Menristekdikti saat memimpin upacara peringatan Hardiknas 2019, di Kampus UI, Depok, Kemenristekdikti/KSKP.
Menristekdikti saat memimpin upacara peringatan Hardiknas 2019, di Kampus UI, Depok, Kemenristekdikti/KSKP.

Dongrak APK Dikti Lewat Penambahan e-Learning

APK Pendidikan Tinggi Ditargetkan 50% di 2024

Pendidikan hardiknas Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 02 Mei 2019 14:52
Depok: Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi mencapai 50 persen dalam lima tahun ke depan. Selain terus menjalankan perkuliahan di jalur konvensional (tatap muka), target APK juga akan didongkrak dengan memperbanyak penerapan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau e-learning di perguruan tinggi.
 
"Secara keseluruhan target di tahun 2024 kami usulkan di dalam satu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) berikutnya, paling tidak bisa di angka 50 persenlah, dengan sistem pembelajaran jarak jauh atau e-learning,"kata Menristekdikti, Mohamad Nasir di sela-sela Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019, di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis, 2 Mei 2019.
 
Untuk diketahui, APK Pendidikan Tinggi adalah proporsi anak yang kuliah pada suatu jenjang tertentu terhadap penduduk pada kelompok usia kuliah. APK pendidikan tinggi saat ini sudah mencapai 34,58 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumlah tersebut sudah melampaui peningkatan target APK pendidikan tinggi di kurun waktu 2014-2019. "Kemarin di 2014 kami targetkan dalam lima tahun ada kenaikan dari 29 persen ke 34 persen, ternyata itu sudah tercapai di 2018. Sekarang sudah melebihi target," jelasnya.
 
Baca:Pemerintah Siapkan Tiga Peta Jalan Pemajuan Pendidikan
 
Nasir menambahkan, bahwa target APK 50 persen itu tentu saja akan sulit tercapai jika hanya mengandalkan jalur perkuliahaan konvensional (tatap muka). Sehingga harus dilakukan perubahan dengan penambahan perkuliahan dengan sistem PJJ atau e-learning.
 
"Ya ini di dunia manapun untuk pendidikan tinggi yang dilakukan secara konvensional itu pasti tidak akan melakukan pertumbuhan APK dengan baik. Oleh karena itu Indonesia dalam hal ini harus melakukan perubahan, yaitu di samping kuliah yang sudah dilakukan secara konvensional kita harus mengembangkan kuliah secara online." terang Nasir.
 
Mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro ini mengatakan, PJJ akan sangat bermanfaat bagi para lulusan SMA/SMK yang selama ini kesulitan memilih antara kuliah atau bekerja. Karena dengan PJJ kuliah dan kerja dapat dilakukan secara bersamaan.
 
"Banyak yang mereka sekarang lulus SMA dan SMK itu langsung masuk kerja, karena enggak mampu untuk kuliah. Mereka bisa ditingkatkan kualitasnya, di samping dia kerja dia bisa meningkatkan mutu pendidikan tinggi," terang Nasir.
 
Baca:Bamsoet Imbau Swasta Lebih Aktif dalam Pembangunan Pendidikan
 
Tidak hanya itu, PJJ juga bermanfaat dalam kondisi-kondisi darurat seperti bencana alam. Seperti yang terjadi pada peristiwa bencana gempa dan tsunami di Palu beberapa waktu lalu. Di mana mahasiswa korban bencana yang kuliah di Universitas Tadulako, Palu tetap dapat kuliah melalui PJJ di Universitas Indonesia.
 
"Dan saya berterima kasih kepada Universitas Indonesia pada saat kita ada bencana di Palu mahasiswa Palu banyak yang kesulitan kuliah karena kampusnya hancur. Akhirnya bisa dilakukan kuliah secara daring dengan UI, jadi mahasiswanya tetap berada di Palu," ungkap Nasir.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif