Wakil Ketua LTMPT, Joni Hermana, ITS/Humas.
Wakil Ketua LTMPT, Joni Hermana, ITS/Humas.

Nilai UTBK Sama, Peluang Bisa Beda

Pendidikan SNMPTN/SBMPTN 2019 SBMPTN 2019
Citra Larasati • 17 Juni 2019 13:49
Jakarta: Banyak siswa dan orangtua yang belum mengetahui, bahwa nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang tercantum di sertifikat hasil tes masih akan melalui proses pembobotan saat masuk ke LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi). Nilai Total UTBK setelah pembobotan itulah yang akan di-ranking oleh rektor di masing-masing PTN untuk proses penerimaan mahasiswa baru.
 
Hal ini dijelaskan Wakil Ketua LTMPT, Joni Hermana, saat dihubungi Medcom.id, Senin, 17 Juni 2019. Proses pembobotan inilah yang dapat membuat dua nilai UTBK yang nilai totalnya sama, bisa saja akan memiliki nilai total terbobot yang berbeda.
 
Hal ini terjadi, akibat bobot nilai sub tes berbeda saat melamar pada program studi (prodi) yang sama, sehingga peluang diterimanya juga menjadi berbeda. Joni menjelaskan, pelaksanaan SBMPTN dengan sistem UTBK yang baru digelar untuk pertama kalinya ini, membuat pendaftar harus memperhatikan sejumlah hal penting.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di antaranya, belum adanya nilai standar UTBK yang bisa dijadikan patokan dalam memperkirakan passing grade setiap prodi (program studi) di PTN."Karena sistem ini baru pertama kali diterapkan, maka kita belum bisa memperkirakan berapa passing grade yang akan masuk ke masing-masing prodi di setiap PTN," kata Joni.
 
Passing grade sendiri, kata Joni, sangat tergantung pada tiga hal. Yakni kuota yang disediakan dari prodi yang dipilih, jumlah siswa yang mendaftar prodi, dan kualitas nilai UTBK dari siswa pendaftar.
 
Baca:Unik, Youtuber Bisa Masuk PTN Lewat Jalur Khusus
 
Karena belum dapat memperkirakan passing grade itulah, Joni menyarankan, beberapa langkah berikut. Pertama, silakan siswa memperhatikan nilai total UTBK-nya saat ini berada di posisi kuartil berapa di antara seluruh siswa UTBK.
 
"Statistik kuartil ini dapat dilihat di laman LTMPT," kata mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.
 
Kemudian, siswa diminta memperhatikan nilai sub tes yang paling tinggi. "Nah pilih prodi yang diminati sesuai dengan nilai sub tes yang paling tinggi tadi. Misalnya, mereka yang ingin ke kedokteran, tentunya harus memiliki nilai Biologi, Kimia dan seterusnya yang tinggi," papar Joni.
 
Karena menurut Joni, nilai total UTBK yang akan menentukan kelulusan SBMPTN adalah total jumlah nilai sub tes yang telah dikalikan bobot sesuai dengan prodi yang akan dipilih atau disebut dengan nilai total UTBK terbobot. Setiap prodi akan memiliki bobot yang berbeda di setiap nilai sub tesnya.
 
Bobot sub tes akan lebih besar untuk prodi yang memerlukan kompetensi sub tes yang terkait. "Jadi nilai sub tes tidak dijumlahkan begitu saja untuk mendapatkan nilai total UTBK untuk seleksi masuk prodi melalui jalur SBMPTN ini," tegas Joni.
 
Nilai total UTBK terbobot itulah yang kemudian di-ranking, sesuai prodi yang dilamar. Baru kemudian diserahkan kepada para rektor untuk diseleksi.
 
Baca:Prodi Manajemen dan Akuntansi Masih Jadi Favorit di UNY
 
Perlu juga diketahui, bahwa proses seleksi SBMPTN, sepenuhnya berada di tangan rektor. Artinya nilai total UTBK terbobot boleh saja tidak menjadi penentu tunggal lolos tidaknya pendaftar.
 
Sebab, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, rektor juga berhak menggunakan kriteria lain (jika dibutuhkan) sebagai penentu kelulusan proses seleksi. "Penggunaan kriteria lain atau hanya akan menggunakan nilai total UTBK saja, itu adalah sepenuhnya kewenangan rektor PTN yang bersangkutan," jelasnya.
 
Baca:Skor UTBK Kecil, Jangan Nekat Pilih Prodi Kedokteran
 
Hal itu, kata Joni, secara definitif akan ditetapkan pada pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTNI) pada 21-22 Juni di Bandung. "Secara Undang-undang, memang seleksi penerimaan mahasiswa baru sepenuhnya hak kewenangan rektor masing-masing PTN," tandasnya.
 
Dari penjelasan di atas, ia meminta pendaftar dan orangtua siswa memahami jika ada dua nilai UTBK yang sama (dijumlahkan begitu saja dari nilai-nilai sub tes), maka kedua nilai UTBK itu belum tentu akan memiliki peluang dan bobot yang sama.
 
Contoh, ada dua siswa dengan nilai UTBK yang sama-sama 800 (yang tercantum dalam sertifikat hasil UTBK). Namun nilai siswa A memiliki nilai sub tes Matematika yang lebih tinggi, maka total nilai UTBK-nya bisa berbeda saat kedua siswa itu memilih prodi yang berbeda.
 
"Si A akan memiliki nilai total dan peluang yang lebih baik jika memilih prodi Informatika, sementara B yang nilai Kimia dan Biologi lebih tinggi akan lebih berpeluang diterima di prodi Kedokteran. Jadi sangat tergantung pembobotan nilai sub tes sesuai dengan prodi yang diminatinya,” imbuhnya.
 
Ia menambahkan, bahwa pendaftaran SBMPTN telah dibuka sejak 10 juni 2019, dan akan ditutup 24 Juni 2019. Pengolahan data (nilai UTBK) untuk proses seleksi akan dilakukan setelah pendaftaran ditutup. Artinya dilakukan setelah 25 Juni 2019.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif