Wamendagri Bima Arya. Foto: Youtube Universitas Indonesia
Wamendagri Bima Arya. Foto: Youtube Universitas Indonesia

Bima Arya: SMA? Lewat! Kuliah Jauh Lebih Indah, Ini 3 Alasannya

Ilham Pratama Putra • 03 Agustus 2026 20:03
Ringkasnya gini..
  • Bima Arya menyebut kuliah lebih indah daripada SMA karena mahasiswa memiliki kebebasan yang lebih besar.
  • Kampus dinilai lebih fokus mengembangkan kompetensi sesuai bidang ilmu yang dipilih mahasiswa.
  • Lingkungan kampus yang beragam melatih mahasiswa beradaptasi dengan perbedaan sebagai bekal menjadi pemimpin.
Jakarta: Banyak orang menyebut SMA adalah masa paling indah sepanjang hidup. Namun, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto memiliki anggapan berbeda. 

"Saya justru menganggap, masa di universitas lebih indah daripada masa SMA. Kuliah bagi saya menjadi satu periode paling berkesan dalam hidup," kata Bima dalam Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Indonesia Tahun Akademik 2026/2027 melalui siaran YouTube Universitas Indonesia, Senin, 3 Agustus 2026. 
 
Bima mengatakan ada tiga hal yang membuat masa kuliah terasa lebih indah dibandingkan dengan masa SMA. Hal ini berkaitan dengan kebebasan, pengembangan diri, hingga keberagaman yang ditemui di lingkungan kampus.
 
"Kenapa kuliah adalah masa-masa yang paling indah? Ada tiga hal. Kuliah dan SMA itu dibedakan atas aturan, karakter, dan keseragaman," kata Bima.

Lantas, apa saja tiga alasan masa kuliah lebih indah dari SMA? Ini kata Bima:
 
Baca juga: Lulusan IPDN Jadi Apa? Ini Status CPNS, Alokasi Penempatan, dan Jenjang Kariernya  


Mahasiswa Punya Kebebasan Lebih Besar

Menurut Bima, perbedaan paling terasa antara SMA dan kuliah adalah tingkat kebebasan yang dimiliki peserta didik. Di bangku SMA, kehidupan siswa diatur oleh berbagai aturan mulai dari jam belajar, seragam, hingga tata tertib sekolah. 
 
Sebaliknya, di Universitas, mahasiswa memiliki ruang lebih luas untuk mengatur waktu, menentukan aktivitas, dan mengambil keputusan sendiri. "SMA adalah masa-masa penuh aturan. Mungkin aturannya 90 persen, kebebasannya 10 persen. Sedangkan di kuliah, aturan tetap ada, tetapi kalian memiliki kebebasan yang jauh lebih besar," ujar dia.
 
Kebebasan tersebut, kata Bima, menjadi sarana untuk melatih kemandirian. Mahasiswa dituntut mampu mengelola waktu, menentukan prioritas, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.


Kampus Lebih Fokus Mengasah Kompetensi

Alasan kedua adalah fokus pembelajaran di perguruan tinggi yang lebih menitikberatkan pada kompetensi. Bima menjelaskan, selama di SMA siswa dibentuk agar memiliki keseimbangan antara karakter dan kemampuan akademik. 
 
Sementara itu, di kampus mahasiswa didorong memperdalam kompetensi sesuai bidang ilmu yang dipilih. Namun di kampus juga tidak diabaikan nilai pembentukan karakter.
 
"Tiga tahun di SMA kalian digembleng menyeimbangkan karakter dan kompetensi. Tetapi di kampus, memang ada muatan karakter, namun fokusnya adalah kompetensi," kata dia.
 
Bima menuturkan kemampuan akademik dan keterampilan profesional yang diasah selama kuliah akan menjadi bekal penting. Terutama ketika lulusan kampus memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
 
 
Baca juga: Berapa Biaya S2 di Unpad? Ini Estimasi dari Pendaftaran sampai Lulus  


Kampus Mengajarkan Hidup di Tengah Keberagaman

Bima menilai lingkungan kampus juga menawarkan pengalaman berbeda karena mahasiswa berasal dari berbagai daerah, budaya, dan latar belakang. Apabila di SMA siswa cenderung hidup dalam lingkungan seragam, mulai dari seragam sekolah hingga aturan penampilan, kampus justru mempertemukan mahasiswa dengan beragam karakter dan perspektif.
 
"Di SMA semua tentang keseragaman. Tetapi di kampus kalian menikmati dan merayakan keberagaman jauh lebih banyak dibanding masa SMA," tutur dia.
 
Ia mengatakan kemampuan beradaptasi dengan perbedaan menjadi bekal penting menghadapi tantangan kehidupan sekaligus membangun kepemimpinan. Bima menyebut tiga pengalaman yang diperoleh selama kuliah tersebut menjadi modal utama meraih kesuksesan di masa depan.
 
Menurut dia, kehidupan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu membangun kemandirian, menyeimbangkan karakter dan kompetensi, serta beradaptasi dengan keberagaman. "Orang-orang yang mampu beradaptasi dengan perbedaan, menyeimbangkan karakter dan kompetensi, serta membangun kemandirian akan lebih siap menjadi pemimpin dan pemenang dalam kehidupan," ujar Bima.
 
Baca juga: 3 Pesan Rektor UI ke Mahasiswa Baru: Ilmu, Akhlak dan Fisik Harus Seimbang!  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan