Spesies baru tersebut diberi nama Swiftiephylus, yang menggabungkan istilah Swiftie atau sebutan untuk penggemar Taylor Swift dengan Phylus atau nama umum untuk kelompok serangga ini. Penemuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Insect Systematics and Evolution.
Dalam penemuan ini, tercatat ada 12 spesies baru serangga yang berhasil dideskripsikan, empat di antaranya berada di bawah genus Swiftiephylus dengan nama spesies yang terinspirasi langsung dari nama sang penyanyi serta album-album hit miliknya:
- Swiftiephylus taylorae yang diambil dari nama Taylor
- Swiftiephylus amator merupakan versi Latin dari album Lover
- Swiftiephylus intrepidus merupakan versi Latin dari album Fearless
- Swiftiephylus poetorum merupakan versi Latin dari album The Tortured Poets Department
swiftiephylus taylorae. DOK UC Riverside
Fitur Khas dan Identitas Visual
Serangga dalam genus baru ini merupakan bagian dari famili Miridae, yaitu famili 'kutu sejati' (true bugs) terbesar di dunia yang mencakup lebih dari 11.000 spesies. Meski mengonsumsi bagian dari tanaman, serangga ini dipastikan tidak berbahaya dan bukan merupakan hama bagi manusia maupun hewan.Spesies Swiftiephylus diketahui hidup menetap pada pohon she-oak khas Australia, mulai dari menetas, dewasa, hingga bertelur. Salah satu alasan utama di balik penamaan ini adalah kemiripan visual antara serangga tersebut dengan penampilan ikonik sang musisi.
“Tampilan ikonik Taylor Swift adalah rambut pirang dan bibir merahnya. Serangga ini memiliki warna kuning pucat dengan sentuhan aksen merah di seluruh tubuhnya,” ungkap mahasiswa doktoral entomologi di UC Riverside sekaligus penulis utama studi tersebut, Sarah Schroeder, dikutip dari laman news.ucr.edu, Senin, 14 September 2026.
Pola warna kuning dan merah ini berfungsi sebagai kamuflase alami agar serangga dapat berbaur di antara struktur bunga pohon she-oak yang berwarna merah jingga.
Perjalanan Panjang dan Misi Konservasi
Meski baru resmi dideskripsikan, spesimen serangga ini sebenarnya telah dikumpulkan puluhan tahun lalu, yaitu antara tahun 1995 hingga 2004, dalam proyek keanekaragaman hayati berskala besar yang melibatkan American Museum of Natural History dan peneliti Australia. Proyek tersebut mengumpulkan lebih dari 50.000 spesimen yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diteliti dan diklasifikasikan.Schroeder bersama pembimbingnya, Christiane Weirauch, meneliti 593 spesimen museum sebelum akhirnya mengonfirmasi penemuan spesies baru ini. Schroeder menegaskan bahwa penamaan spesies dari nama figur publik memiliki tujuan besar bagi dunia sains.
“Taksonomi adalah fondasi dari konservasi. Jika kita tidak mendeskripsikan suatu spesies, kita tidak akan tahu mereka ada dan tidak bisa melindunginya. Dedikasi ini adalah cara untuk menghormati ilmu konservasi dan menarik perhatian publik pada keanekaragaman hayati yang belum terungkap,” jelas Schroeder. (Talitha Islamey)
