Fakta mengejutkan ini diungkapkan oleh CEO Koneksi Indonesia Inklusif (KONEKIN), Marthella Rivera Roidatua, dalam Dissemination Workshop bertajuk Exploring the English Language Needs of Marginalised Youth in Indonesia di Bandung pada Kamis, 5 Maret 2026.
Banyak orang berasumsi tinggal di kota wisata seperti Bali otomatis membuat seseorang lebih fasih berbahasa Inggris. Namun, fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya, khususnya bagi penyandang disabilitas.
Marthella mengungkapkan meski penyandang disabilitas di Bali bekerja di kafe dan restoran yang setiap hari dikunjungi turis asing, interaksi yang terjadi ternyata sangat terbatas.
"Meskipun tiap hari ada wisatawan asing, tapi mereka yang bahkan bekerja sebagai chef, sebagai pramusaji, di kafe-kafe yang tiap hari ada orang bulenya, itu pun pada akhirnya cuma menunjuk menu," ujar Marthella kepada Medcom.id di Hotel Hilton, Bandung, Kamis, 5 Maret 2026.
Kondisi ini diperparah oleh lemahnya kualitas pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah luar biasa (SLB) Bali. Berdasarkan hasil focus group discussion (FGD) bersama guru-guru SLB setempat, ditemukan fakta kebanyakan pengajar bahasa Inggris di sana tidak berlatar belakang pendidikan bahasa Inggris.
Alhasil, guru masih kebingungan sendiri saat harus mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa dengan berbagai keterbatasan. Kondisi berbeda justru ditemukan di Bandung.
Marthella menyebut dukungan komunitas dan kampus menjadi faktor kunci keunggulan penyandang disabilitas di kota ini. Salah satunya adalah Universitas Widyatama yang memiliki Art Therapy Center (ATC), tempat banyak mahasiswa dengan autisme belajar dengan pengajar berlatar belakang bahasa Inggris.
Bahkan ada aturan khusus, yaitu dosen dilarang menggunakan bahasa Indonesia selama jam kuliah bahasa Inggris berlangsung demi menjaga motivasi para mahasiswanya. Meski begitu, Bandung bukan tanpa tantangan.
Dari 100 responden yang dilibatkan dalam riset ini, 15 di antaranya merupakan kelompok NEET yang berasal dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Marthella menyebut temuan ini sebagai anomali tersendiri, karena kemampuan baca tulis mereka masih sangat terbatas, sehingga belajar bahasa Inggris menjadi tantangan yang jauh lebih besar.
Berdasarkan informasi dari laman BPS Kota Tasikmalaya, NEET merupakan penduduk usia muda dengan rentang usia 15-24 tahun yang sedang tidak sekolah, tidak bekerja atau tidak mengikuti pelatihan. Dari seluruh temuan ini, KONEKIN menegaskan ada dua hal mendesak yang harus segera dibenahi yaitu revisi kurikulum bahasa Inggris di SLB dan pelatihan bagi tenaga pendidik.
Marthella juga mendorong lembaga kursus bahasa Inggris swasta untuk mengarahkan program CSR mereka langsung ke SLB. "Negara tidak bisa mengatasi semua hal, tapi dengan kolaborasi pasti bisa," ujar Marthella.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News