anak-anak dan orang mudanya mulai asing dengan bahasa Tegalan.
Orang tua berusia muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka. Kepedulian terhadap bahasa Tegalan agar tidak punah mendorong komunitas Tegalan melestarikannya lewat ayat-ayat suci.
Al-Qur'an sebagai penuntun menjalankan hidup bagi umat Islam dipakai sekaligus untuk melestarikan bahasa Tegalan.
"Bahasa yang paling menyentuh, bahasa ibunya. Mengawetkan, mengembangkan bahasa daerah tertinggi ya dalam kitab suci, sakral," kata Budayawan Atmo Tan Sidik yang juga tim pembuat Al-Qur'an Tegalan saat berbincang di kediamannya kawasan Kampung Marpangat, Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 23 Oktober 2026.
Al-Qur'an Terjemahan Bahasa Tegal. Medcom.id/Renatha Swasty
Dibuat dalam 7 Bulan Tanpa Dana
Pembuatan Al-Qur'an Terjemahan Bahasa Tegal terbilang singkat hanya membutuhkan waktu 7 bulan. Al-Qur'an terjemahan dari daerah lain seperti Banyumas dan Cirebon membutuhkan waktu hingga 5 tahun untuk menyelesaikan proses serupa.Namun, proses di dalamnya tak mudah. Ide pembuatan muncul dari Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI). Dalam perjalanannya, sempat tak ingin melanjutkan karena tidak ada dananya.
Atmo tak mundur. Dia menemui kenalannya untuk mencari dana agar pembuatan Al-Qur'an Tegalan bisa diluncurkan pada Ramadan 2026.
"Karena itu kami spontanitas. 'Kamu mau wakaf berapa? Dua untuk Bapak Ibu saya yang almarhum' atau 'untuk sekolah saya'," kenang Atmo.
Pembuatan Al-Qur'an Tegalan juga melibatkan tujuh kiai serta tim penerjemah dan validator untuk memastikan terjemahan tidak salah.
Tim pembuatan juga mengalami kendala lain yakni menyatukan dialek Tegalan, meliputi Brebes, Tegal, Slawi, dan Pemalang. Tiap daerah memiliki dialek yang berbeda sehingga perlu diskusi untuk menyamakan.
Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin (kedua dari kiri) bersama tim penerjemah dan validator Al-Qur'an Tegalan: Dyanindra Srikumara, Atmo Tan Sidik, Maufur, dan Lanang Setiawan (dari kiri). Medcom.id/Renatha Swasty
Pembuatan Al-Qur'an Terjemahan Bahasa Tegal merujuk Al-Qur'an terjemahan edisi penyempurnaan Kementerian Agama tahun 2016-2019. Tak jarang perdebatan muncul ketika ada kata dalam bahasa Indonesia yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa Tegal.
Kalau sudah begitu, tim memilih menggunakan bahasa Indonesia demi keamanan makna.
"Misalnya demi. Mau pakai apa? Demi waktu, demi kan sumpah ya. Sumpah, mau pakai apa? Kalau Banyumas, demi waktu, sekawit mangsa. Kita berdebat, kayaknya salah. Sekawit kan awal, jadi awal waktu. Kalau di Tegal, demi pakai bahasa Indonesia, tapi dipakai," beber salah satu tim penerjemah, Lanang Setiawan.
Lanang menyebut cukup banyak diksi-diksi muncul yang menjadi perdebatan semacam itu. Namun, hal itu menjadi makin menarik.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin dan Budayawan Atmo Tan Sidik. Medcom.id/Renatha Swasty
Membumikan Al-Qur'an Terjemahan Tegalan di Kehidupan Sehari-hari
Setelah selesai dibuat pada Maret 2026, kini Al-Qur'an Terjemahan Bahasa Tegal siap diedarkan. Cetakan awal direncanakan sebanyak 500 eksemplar.Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafidz Muksin berharap Al-Qur'an Tegalan ini bisa dimanfaatkan lebih luas dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Misalnya, orang tua mengajarkan anak membaca Al-Qur'an setelah magrib.
"Bisa juga kolaborasi dengan KUA. Jadi, setiap orang yang akan daftar nikah mas kawinnya, seperangkat alat salat dan Al-Qur'an Bahasa Tegal," ujar Hafidz.
Al-Qur'an Bahasa Tegal ini juga bisa dipakai untuk mereka yang akan naik haji. Jemaah haji yang sudah berusia tua diyakini makin paham dengan isi Al-Qur'an ketika membacanya dalam bahasa ibu.
"Al-Qur'an ini tidak hanya sebagai sumber ilmu, pengetahuan, informasi, teknologi, namun juga ada unsur kewarisan nilai-nilai budayaan bahasa daerah. Sehingga ini sudah merupakan upaya untuk melestarikan bahasa daerah," ujar Hafidz.