Komitmen tersebut diwujudkan melalui program beasiswa TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan) oleh Tanoto Foundation. Beasiswa ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pembinaan kepemimpinan secara terstruktur.
Dorongan untuk memperkuat kompetensi nonakademik itu juga berangkat dari tantangan transisi lulusan menuju dunia kerja. Berdasarkan Labor Market Brief LPEM FEB UI yang dipublikasikan pada Mei 2026, rata-rata lulusan di Indonesia membutuhkan waktu 19,8 bulan untuk memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
| Baca juga: Stella Christie Spill 3 Jurus agar Kampus Tidak Tergantikan AI |
Studi tersebut juga menunjukkan proses memasuki dunia kerja masih dipengaruhi ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, ekspektasi terhadap pekerjaan, serta belum optimalnya keterhubungan antara pendidikan tinggi dan dunia kerja. Kondisi itu dinilai menunjukkan bahwa kesiapan kerja kini juga ditentukan oleh karakter, pengalaman kolaboratif, dan kemampuan memimpin.
Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation Eddy Henry mengatakan kepemimpinan yang berdampak selalu berawal dari tujuan yang jelas. Menurut dia, tujuan tersebut akan menjadi kompas dalam mengambil keputusan, termasuk ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.
"Purpose mengingatkan mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, meneguhkan ketika harus mengambil keputusan sulit, dan tetap fokus ketika jalan di depan masih penuh ketidakpastian," kata Eddy pada Kamis 23 Juli 2026, dalam acara Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 yang digelar di Kompleks PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Riau, 23-25 Juli 2026.
Ia mengingatkan para penerima beasiswa TELADAN, bahwa kepemimpinan tidak dibangun secara instan. Kepemimpinan, lanjut dia, terbentuk melalui kebiasaan mengambil keputusan yang benar secara konsisten.
"Kepemimpinan dibangun dari pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan secara konsisten, pilihan untuk mendengarkan, pilihan untuk belajar, dan pilihan untuk melakukan hal yang benar, bahkan ketika pilihan itu tidak mudah," ujarnya.
| Baca juga: Siap Jadi Pemimpin di 2045? Ini Pesan Menaker Buat Tanoto Scholars |
Pada TSG 2026, sebanyak 240 penerima beasiswa dari 10 perguruan tinggi mitra mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kepemimpinan. Mengusung tema Learn & Lead: Rooted in Purpose, Growing for Impact, forum ini menjadi bagian dari transisi peserta dari fase Lead Self menuju Lead Others.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli yang menjadi salah satu pembicara mengajak mahasiswa memiliki growth mindset agar mampu menjadi pemimpin yang inovatif. Menurut dia, inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
"Inovasi tidak selalu soal menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tapi bisa juga tentang memunculkan nilai atau dampak yang baru pada sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Bahkan, inovasi bisa lahir dari sebuah masalah," ujar Yassierli.
Ia berharap generasi muda mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang bertumpu pada inovasi. Menurutnya, semangat tersebut perlu dimiliki oleh setiap calon pemimpin.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat mahasiswa perlu memiliki kompetensi yang tidak dapat digantikan teknologi. Salah satunya ialah kemampuan menciptakan, menyalurkan, dan mengkurasi pengetahuan.
"AI dapat menyajikan jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, manusialah yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Itulah kompetensi yang harus dibangun oleh pemimpin muda," kata Stella.
Selama tiga hari penyelenggaraan, peserta mengikuti sesi kepemimpinan, industrial visit, team building, hingga masterclass. Rangkaian TSH 2026 dirancang untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan tantangan nyata di dunia industri dan masyarakat.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda