Nonia beruntung sebab di akhir masa SMA-nya, dia tidak perlu lagi berdempet-dempetan di kelas. Sekolahnya menerima bantuan program revitalisasi pendidikan pada 2025.
"Hati saya sangat senang karena punya kelas tambahan sudah tidak digabung lagi. Biasanya kan digabung kelasnya," cerita Nonia di lokasi, Selasa, 21 Juli 2026.
Kini, Nonia bisa lebih leluasa. Paling penting, siswa kelas XII IPA itu sudah bisa menerima pelajaran dengan lebih tenang.
"Kadang bosan juga karena terlalu ribut gitu," kata Nonia.
Melyani dan Selvi lebih beruntung. Siswa baru kelas X itu masuk ketika revitalisasi rampung. Mereka merasakan kelas baru dan tak perlu berdempetan ketika belajar.
"Senang, kelasnya bersih, nyaman, belajar jadi lebih nyaman," ujar keduanya.

Siswa kelas XII, Nonia Teju. Medcom.id/Renatha Swasty
Kelas baru, napas baru
Sebelum revitalisasi, sekolah memakai satu ruang aula yang disekat menjadi tiga. Sekolah juga memanfaatkan lab Biologi, lab Kimia, dan lab Komputer untuk kelas darurat.Pada 2025, SMAN 8 Kupang mendapat bantuan program revitalisasi pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebesar Rp1,2 miliar. Hasil revitalisasi berupa empat kelas baru dan dua unit toilet ramah disabilitas.
"Ini menjawab kebutuhan kami karena kami SMAN 8 ini kekurangan ruang kelas untuk belajar. Awalnya, kami kekurangan itu tujuh ruang kelas. Tahun lalu kami sudan dapat dana revitalisasi ini. Membangun empat ruang kelas sehingga kekurangannya sisa 3," kata Kepala Sekolah SMAN 8 Kupang Samuel Djami Riwu.
Meski masih kekurangan kelas, namun revitalisasi ini menjadi napas baru. Saat ini, tiga ruang kelas juga tengah direnovasi hasil bantuan pemerintah daerah.

Kepala Sekolah SMAN 8 Kupang, Samuel Djami Riwu. Medcom.id/Renatha Swasty
Hal ini membikin siswa kelas X dan kelas XI sebagian mesti selang seling belajar di rumah dan di sekolah. "Sebenarnya sudah bisa dipakai. Hanya kami menunggu dari Pemprov, dari aset datang dulu periksa. Setelah itu bisa dipakai," beber Samuel.
Samuel mengatakan sekolah kekurangan kelas lantaran animo siswa sekolah di SMAN 8 Kupang sangat tinggi. Saat ini, ada sekitar 850-an siswa.
Dia berharap ke depan sekolahnya bisa mendapat bantuan lagi untuk kekurangan tiga kelas serta beberapa ruangan yang masih diperlukan.
SMAN 8 Kupang sendiri beridiri di atas lahan 2 hektare (HA). Meski lahan luas, pembangunan ruang kelas baru tak mudah lantaran tanah sekolah banyak karang.
Empat ruang kelas baru dan dua toilet dibangun dibekas kantin. Tanahnya dicari yang rata dan tidak banyak karang. Revitalisasi telah rampung dan diresmikan langsung oleh Mendikdasmen Abdul Mu'ti pada 5 Mei 2026.
Baca Juga :
Revitalisasi Pendidikan Bukan Cuma Bangun Kelas, Tapi Rasa Aman dan Nyaman Anak di Sekolah
Guru bisa mengajar sesuai aturan
Rudiyanto S Sanadji mengaku cukup menantang mengajar dengan kondisi kelas sangat penuh. Apalagi, dia mengajar mata pelajaran Ekonomi yang membutuhkan konsentrasi."Nah itu bisa dibayangkan kalau pada saat siang hari mengajarnya yang materi Ekonomi yang luar biasa, itu jadi salah satu tantangan bagi saya sebagai guru Ekonomi," kenang dia.
Setelah enam tahun ada di kondisi itu, mulai tahun ajaran baru ini Rudi bisa bernapas lega. Dia tidak perlu lagi mengajar dengan kondisi kelas yang terlalu penuh.
Kini, Rudi mengajar dengan jumlah sesuai aturan, yakni maksimal rombel 36 siswa dari sebelumnya 42-an.
"Dengan adanya revitalisasi ini, jujur kami sangat terbantu. Dengan adanya revitalisasi ini kami sebagai guru dapat mengajar sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan," ujar dia.
Samuel mengatakan revitalisasi ini juga membikin lab yang biasanya dipakai untuk belajar dapat difungsikan kembali sebagaimana mestinya.

Guru SMAN 8 Kupang, Rudiyanto S Sanadji. Medcom.id/Renatha Swasty
Tambahan fasilitas
SMAN 8 Kupang masih membutuhkan berbagai sarana prasarana lain. Samuel menyebut pihaknya masih membutuhkan ruang UKS, OSIS, dan BK.Dia menyebut ruang UKS cukup mendesak karena anak-anak sering sakit. Pihaknya juga bakal mencari cara untuk membereskan karang-karang yang masih banyak di depan gedung kelas baru.
"Karang ini pasti nanti kami akan ratakan. Jadi, kami hitung dulu lebih murah pukul batunya kasih rata atau kita beli tanah putih untuk timbun," tutur dia.
Selain pembangunan ruang kelas baru, Guru Matematika, Maria Rosana Dimu, berharap pemerintah membantu peningkatan literasi. Dia mengatakan sekolah perlu mempunyai perpustakaan agar literasi siswa bisa makin meningkat.

Ruang kelas baru SMAN 8 Kupang. Medcom.id/Renatha Swasty
Selain itu, perlu dukungan digitalisasi pendidikan, salah satunya dengan modernisasi. Maria mengatakan sekolah masih kekurangan komputer.
Ini penting untuk pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). "Komputer hanya terbatas di ruang lab, maka kita terpaksa harus menyewa komputer dari sekolah-sekolah lain," harap Maria.
Meski begitu, dia bersyukur sekolahnya yang berada di pinggiran Kota Kupang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kupang diperhatikan oleh pemerintah. Dengan kelas baru ini, Maria yakin kegiatan belajar mengajar makin baik.
"Kalau sudah terpisah sudah aman, damai. (Sebelumnya) banyak yang enggak dengerin. Sekolah iklim harus kondusif, gimana kita mulai kalau tidak kondusif," ujar Maria.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda