Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas ratusan pelajar dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Model United Nations (MUN) di Pekanbaru. Sebanyak 200 pelajar dan mahasiswa dari 35 sekolah serta perguruan tinggi mengikuti Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Pekanbaru Chapter 2026 pada 25–26 Juli 2026.
"Melalui simulasi sidang PBB, para peserta diajak menyusun solusi atas berbagai persoalan global, mulai dari pemerataan pendidikan hingga keberlanjutan lingkungan," kata
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Syafrian Tommy dalam keterangannya, Kamis 30 Juli 2026.
Konferensi yang mengusung tema Powering Progress: Ensuring Equity and Sustainability in a Changing World itu menghadirkan dua dewan utama. Yakni UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dan UNEP (United Nations Environment Programme).
| Baca juga: Baru 15% Sekolah Inklusif Punya Guru Khusus, Lestari Moerdijat Desak Percepatan Pelatihan |
Dewan UNESCO secara khusus membahas topik Equity for All: Inclusive Education for Students with Disabilities. Sedangkan Dewan UNEP mengangkat isu kendaraan listrik dan limbah baterai lithium.
Syafrian menambahkan jika forum seperti AYIMUN menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar. Utamanya untuk memahami persoalan global sekaligus membangun empati terhadap berbagai kelompok masyarakat.
"Dalam forum diplomasi ini, ada tiga pesan penting bagi generasi muda. Pertama, pemuda bukan sekadar penerus masa depan, tetapi aktor utama yang membentuk inovasi dan arah kebijakan. Kedua, diplomasi global bukan hanya tentang kemampuan berbicara, melainkan juga tentang membangun empati dan memahami keberagaman budaya," ujar Syafrian.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga memastikan seluruh masyarakat memiliki akses pendidikan yang setara. Menurutnya, forum seperti AYIMUN menjadi wadah bagi pelajar untuk menghubungkan gagasan dengan aksi nyata.
Di samping itu, President International Global Network (IGN) Muhammad Fahrizal mengatakan peserta tidak hanya diminta mempertahankan posisi negara yang mereka wakili selama simulasi sidang. Mereka juga didorong melihat setiap persoalan melalui perspektif keadilan, kekuatan, dan dampaknya bagi masa depan.
"Seluruh peserta AYIMUN Pekanbaru Chapter tidak hanya ditantang untuk mempertahankan argumen negara yang mereka wakili, tetapi juga untuk melihat setiap isu melalui tiga lensa utama, yaitu kekuatan, keadilan, dan waktu. Dari ketiga perspektif tersebut, peserta diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang relevan dan berdampak," kata Fahrizal.
Selama konferensi berlangsung, peserta mengikuti simulasi sidang diplomasi, negosiasi antarnegara, hingga penyusunan draft resolution yang meniru mekanisme sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Setiap sesi dipandu fasilitator atau chair dari Indonesia dan Malaysia yang berpengalaman dalam konferensi Model United Nations.
| Baca juga:
|
Selain pendidikan inklusif, peserta juga membahas tantangan transisi energi melalui isu kendaraan listrik dan limbah baterai lithium. Pembahasan tersebut berlangsung dalam Dewan UNEP yang mendapat dukungan PT Pertamina Persero sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap isu keberlanjutan.
Penyelenggara juga memberikan kesempatan kepada lebih banyak pelajar untuk mengikuti forum internasional tersebut melalui program beasiswa. Sebanyak 15 peserta dari berbagai sekolah memperoleh bantuan dari PT Pertamina Persero untuk mengikuti AYIMUN Pekanbaru Chapter 2026.
AYIMUN merupakan program yang diselenggarakan International Global Network (IGN) bekerja sama dengan Indonesian Creative School (ICS) Pekanbaru serta didukung Kementerian Pariwisata. Sebelumnya, AYIMUN Chapter juga telah digelar di Kelapa Gading, Bekasi, dan BSD, sementara konferensi berikutnya dijadwalkan berlangsung di Depok dan Bandung.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda