Wamendiktisaintek, Fauzan. Foto: Youtube Bakom RI
Wamendiktisaintek, Fauzan. Foto: Youtube Bakom RI

Dampak Erupsi Anak Krakatau, Kemendiktisaintek Imbau PTN dan PTS Kuliah Daring

Citra Larasati • 07 September 2026 07:29
Ringkasnya gini..
  • Kemendiktisaintek minta kampus terdampak erupsi Anak Krakatau alihkan kuliah ke daring demi cegah dampak abu vulkanik.
  • Tidak ada korban jiwa akibat erupsi Anak Krakatau, namun kampus diimbau terapkan kuliah hybrid dan bentuk posko siaga.
  • Antisipasi abu vulkanik Anak Krakatau, perguruan tinggi diminta gelar kuliah daring serta mobilisasi pakar untuk bantu warga.
Jakarta: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menginstruksikan seluruh perguruan tinggi terdampak untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran pascaerupsi Gunung Anak Krakatau. Kampus diimbau mengalihkan aktivitas perkuliahan dan layanan administrasi ke sistem daring (online) atau hybrid untuk meminimalkan risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Respons cepat tersebut diambil untuk memprioritaskan keselamatan serta kesehatan seluruh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di lingkungan kampus. "Kami mengimbau kepada seluruh perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk mengambil langkah-langkah strategis dan efektif yang berorientasi pada pengurangan aktivitas di luar kampus kepada seluruh sivitas akademika," kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, dalam Konferensi Pers Update Situasi Terkini Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, dikutip dari siaran YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI, Minggu, 6 September 2026.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) di wilayah terdampak, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan pada sarana dan prasarana fisik kampus. Meski demikian, tingkat sebaran debu vulkanik yang meluas menuntut adanya pembatasan aktivitas secara langsung.
   

Pengalihan Perkulihan Daring dan Hybrid

Penerapan perkuliahan berbasis daring atau hybrid ditujukan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan serta iritasi yang dapat dipicu oleh partikel tajam abu vulkanik.

"Aktivitas layanan kantor maupun proses pembelajaran dan aktivitas akademik lainnya dapat dilakukan secara daring, hybrid, atau cara yang dianggap lebih efektif untuk mengurangi paparan debu erupsi," kata Fauzan.

Setiap pimpinan perguruan tinggi diminta untuk segera mendirikan dan mengaktifkan posko siaga bencana di lingkungan kampus masing-masing. Posko ini bertugas membangun komunikasi intensif serta berkoordinasi langsung dengan pemerintah daerah dan BPBD setempat.

Selain penyesuaian internal kampus, Kemdiktisaintek juga mendorong perguruan tinggi untuk menerjunkan para akademisi dan ahli dalam penanganan dampak bencana di masyarakat. "Lebih lanjut, kami mengimbau kepada pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi para pakar, baik pakar kesehatan, teknik, lingkungan, kebencanaan, psikologi, dan lain-lain, untuk selalu terlibat dan memantau perkembangan erupsi ini," kata Fauzan. (Talitha Islamey)
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan