Pelajar LSBA. Dok. LSBA
Pelajar LSBA. Dok. LSBA

Anak Berkebutuhan Khusus Tak Bisa Diajar dengan Cara yang Sama, Ini 3 Tipsnya

Muhammad Syahrul Ramadhan • 15 Agustus 2026 20:52
Ringkasnya gini..
  • Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan dan ritme perkembangan yang berbeda.
  • Fun learning, metode auditori-visual, dan lingkungan pertemanan menjadi tiga pendekatan yang dapat mendukung proses belajar anak berkebutuhan khusus.
  • Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus perlu dilanjutkan dengan keterampilan vokasional, pengalaman kerja, dan kewirausahaan.
Jakarta: Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya memberikan akses untuk bersekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, mereka juga membutuhkan keterampilan, kemampuan sosial, hingga pengalaman kerja agar dapat tumbuh mandiri.
 
Kondisi tersebut menjadi perhatian London School Beyond Academy (LSBA) yang membuka layanan pendidikan vokasional di Bekasi. Program tersebut dirancang untuk membantu individu berkebutuhan khusus mengembangkan kemampuan sesuai potensi masing-masing.
 
Data Referensi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 12 Agustus 2026 mencatat terdapat 1.415 peserta didik berkebutuhan khusus di Kota Bekasi. Sementara itu, data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat per 29 Juni 2026 mencatat terdapat 14 Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Bekasi, terdiri atas dua SLB negeri dan 12 SLB swasta.

Founder & CEO LSPR Institute Prita Kemal Gani mengatakan setiap anak berkebutuhan khusus memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, metode pembelajaran tidak dapat diseragamkan.
 
"Setiap individu memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan yang berbeda," ujar Prita dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.
 
Baca juga: 
 
 

 
Menurut Prita, pendekatan tersebut juga diterapkan LSBA melalui aspek pedagogikal, teknologikal, dan emosional. Program pendidikan dibuat agar sesuai dengan kebutuhan peserta, bukan sekadar membuat anak mengikuti sistem yang sudah ada.
 
Lantas, bagaimana pendekatan yang dapat diterapkan dalam mengajar anak berkebutuhan khusus? Berikut Tipsnya: 


3 Tips Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus


Terapkan Fun Learning dan Ikuti Pace Anak
 
Prita mengatakan proses pembelajaran perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Guru juga perlu mengikuti ritme atau pace masing-masing anak.
 
Anak tidak harus dipaksa mengikuti tempo pembelajaran yang sama dengan peserta didik lainnya. Namun, pendekatan tersebut bukan berarti pembelajaran tidak memiliki target.
 
"Kalau nggak mau, nggak apa-apa, tapi harus selesai, harus bisa, harus ada goal-nya," kata Prita.
 
Dengan pendekatan tersebut, anak tetap mendapatkan ruang untuk belajar sesuai kemampuannya. Sekaligus memiliki target perkembangan yang ingin dicapai.
 
Hal ini sejalan dengan pendekatan LSBA yang memberikan pembelajaran praktik sesuai kemampuan peserta. Direktur LSBA Chrisdina mengatakan setiap individu memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan yang berbeda.
 
"Kami ingin mereka tidak hanya memiliki keterampilan vokasional, tetapi juga kemampuan komunikasi, sosial, disiplin, tanggung jawab, serta kepercayaan diri untuk menjadi lebih mandiri," ujar Chrisdina.
 
Gunakan Metode Auditori dan Visual
 
Cara anak menerima informasi juga perlu menjadi perhatian. Prita menyebut LSBA menggunakan metode auditori dan visual teaching dalam proses pembelajaran.
 
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan masing-masing anak. Menurut Prita, setiap anak memiliki cara perkembangan yang berbeda sehingga perlu diberikan kesempatan untuk menemukan metode belajar yang sesuai.
 
Bangun Pertemanan dan Lingkungan Sosial
 
Pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus juga tidak berhenti pada kemampuan akademik. Lingkungan pertemanan dan kesempatan berinteraksi menjadi bagian penting dalam proses perkembangan.
 
Prita mengatakan LSBA sengaja berada dalam lingkungan kampus bersama mahasiswa dari program studi lain. Anak-anak berkebutuhan khusus didorong untuk berteman dan berinteraksi dengan mahasiswa lainnya.
 
"Pertemanan itu penting sekali, melihat temannya terus kemudian semangat dari teman-teman itu sangat penting sekali," ujarnya.
 
Menurut Prita, interaksi tersebut memberikan kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Di sisi lain, mahasiswa lain juga belajar memahami serta berinteraksi dengan teman berkebutuhan khusus.
 
"Karena mereka juga harus belajar ya, bahwa kalau nanti mereka kerja, sometimes they have to deal with difficult people atau ada masalah yang nggak ada solusinya," jelas Prita.
 
Baca juga: 123 Siswa Berkebutuhan Khusus Unjuk Bakat di O2SN Diksus 2025  

 
Selain pendekatan pembelajaran, LSBA juga membekali peserta dengan keterampilan vokasional. Di LSBA Bekasi terdapat empat bidang pembelajaran, yakni tata boga, kriya, administrasi perkantoran, serta digital desain dan cetak.
 
Peserta menjalani enam semester pembelajaran yang dilanjutkan dengan dua semester pelatihan kerja. Bagi peserta yang dinilai siap, LSBA juga membuka kesempatan magang bersama sejumlah perusahaan dan institusi.
 
Prita mengatakan kemandirian anak berkebutuhan khusus tidak harus dibangun melalui satu jalur yang sama. Sebagian dapat berkembang melalui dunia kerja, sementara yang lain dapat menemukan potensi melalui kewirausahaan.
 
"Kemandirian tidak berarti setiap orang harus menempuh jalan yang sama. Ada yang dapat berkembang melalui dunia kerja, ada pula yang menemukan potensinya melalui kewirausahaan," kata Prita.
 
Karena itu, menurut dia, yang terpenting adalah menyediakan pendidikan, kesempatan, dan lingkungan yang memungkinkan setiap individu berkebutuhan khusus mengembangkan kemampuan terbaiknya. "Setiap progres setiap anak pasti berbeda," ujarnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan