Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. DOK istimewa
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. DOK istimewa

Baru 15% Sekolah Inklusif Punya Guru Khusus, Lestari Moerdijat Desak Percepatan Pelatihan

Renatha Swasty • 10 Juli 2026 16:41
Ringkasnya gini..
  • Wakil Ketua MPR RI mendorong strategi komprehensif untuk atasi kesenjangan jumlah Guru Pembimbing Khusus (GPK) pada sekolah inklusif.
  • Data menunjukkan baru 15 persen dari 60.910 sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang memiliki guru pembimbing khusus.
  • Pemerintah menargetkan pelatihan tingkat mahir bagi 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang tahun 2026 sebagai langkah awal.
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan upaya percepatan penguatan kompetensi guru untuk mewujudkan pendidikan inklusif harus didukung dengan data akurat dan strategi komprehensif. Saat ini, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan guru kompeten di lapangan masih sangat tinggi. 
 
"Sehingga perlu strategi yang komprehensif untuk mempercepat kompetensi guru dalam menjalankan sistem pendidikan yang inklusif," kata Rerie, sapaan karib Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 Juli 2026. 
 
Data Kemendikdasmen per September 2025 mencatat, terdapat 363.921 murid penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 199.375 murid belajar di 60.910 satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI). 

Rerie menyayangkan hanya sekitar 15 persen dari total SPPI yang memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). Dia menekankan kondisi ini adalah hambatan serius dalam mewujudkan layanan pendidikan yang setara. 
 
"Untuk itu, upaya peningkatan jumlah guru yang mampu mendidik anak berkebutuhan khusus harus segera direalisasikan. Ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kompetensi yang harus dikejar," tegas Rerie. 
  Anggota Komisi X DPR RI itu menuturkan percepatan kompetensi ini membutuhkan langkah-langkah nyata dan terukur. Dia mendukung penuh program pemerintah yang menargetkan pelatihan bagi 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang tahun 2026 untuk mencapai tingkat mahir. 
 
Namun, Rerie mengingatkan target tersebut baru sebagian kecil dari kebutuhan nasional. Apalagi, berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), saat ini tercatat 2.663 guru telah memenuhi syarat sebagai kandidat peserta, dengan potensi tambahan hingga 5.129 calon peserta baru melalui skema penyetaraan. 
 
"Pemerintah harus konsisten dan agresif. Program pelatihan yang diluncurkan Kemendikdasmen adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ. Kita perlu melihat rasio ideal," ujar dia.
 
Anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem itu menekankan peningkatan kompetensi guru tidak boleh hanya bersifat teknis semata. Ia mengingatkan keberhasilan pendidikan inklusif sangat ditentukan oleh kemampuan guru memahami kebutuhan setiap anak dan menyesuaikan metode pembelajaran, bukan sebaliknya. 
 
"Guru adalah agen perubahan yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kemanusiaan. Mereka harus mendapat dukungan semua pihak agar mampu menerjemahkan filosofi pendidikan nasional ke dalam praktik pembelajaran yang inklusif dan adaptif, terutama di era digital ini," ujar dia.
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA