Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek, Beny Bandanadjaja. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek, Beny Bandanadjaja. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Ironi Kampus Inklusif: Mahasiswa Disabilitas Nambah Terus, Tapi...

Ilham Pratama Putra • 18 Juni 2026 13:39
Ringkasnya gini..
  • Terdapat 3.128 mahasiswa disabilitas yang tersebar di 282 perguruan tinggi di Indonesia.
  • Mahasiswa tunanetra menjadi kelompok terbesar dengan jumlah mencapai 1.727 orang.
  • Kemendiktisaintek menyalurkan bantuan ULD hingga Rp40 juta untuk memperkuat layanan inklusif.
Jakarta: Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktisaintek Kemendiktisaintek, Beny Bandanadjaja, menyebut jumlah mahasiswa disabilitas di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti) per Juni 2025, terdapat sekitar 3.128 mahasiswa.
 
"Jumlah mahasiswa disabilitas ini tersebar di 282 perguruan tinggi," kata Beny dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 18 Juni 2026.
 
Beny merinci, dari jumlah tersebut mahasiswa penyandang disabilitas netra menjadi kelompok terbesar. Tercatat total 1.727 mahasiswa merupakan tunanetra.

Untuk memperkuat layanan pendidikan tinggi yang inklusif, Ditjen Diktisaintek menyediakan bantuan pendanaan bagi perguruan tinggi yang membentuk maupun mengembangkan ULD. Kampus yang baru mendirikan ULD dapat memperoleh bantuan Rp30 juta, sedangkan penguatan layanan ULD yang sudah berjalan mendapat dukungan hingga Rp40 juta.
 
Baca juga: Penambahan Guru untuk Anak Berkebutuhan Khusus Mendesak

"Fokus utama bantuan ini adalah memastikan seluruh aktivitas tridarma perguruan tinggi dapat diakses secara mandiri oleh mahasiswa disabilitas," kata Beny.
 
Selain pendanaan, pemerintah juga menyediakan portal pendidikan tinggi inklusif yang memuat informasi mengenai kampus penerima mahasiswa disabilitas. Portal tersebut juga memuat data statistik, regulasi, hingga panduan penyelenggaraan layanan inklusif.
 
Beny berharap semakin banyak perguruan tinggi yang membuka akses dan memperkuat layanan bagi penyandang disabilitas. Sehingga tercipta lingkungan kampus yang ramah, inklusif, dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
 
Saat ini persoalan pendidikan inklusi di perguruan tinggi yang paling mencuat adalah perkara bahan ajar yang tidak ramah ke mahasiswa disabilitas, terutama mahasiswa tunanetra. Hal ini pun dinilai menghambat proses belajar mahasiswa tunanetra di kampus.
 
"Banyak dosen yang sudah merasa membantu karena memberikan materi dalam bentuk digital. Namun, sering kali file tersebut berasal dari hasil pemindaian (scan) sehingga tidak dapat dibaca oleh screen reader," kata Anggota Tim Pendidikan Tinggi Inklusif Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Diktisaintek), Asep Supena dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
 
Baca juga: Kemendikdasmen Bakal Tambah SLB hingga Bikin Pelatihan untuk Difabel

Selain itu, metode pembelajaran yang terlalu berorientasi pada visual juga menjadi keluhan utama mahasiswa tunanetra. Menurut Asep, banyak dosen masih mengandalkan presentasi PowerPoint tanpa memberikan penjelasan verbal yang memadai.
 
"Informasi penting, termasuk tugas kuliah, kerap hanya ditampilkan di slide. Padahal mahasiswa tunanetra tidak dapat mengakses informasi tersebut secara langsung," ujarnya.
 
Dari sisi fasilitas pendukung, keterbatasan perangkat teknologi juga masih menjadi kendala. Tidak semua mahasiswa tunanetra memiliki laptop yang dilengkapi aplikasi pembaca layar. 
 
Sementara itu, koleksi perpustakaan di banyak kampus masih didominasi buku cetak. Hal ini kata dia malah mempersulit akses mahasiswa dengan hambatan penglihatan.
 
"Kondisi ini membuat mereka kesulitan memperoleh sumber belajar yang setara dengan mahasiswa lainnya," tutur Asep.
 
Baca juga: Mantap! Kemendikdasmen Siapkan 2 Jurus Jitu Buat Pendidikan Inklusif di 2026

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA