Kunci tempe naik kelas salah satunya ada pada ragi. Peneliti perguruan tinggi kini didorong untuk mengembangkan ragi tempe dengan memanfaatkan keragaman mikroorganisme Indonesia.
Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas produksi tempe. Tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan industri tempe kelas ekspor.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan pengembangan tempe membutuhkan keterhubungan antara riset kampus dan industri. Hasil penelitian, menurutnya, perlu didorong hingga menjadi produk yang benar-benar memiliki nilai ekonomi.
“Tempe yang selama ini dikenal sebagai makanan rakyat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi melalui riset, inovasi pengemasan, serta pengembangan industri. Kita tinggal mencari off-taker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor,” kata Fauzan dalam diskusi “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu, 2 September 2026.
Baca juga:
Pendaftaran Young Researcher Award 2026 Dibuka! Tren Pendaftar Terus Meroket |
Fauzan mengatakan pengembangan tersebut sejalan dengan konsep Dikti Saintek Berdampak. Melalui konsep ini, hasil riset perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat dan memberikan dampak ekonomi.
Salah satu riset yang tengah dikembangkan berasal dari tim Universitas Indonesia (UI) melalui Program Bestari Saintek dengan pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tim peneliti mengembangkan ragi tempe menggunakan kombinasi beberapa spesies Rhizopus.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan living lab. Artinya, inovasi tidak hanya diuji dalam kondisi laboratorium, tetapi juga dalam kondisi nyata dengan melibatkan umpan balik dari pengguna selama proses pengembangan.
Periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI, Wellyzar Sjamsuridzal, mengatakan pengembangan ragi juga berkaitan dengan upaya mengenali dan memanfaatkan biodiversitas mikroba Indonesia. Ia menegaskan ragi tempe memang menjadi bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan.
"Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Wellyzar, kondisi lingkungan menjadi salah satu tantangan dalam produksi tempe. Suhu dan kelembapan dapat memengaruhi proses fermentasi sehingga diperlukan ragi yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.
"Pengembangan ragi tersebut diharapkan dapat membantu menghasilkan proses produksi yang lebih stabil," imbuhnya.
Namun, inovasi tidak akan berdampak luas jika hanya berhenti di laboratorium. Karena itu, FKS Group dilibatkan sebagai mitra untuk membawa hasil riset tersebut menuju skala pilot hingga industri.
VP Commercial FKS Group Danar Samron mengatakan proses hilirisasi membutuhkan sejumlah tahapan sebelum inovasi dapat diproduksi secara luas. Proses itu mencakup pengujian, standardisasi, kesiapan produksi, keamanan pangan, hingga keberlanjutan pasokan.
Selain persoalan teknologi, pengembangan ragi juga menyentuh kekayaan budaya pangan Indonesia. Pakar gastronomi dan chef Wira Hardiyansyah mengatakan keragaman ragi dan praktik fermentasi merupakan bagian dari identitas kuliner Nusantara yang perlu dijaga sekaligus dikembangkan.
Dengan mempertemukan peneliti, industri, dan pemerintah, pengembangan ragi Nusantara diharapkan menjadi contoh bagaimana biodiversitas Indonesia dapat diolah melalui sains dan teknologi menjadi inovasi pangan bernilai tambah. Jika hilirisasi berjalan, tempe tidak hanya dipertahankan sebagai pangan sehari-hari.
"Jika riset ini berjalan dan terus berkembang produk fermentasi yang lekat dengan masyarakat Indonesia itu berpeluang dikembangkan menjadi komoditas yang memiliki daya saing di pasar global," tutup Wira.