Anak mengaku stres. DOK Magnific
Anak mengaku stres. DOK Magnific

Anak Bilang “Aku Stres”? Ini Respons Tepat Orang Tua Menurut Pakar IPB

Renatha Swasty • 30 Oktober 2026 10:23
Ringkasnya gini..
  • Pakar IPB University, Yulina Eva Riany, mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap kondisi emosional Generasi Alpha yang kini akrab dengan istilah stres.
  • Penggunaan istilah stres oleh anak dipengaruhi paparan media digital, namun stres alami perlu diwaspadai jika mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Squishy membantu menenangkan anak, namun orang tua harus mengajarkan koping emosi yang sehat, komunikasi terbuka, dan menjadi teladan bagi anak.
Jakarta: Generasi Alpha semakin akrab dengan istilah stres, bahkan sebagian menggunakan mainan sensorik seperti squishy untuk membantu menenangkan diri. Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Yulina Eva Riany, mengingatkan agar orang tua lebih peka terhadap kondisi emosional anak dan memahami tekanan yang mereka hadapi sejak dini.

“Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan digital dengan akses informasi luas sehingga lebih sering terpapar istilah psikologis melalui media sosial dan pergaulan. Ketika anak mengatakan ‘Aku stres’, respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak, bukan langsung memberikan penilaian atau nasihat,” jelas Yulina, Jumat, 30 Oktober 2026.

Yulina menjelaskan penggunaan istilah stres oleh anak tidak serta-merta menunjukkan mereka lebih rentan mengalami gangguan psikologis dibandingkan generasi sebelumnya. Stres merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan atau tuntutan tertentu. 

Pada anak, tekanan dapat berasal dari tuntutan akademik, jadwal kegiatan yang padat, paparan media digital berlebihan, konflik pertemanan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi hangat dalam keluarga. Stres perlu diwaspadai apabila berlangsung berkepanjangan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. 

"Tandanya dapat berupa perubahan pola tidur, kehilangan minat bermain, mudah marah, menarik diri, atau keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis yang jelas,” ungkap Yulina.
 
Yulina mengatakan aktivitas sensorik berulang seperti penggunaan squishy dapat membantu sebagian anak menenangkan diri dan mengalihkan perhatian dari situasi menegangkan. Namun, mainan tersebut bukan solusi tunggal mengatasi stres. 

Orang tua juga perlu memastikan keamanan produk serta membantu anak mengembangkan cara lain untuk mengelola emosi. Dia menyarankan orang tua membiasakan anak mengenali dan menamai perasaannya, menerima emosi anak tanpa menghakimi, serta mengajarkan teknik sederhana seperti menarik napas perlahan atau menghitung satu hingga sepuluh. 

Anak juga membutuhkan tidur cukup, asupan nutrisi yang baik, dan waktu bermain yang seimbang. Selain itu, orang tua perlu menjadi teladan dalam mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat. 

Komunikasi yang terbuka dan waktu berkualitas bersama keluarga dapat membantu anak merasa aman untuk menceritakan masalahnya.

“Setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap tekanan. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman, penerimaan, dan dukungan emosional,” pesan Yulina. 
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan