Ilustrasi. Foto Pexels.com
Ilustrasi. Foto Pexels.com

AI Bisa Ambil Alih Proses Berpikir, Apa Dampaknya Bagi Otak Gen-Z?

Ilham Pratama Putra • 10 September 2026 18:40
Ringkasnya gini..
  • AI dapat membantu menjawab pertanyaan dan pekerjaan yang bersifat repetitif.
  • Proses berpikir dan belajar tetap penting untuk mengembangkan fungsi kognitif manusia.
  • Generasi muda ditantang menggunakan AI tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi.
Jakarta: Kecerdasan buatan atau artificial Intelligence (AI) menawarkan kemudahan bagi generasi muda dalam mencari informasi, menyelesaikan pekerjaan, hingga menjawab berbagai pertanyaan. Namun, di balik kemudahan itu, apakah ada pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir generasi muda?

Rektor Universitas Katolik Indonesia  Atma Jaya, Yuda Turana mengatakan proses berpikir dan belajar manusia berkaitan dengan perkembangan fungsi otak. Karena itu, penggunaan teknologi yang terlalu mengambil alih proses tersebut perlu menjadi perhatian dalam pendidikan.

"Ketika kita memacu otak kita untuk berpikir, belajar, sebenarnya yang terjadi adalah konteks dalam pengembangan fungsi otak kita, lantas dengan AI proses itu bisa jadi terlewatkan," ujar Yuda dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis 10 September 2026. 

Menurut dia, tantangan tersebut terutama akan dihadapi generasi muda yang tumbuh ketika AI semakin mudah digunakan. Berbeda dengan generasi yang sudah lebih dulu terbiasa belajar tanpa teknologi AI, generasi setelahnya akan berhadapan dengan AI sejak awal proses pendidikan.

Yuda menilai mahasiswa hari ini tetap perlu mendapatkan ruang untuk melakukan proses berpikir sendiri. AI dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi tidak semestinya menggantikan seluruh proses kognitif yang diperlukan untuk memahami persoalan.

Ia mencontohkan kemampuan AI dalam menangani pertanyaan yang sifatnya repetitif. Namun, menurutnya, ada jenis pertanyaan yang belum memiliki jawaban sehingga tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk menganalisis dan mencari solusi.

"Kalian hanya diberikan tools, bisa menjawab pertanyaan yang repetitif tetapi tidak bisa menjawab pertanyaan yang belum bisa dijawab," ujarnya.

Persoalan ini juga menjadi perhatian Anggota Dewan Guru Besar Atma Jaya Selvie Sinaga. Ia mengatakan perkembangan teknologi seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa jauh manusia mampu mengikutinya, tetapi juga dari manusia seperti apa yang terbentuk setelah teknologi digunakan.

"Ketika teknologi semakin mampu mengambil berbagai pekerjaan dan proses yang sebelumnya dilakukan manusia, apa yang tetap membuat manusia menjadi manusia?" kata Selvie.

Pertanyaan tersebut menjadi relevan di lingkungan kampus karena mahasiswa merupakan kelompok yang paling banyak berhadapan dengan teknologi dalam proses belajar. Kemudahan mendapatkan jawaban melalui AI perlu diimbangi dengan kemampuan untuk mempertanyakan, memeriksa, dan memahami informasi.

Sementara itu, Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan perguruan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi teknis. Kampus juga harus membantu mahasiswa membangun kemampuan berpikir dan refleksi agar AI menjadi alat yang memperkuat manusia, bukan menggantikannya.

"Penting untuk generasi saat ini ya proses berpikir dan belajar tetap penting untuk mengembangkan fungsi otak manusia," tutup Nezar. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan