Remaja main hp. DOK Magnific
Remaja main hp. DOK Magnific

Hasil Pisa 2025: Gara-gara Gadget, Kemampuan Membaca Remaja Sedunia Turun ke Titik Terendah

Renatha Swasty • 10 September 2026 14:39
Ringkasnya gini..
  • Hasil tes PISA OECD mengungkap skor membaca, matematika, dan sains remaja berada pada level terendah sejak tahun 2000.
  • OECD mencatat meningkatnya screen time dan kurangnya minat baca menjadi penyebab utama penurunan kemampuan membaca.
  • Penggunaan perangkat digital lebih dari 5 jam sehari serta penggunaan AI untuk tugas sekolah berdampak pada penurunan skor belajar.
Jakarta: Remaja masa kini tercatat memiliki kemampuan membaca pada level terburuk dalam abad ini yang turut mendorong penurunan capaian pendidikan. Hal itu terungkap dalam survei yang digelar The Organisation for Economic Co-operation and Development’s (OECD). 

Melansir straitstimes.com, survei OECD pada 2025 terhadap 760.000 pelajar berusia 15 tahun di 91 negara menunjukkan skor membaca, matematika, dan sains berada pada level terendah sejak pengumpulan data dimulai pada tahun 2000.

Menurut hasil terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) milik OECD yang dirilis pada 8 September, secara rata-rata, para pelajar membaca pada level yang di masa lalu biasanya dicapai oleh pelajar yang usianya satu tahun lebih muda. 

Skor tertinggi membaca pada indeks PISA yang mencapai 501 pada 2012 menurun menjadi 466 pada 2025. Tes ini secara luas dianggap sebagai indikator utama dunia untuk mengukur capaian pendidikan, dan hasilnya selalu dicermati secara saksama oleh pemerintah maupun kalangan pendidik.

“Dalam hal membaca, semakin banyak waktu yang dihabiskan di depan layar dan semakin sedikit membaca untuk kesenangan, ternyata berjalan beriringan dengan hasil yang lebih lemah,” kata Kepala OECD, Mathias Cormann, dikutip Kamis, 10 September 2026. 

“Kami juga melihat semakin banyak pelajar membaca secara tergesa-gesa, buru-buru menyelesaikan sebuah teks lalu memberikan jawaban yang salah,” tutur dia.

Studi tersebut juga mencatat penurunan skor membaca justru lebih tajam terjadi pada pelajar dari latar belakang keluarga yang lebih mampu secara ekonomi. Kemampuan rata-rata remaja dalam bidang sains dan matematika juga berada pada titik terendah pada abad ini. 
 
Skor sains turun dari titik tertinggi 506 pada 2009 menjadi 486, sementara matematika turun dari 502 menjadi 469 pada periode yang sama. Asia Timur menjadi kawasan dengan capaian terbaik.

Kota-kota di China yang berpartisipasi dalam tes ini, bersama Jepang, Korea, Singapura, dan Taiwan, memiliki sistem pendidikan terbaik. Inggris dan Estonia menjadi satu-satunya negara di luar kawasan tersebut yang berhasil masuk 10 besar dalam bidang membaca, matematika, dan sains.

Laporan ini tidak sampai merekomendasikan larangan penggunaan ponsel pintar di sekolah. Namun, laporan tersebut menyebutkan gangguan digital berkaitan dengan rendahnya skor sains di 59 dari 82 sistem pendidikan yang diteliti. 

Satu dari empat pelajar mengaku perangkat digital mengganggu teman sekelas mereka saat pelajaran sains berlangsung.

OECD menyebutkan para pelajar melaporkan menghabiskan rata-rata 3,4 jam per hari kerja untuk keperluan hiburan menggunakan perangkat digital di negara-negara anggota OECD, ditambah sekitar 3 jam per hari kerja lainnya di kelas maupun di rumah untuk keperluan belajar.

Cormann mengatakan perangkat digital sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan proses belajar, tetapi hanya sampai batas tertentu. Apabila digunakan lebih dari lima jam sehari, hasil belajar justru mulai menurun.

Studi ini juga menemukan hampir separuh pelajar rutin menggunakan chatbot kecerdasan buatan (AI) untuk belajar. Namun, mereka yang menggunakannya untuk menulis esai, meringkas teks, dan mencari informasi tentang suatu topik, secara umum memperoleh skor sekitar 20 poin lebih rendah dalam sains, setara dengan ketertinggalan belajar selama satu tahun.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan