Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sesditjen Risbang Kemdiktisaintek), Junaidi Khotib. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang
Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sesditjen Risbang Kemdiktisaintek), Junaidi Khotib. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang

Kesiapan Masih Belum Merata, Baru 15 Persen Kampus Miliki Komitmen Net Zero

Bramcov Stivens Situmeang • 20 Oktober 2026 17:04
Ringkasnya gini..
  • Kajian Climateworks Centre mencatat baru 15 persen perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki komitmen resmi Net Zero Campus.
  • Kemdiktisaintek menegaskan pentingnya perubahan pola pikir sivitas akademika melalui penguatan kurikulum dan Tridharma PT.
  • Peta jalan penelitian dan pengabdian masyarakat diarahkan untuk efisiensi energi demi mendukung target emisi nol bersih 2060.
Jakarta: Kesiapan perguruan tinggi di Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih atau net zero emission masih belum merata. Kajian Climateworks Centre menunjukkan baru 15 persen dari 60 perguruan tinggi yang masuk dalam sampel memiliki komitmen emisi nol bersih, meskipun sekitar 68% persen telah mempunyai strategi atau rencana keberlanjutan.

Temuan tersebut ditampilkan dalam peluncuran laporan dan panduan Indonesia Net Zero Campus: Mendorong Aksi Menuju Transisi Net Zero di Perguruan Tinggi. Kajian bertajuk Dekarbonisasi di Sektor Pendidikan Tinggi Indonesia: Transformasi Perguruan Tinggi Menuju Emisi Nol Bersih itu menyoroti perlunya upaya yang lebih terkoordinasi untuk mendorong kampus mengurangi emisi karbon.

Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sesditjen Risbang Kemdiktisaintek), Junaidi Khotib, mengatakan hasil investigasi Climateworks Centre menunjukkan adanya kesenjangan kesiapan antarkampus. Sejumlah perguruan tinggi telah menyiapkan berbagai langkah dekarbonisasi, tetapi sebagian lainnya masih membutuhkan dukungan untuk memulai dan memperkuat upaya tersebut.

"Kalau kita lihat berbasis pada data yang sudah dilakukan investigasi oleh Climateworks, tentu di sana memang masih disparitasnya lebar, ada yang memang perguruan tinggi sangat siap dengan adanya upaya-upaya penggunaan energi bauran. Kemudian juga carbon capture, mereka sudah menyiapkan carbon capture, baik itu natural maupun juga teknologi serta mobility, tetapi memang ada yang masih belum," ujar Junaidi kepada Medcom.id di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.

Junaidi menjelaskan upaya menuju Net Zero Campus sejalan dengan arah pembangunan jangka panjang Indonesia yang menargetkan net zero emission karbon pada 2060. Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki peran dalam membangun lingkungan pembelajaran yang mendukung kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mendorong pengurangan emisi.

Dia mengatakan sejumlah kegiatan yang sebelumnya diinisiasi Climateworks dan Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) telah diarahkan untuk mendukung kampus sebagai ekosistem dan tempat pembelajaran yang nyaman serta humanis. Menurutnya, lingkungan pembelajaran yang baik juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran.

 
db5f0c85-27fc-4012-943c-1937e071fca5
Acara Net Zero Campus: Peluncuran Laporan dan Panduan 2026. Foto: Bramcov Stivens Situmeang



"Saya rasa rangkaian acara ini sebenarnya sebelumnya sudah ada beberapa kegiatan yang telah diinisiasi oleh Climateworks dan juga PYC di mana merancang suatu keadaan dan mendukung kampus untuk bisa menjadikan ekosistem ataupun juga tempat pembelajaran yang nyaman dan humanis. Tentu ini sangat baik dan ini juga menjadi bagian yang seiring sejalan dengan rancangan dari Kemdiktisaintek," kata dia.

Junaidi mengatakan Kemdiktisaintek mendorong penguatan pendidikan dan kurikulum untuk membangun karakter sivitas akademika yang memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan emisi. Penelitian juga didorong agar dapat mendukung penerapan konsep Net Zero Campus di perguruan tinggi.

Mengutip laman pgnlng.co.id, Net Zero Campus adalah konsep pengembangan lingkungan kampus yang mendukung upaya menuju keseimbangan emisi gas rumah kaca. Sedangkan, net zero emissions merujuk pada kondisi ketika jumlah emisi yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah yang diserap atau dihilangkan.

Pencapaian net zero emissions dapat dilakukan melalui pengurangan emisi dari aktivitas manusia, termasuk penggunaan bahan bakar fosil, serta peningkatan penyerapan karbon. Upaya penyerapan itu dapat dilakukan melalui reforestasi, restorasi lahan gambut, hingga teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.

Dalam konteks perguruan tinggi, penerapan konsep itu membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk kampus dengan sumber daya yang berbeda-beda. Junaidi menegaskan pendanaan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan program.

"Nah oleh sebab itu tidak semata-mata bahwa dengan pendanaan semua program bisa berjalankan. Oleh sebab itu yang pertama adalah mindset yang kita harus berubah bahwa karakter pada sivitas akademika terkait dengan net zero campus ini harus kita sadarkan semua, baik pada perguruan tinggi besar maupun perguruan tinggi kecil, nah ini melalui apa? Melalui pada kurikulum, pelatihan, dan lain sebagainya, itu satu," beber Junaidi.

Selain membangun kesadaran melalui kurikulum dan pelatihan, upaya menuju kampus net zero juga dapat dilakukan melalui pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga unsur yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tersebut dapat diarahkan untuk mendukung penggunaan energi yang lebih efisien dan menekan emisi karbon.

Di bidang penelitian, Junaidi menyebut telah tersedia peta jalan yang salah satunya menyoroti persoalan energi dan lingkungan. Kedua hal itu saling berkaitan, terutama dalam mendorong efisiensi penggunaan energi dan menekan penggunaan karbon serendah mungkin.

"Maka ada rancangan-rancangan yang memang ditujukan untuk mengarah pada Net Zero Campus. Misalnya saja pada penelitian, itu ada peta jalan, salah satu di antaranya itu adalah masalah energi, masalah lingkungan, di mana energi dan lingkungan di sana bersinggungan dan tentu saja ini mengarah pada bagaimana menggunakan energi yang efisien dan serendah-rendahnya penggunaan karbon," jelas dia.

Sedangkan, melalui pengabdian kepada masyarakat, dosen, peneliti, dan mahasiswa dapat turut mendorong kesadaran publik mengenai pentingnya pengurangan emisi karbon. Junaidi mengatakan berbagai program yang didampingi sivitas akademika diharapkan membuat masyarakat ikut terlibat dalam upaya tersebut.

"Di dalam pengabdian pada masyarakat juga demikian, banyak program-program yang memang didampingi oleh sivitas akademika, baik dosen, peneliti maupun juga mahasiswa untuk ke masyarakat. Supaya memang masyarakat ini juga sadar dan bisa complete dengan upaya-upaya untuk penurunan dari emisi karbon," ujar dia.

Dengan begitu, upaya menuju Net Zero Campus tidak hanya berkaitan dengan kesiapan teknologi dan pendanaan, tetapi juga perubahan pola pikir serta keterlibatan perguruan tinggi dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui langkah bersama itu diharapkan dapat mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan