Pernyataan itu disampaikan Heri dalam Temu Akbar Dewan Guru Besar UI 2026. Ia mengingatkan bahwa predikat "guru bangsa" tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus dibuktikan melalui kontribusi nyata dan kepercayaan masyarakat.
"Kalau muridnya tidak lagi datang ke gurunya untuk berkonsultasi, berarti bisa jadi gurunya ini juga sudah tidak memiliki martabat sebagai guru tadi. Nah, ini PR besar bagi kita semua sebagai Guru Besar," kata Heri di UI, Rabu 12 Agustus 2026.
| Baca juga: Bima Arya: SMA? Lewat! Kuliah Jauh Lebih Indah, Ini 3 Alasannya |
Ia menilai selama ini banyak guru besar merasa telah menjalankan peran sebagai guru bangsa. Namun, menurutnya, ukuran sesungguhnya justru terletak pada pengakuan masyarakat terhadap keberadaan akademisi.
"Apakah bangsa ini mengenal kita sebagai gurunya? Jangan-jangan kita menganggap diri kita guru bangsa, padahal orang tidak pernah menganggap kita ini guru bangsa," ujarnya.
Menurut Heri, seorang guru besar tidak cukup hanya unggul dalam bidang keilmuan. Mereka juga harus memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial, ekonomi, politik, hingga pembangunan yang dihadapi masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa guru merupakan sosok yang "digugu dan ditiru". Karena itu, kualitas integritas guru besar akan menentukan sejauh mana masyarakat kembali menaruh kepercayaan kepada kalangan akademisi.
"Kalau guru kencing berdiri, muridnya kencing berlari. Jadi kalau bangsa ini kencing berlari, berarti kita guru-gurunya sudah kencing berdiri. Kita harus melihat kembali apakah ada hal-hal yang sudah kebablasan di internal kita," katanya.
Heri juga mengajak seluruh guru besar UI keluar dari zona nyaman. Menurutnya, setelah mencapai jabatan akademik tertinggi, para profesor seharusnya tidak lagi mengejar kepentingan pribadi, melainkan memikirkan kontribusi bagi bangsa.
"Sebagai Guru Besar, posisinya sudah selesai dengan dirinya. Tidak ada lagi yang harus ditakuti dan dicari. Karena itu aktivitas sebagai guru bangsa seharusnya tidak lagi berada di zona nyaman," ucapnya.
Lebih lanjut ia juga berbicara mengenai tantangan UI sebagai institusi yang pendapat akademiknya diperhitungkan dalam penyelesaian persoalan nasional. Guru besar, kata Heri, perlu lebih aktif menyampaikan hasil kajian, rekomendasi, dan alternatif kebijakan kepada pemerintah maupun masyarakat.
Menurut dia, akademisi tidak hanya bertugas mengkritik kebijakan. Guru besar juga memiliki tanggung jawab menawarkan solusi yang didasarkan pada riset dan analisis ilmiah.
"Yang bisa kita lakukan sebagai guru tentunya memberikan advice, memberikan solusi, tidak hanya memberikan kritikan tetapi juga memberikan analisis dan alternatif penyelesaian persoalan," katanya.
| Baca juga:
|
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda