah Sejak Usia 10 Tahun! Ini Profil Nathan Thomas yang Sah Jadi Profesor Termuda di Dunia pada Usia 18 tahun |
Stella mengibaratkan kondisi tersebut dengan kemungkinan mengganti otak manusia dengan ChatGPT. Dalam forum tersebut, Stella pun bertanya apakah ada yang ingin mengganti otaknya dengan AI.
"Kalau saat ini saya bilang dengan ada kesempatan untuk menggantikan otak anak Anda atau otak siswa Anda dengan ChatGPT. ChatGPT-nya bisa diimplan, mau atau tidak?" kata Stella.
Semua penonton menjawab tidak ada yang ingin otaknya digantikan AI. Stella kemudian menjelaskan bahwa meskipun kemampuan AI dapat menghasilkan jawaban dengan sangat baik, manusia tetap menghargai proses untuk membangun kemampuan berpikir.
"Jadi yang harus kita lakukan di pendidikan kita, apa pun jenjangnya, itu adalah proses," kata Stella.
Hal serupa terjadi dalam penelitian. Mahasiswa yang tidak pernah memikirkan pertanyaan riset sendiri akan kesulitan menentukan apakah pertanyaan tersebut sudah tepat.
Menurut Stella, AI tetap dapat digunakan dalam pendidikan. Namun, teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat yang membantu proses, bukan menggantikan proses belajar.
"Itulah jadi kembali lagi, kita bisa menggunakan alat apa pun termasuk AI-nya, tapi kita harus berproses," tegas Stella.
| Baca juga: 20 PTNBH dengan Nilai Kekayaan Awal Terbesar, Ternyata Bukan UI dan UGM Lho! |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda