Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Bidang Pembelajaran dan Akademik, Paristiyanti Nurwardani, mengatakan perkembangan AI telah memasuki tahap yang lebih maju. Karena itu, pemanfaatan AI tidak boleh berhenti pada aktivitas mencari informasi atau menjawab pertanyaan.
"Barusan saja mendapat informasi dari pembicara kami dari London bahwa yang menggunakan AI seperti yang sekarang ini kita lakukan itu nggak mungkin bisa kerja di industri. Yang diperlukan adalah agentic AI yang memang harus dipelajari sama kita agar mereka jadi asisten kita," kata Paristiyanti di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026. Agentic AI merupakan teknologi kecerdasan buatan yang mampu menjalankan serangkaian tugas secara lebih mandiri untuk mencapai tujuan tertentu. Berbeda dengan penggunaan chatbot AI untuk sekadar menjawab pertanyaan, agentic AI dapat membantu merencanakan dan mengeksekusi pekerjaan dalam batas kewenangan yang diberikan pengguna.
Menurut Paristiyanti, penguasaan teknologi tersebut penting agar mahasiswa memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan industri. Perguruan tinggi pun harus mulai beradaptasi dengan perubahan tersebut.
"Kalau internasional udah pakai agentic AI, kita masih mau pakai main-main hanya lihat buat nyari restoran, nyari bioskop, wah kita ketinggalan zaman," tegasnya.
Paristiyanti menilai perguruan tinggi tidak bisa lagi mengandalkan metode lama dalam menjalankan kegiatan akademik. AI harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mutu tridarma perguruan tinggi.
"Kami ini udah nggak bisa lagi dengan cara-cara yang lama, jadi harus mau nggak mau, suka nggak suka, kita harus berteman dan bersahabat dengan AI untuk meningkatkan produktivitas dari tridarma perguruan tinggi," ujarnya.
Ilustri Mengetik. Dok Medcom
Sekretaris Jenderal APTISI, Arief Kusuma, mengatakan perguruan tinggi perlu menyiapkan strategi penerapan AI secara menyeluruh. Salah satu langkah penting adalah meningkatkan kemampuan dosen dalam memahami dan memanfaatkan teknologi tersebut.
Menurut Arief, dosen harus dibekali pendidikan dan pelatihan AI agar mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menyesuaikan proses pembelajaran. Sementara itu, mahasiswa perlu memahami penggunaan AI secara tepat dan bertanggung jawab.
"Jadi memang strateginya memang ke dosen sendiri kita harus membuat, melakukan pendidikan, pelatihan, pemahaman mengenai AI. Kemudian juga mengenai mahasiswa sendiri selain pendidikan, pelatihan juga gimana menggunakan AI secara beretika," kata Arief.
Arief mencontohkan perubahan teknologi dalam bidang pemrograman atau coding. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia secara manual kini dapat dibantu AI, bahkan terus berkembang menuju sistem yang semakin mandiri.
Perubahan tersebut, menurutnya, harus dipahami mahasiswa. Agar kemampuan yang diperoleh selama kuliah tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain pelatihan, APTISI juga tengah mempersiapkan panduan etika penggunaan AI melalui Dewan Kode Etik. Panduan tersebut diharapkan dapat membantu perguruan tinggi menentukan batasan penggunaan teknologi AI dalam kegiatan akademik.
"Kami juga sudah mempersiapkannya, kita punya nama Dewan Kode Etik, sedang mempersiapkan untuk menerapkan kira-kira panduanlah gimana menggunakan AI secara beretika," jelasnya.
Salah satu kampus yang sudah menerapkan integrasi teknologi AI dalam berbagai aktivitas akademik adalah Universitas Komputer Indonesia (Unikom). Rektor Unikom, Eddy Soeryanto, mengungkapkan hampir 12 ribu mahasiswa dan dosen Unikom telah menggunakan teknologi AI dalam aktivitas sehari-hari.
"Dan hampir 12.000 mahasiswa di Unikom itu sudah, termasuk dosen, itu sudah mengimplementasikan teknologi AI ini dalam aktivitas sehari-hari," ungkap Eddy.
Ia menjelaskan Unikom telah membangun laboratorium AI melalui kerja sama dengan Google. Kampus tersebut juga mengembangkan berbagai produk berbasis AI yang diikutsertakan dalam kompetisi nasional.
Salah satunya, Eddy menyebut Unikom berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi nasional yang diselenggarakan Samsung dengan inovasi berbasis AI. Meski demikian, Eddy mengingatkan penggunaan AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kendali atas teknologi, manusia kata dia harus tetap menjadi pihak yang menentukan arah dan tujuan pekerjaan.
"Kita sebagai human itu sebagai pilotnya. AI sebagai kopilot. Dan kita yang mengarahkan dia untuk membangun sesuatu, bukan dia yang mengarahkan kita," tegasnya.
Contoh lain pemanfaatan AI disampaikan Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Muhammad Suyanto. Ia mengungkapkan teknologi AI telah membantu meningkatkan efisiensi produksi animasi secara signifikan.
Menurut Suyanto, proses produksi animasi berdurasi dua menit yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar lima bulan kini dapat diselesaikan dalam lima hari dengan bantuan AI. "Biasanya kita buat film animasi 5 bulan untuk misalkan 2 menit, sekarang 5 hari 2 menit sudah bisa selesai," tutup Suyanto.
Baca Juga :
Universitas Al-Azhar Kairo Bakal Buka 4 Fakultas Baru, Artificial Intelligence hingga Kedokteran
Ketua Umum APTISI, Budi Djatmiko, menegaskan integrasi AI dalam kegiatan akademik telah menjadi kebutuhan strategis bagi perguruan tinggi. Kampus harus mampu beradaptasi agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi.
"Pengintegrasian AI di lingkungan akademik bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis. Melalui kolaborasi global ini, kita ingin memastikan PTS di seluruh Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemimpin dalam transformasi digital pendidikan tinggi," tegas Budi.