Hasil survei itu diungkap Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. Sebanyak 44,5 persen responden menilai perguruan tinggi Indonesia saat ini lebih mengutamakan kuantitas, sedangkan kualitas hanya 30 persen dan keterjangkauan 25,5 persen.
"Apa hasil survei dari segitiga kita? Ternyata kalian semua bilang, pada saat ini perguruan tinggi kita itu lebih banyak menitikberatkan kepada kuantitas, 44,5 persen, dan kualitasnya masih agak kurang (sebesar 30 persen), dan keterjangkauannya juga masih kurang (sebesar 25,5 persen)," ungkap Stella dalam Instagram @prof.stellachristie, dikutip Selasa, 3 November 2026.
Stella menjelaskan angka tersebut menunjukkan kuantitas masih menjadi aspek yang paling diutamakan perguruan tinggi Indonesia. Sementara itu, kualitas dan keterjangkauan dinilai belum mendapatkan perhatian sebesar kuantitas.
Kualitas Jadi Prioritas Masyarakat
Berbeda dengan penilaian terhadap kondisi saat ini, mayoritas responden ingin perguruan tinggi lebih mengutamakan kualitas. Sebanyak 55,6 persen responden memilih kualitas sebagai prioritas, disusul keterjangkauan 30,5 persen dan kuantitas 13,9 persen.
"Dan begitu kita tanya, 'Mau ke mana kita arahnya?', semuanya bilang kita ingin ke kualitas, meningkatkan ke kualitas 55,6 persen, dan keterjangkauan yang paling penting (sebesar 30,5 persen), kuantitas nanti dulu (sebesar 13,9 persen)," kata Stella.
Stella menuturkan hasil itu menunjukkan masyarakat menginginkan peningkatan kualitas dan keterjangkauan pendidikan tinggi. Bahkan, sejumah netizen membandingkan arah itu dengan pola pengembangan pendidikan tinggi di Tiongkok.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisainstek), Stella Christie. DOK Instagram @prof.stellachristie
Pola Sama di Kalangan Mahasiswa hingga Masyarakat
Survei 3K diikuti 2.276 responden yang terdiri atas 988 mahasiswa, 547 dosen dan tenaga kependidikan (tendik), serta 741 masyarakat umum. Stella mengatakan ketiga kelompok tersebut menunjukkan pola penilaian yang sama, baik terhadap kondisi perguruan tinggi saat ini maupun arah yang diharapkan.
"Para netizen bilang bahwa ini kita lebih ingin seperti polanya Tiongkok. 2.276 orang mengisi, dan kita lihat apakah polanya sama antara mahasiswa, dosen, maupun masyarakat umum? Ternyata, bisa lihat ya, persis sama polanya," ujar Stella
Kesamaan pola juga ditemukan berdasarkan wilayah tempat tinggal responden. Survei melibatkan 1.754 responden dari perkotaan dan 522 responden dari pedesaan.
Baca Juga :
Mengejutkan! Riset KONEKIN Ungkap Disabilitas Bandung Lebih Mahir Bahasa Inggris Ketimbang Bali
PTN Gratis dan Dana Riset
Stella mengaitkan hasil survei itu dengan upaya pemerintah meningkatkan keterjangkauan pendidikan tinggi. Dia mengatakan rencana penggratisan perguruan tinggi negeri (PTN) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu bentuk upaya tersebut.
"Sudah dicanangkan Bapak Presiden, perguruan tinggi negeri akan gratis, itu adalah bentuk keterjangkauan. Dan juga sudah terlaksana ya menuju ke arah kualitas seperti yang diinginkan oleh para responden," tutur Stella.
Selain keterjangkauan, Stella menyoroti peningkatan pendanaan penelitian untuk memperkuat kualitas perguruan tinggi. Dia menjelaskan Presiden menginvestasikan Rp20 triliun pada tahun ini khusus untuk dana abadi penelitian.
Stella menilai riset di perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas kampus. Ia pun berterima kasih kepada masyarakat yang telah mengisi survei dan menyatakan pemerintah akan terus meminta pendapat publik dalam merumuskan kebijakan pendidikan tinggi.
Sebelumnya, Stella membuka survei 3K pada 27 Oktober 2026 untuk menjaring pandangan masyarakat mengenai arah perguruan tinggi Indonesia. Survei dapat diakses melalui link.kemdiktisaintek.go.id/survey-3k.