Founder GSM, Muhammad Nur Rizal, Ph.D., Foto: GSM
Founder GSM, Muhammad Nur Rizal, Ph.D., Foto: GSM

Anggaran Rp724 Triliun vs Skor PISA: Kenapa Pendidikan Kita Tertinggal Setara 5 Tahun?

Citra Larasati • 01 September 2026 14:36
Ringkasnya gini..
  • Indonesia kaya alam dan anggaran triliunan, tapi skor PISA buktikan kapasitas SDM kita tertinggal 5 tahun dari global.
  • GSM ajak pendidik berkaca dari sejarah dunia: adaptasi dan keterbukaan adalah kunci kebangkitan sebuah peradaban.
  • Guru punya peran krusial cetak talenta agar RI tak sekadar jadi penonton di tengah melimpahnya kekayaan alam sendiri.
Jakarta: Indonesia memiliki anugerah kekayaan alam melimpah dan kucuran anggaran pendidikan raksasa. Namun sayangnya, skor evaluasi global seperti PISA masih menunjukkan ketertinggalan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

Realita pahit ini menjadi sorotan utama dalam forum Ngkaji Pendidikan bertajuk “Jatuh Bangunnya Peradaban” yang digagas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM).  Lebih dari 700 guru, dosen, mahasiswa, hingga pemangku kebijakan lintas provinsi berkumpul menelaah akar masalah pendidikan nasional.

Founder GSM sekaligus Dosen DTETI UGM, Muhammad Nur Rizal, Ph.D., membongkar urgensi perubahan mindset pendidikan dengan merefleksikan sejarah peradaban besar dunia seperti Yunani, Romawi, Jepang, dan China.

“Peradaban tidak jatuh dalam satu hari dan tidak bangkit karena satu kebijakan. Peradaban dibangun setiap hari melalui cara suatu bangsa mendidik manusia, memperlakukan gagasan, dan menyediakan ruang untuk bertumbuh," kata Rizal dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.

Belajar dari Runtuh dan Bangkitnya Bangsa Lain

Rizal mengingatkan bahwa kejayaan masa lalu bukan jaminan kelangsungan masa depan. Peradaban sehebat Yunani dan Romawi runtuh karena sistem usang yang tak lagi relevan. Sebaliknya, Jepang dan China berhasil bangkit dengan merombak ekosistem pendidikannya dan terbuka terhadap pengetahuan global.

“Jepang bangkit bukan karena sudah mengetahui jawabannya, melainkan karena berani mengakui, ‘Kami belum tahu,’ kemudian belajar dan mengubah institusi negara," ujarnya. 

Paradoks Kekayaan Indonesia

Tahun 2025, Indonesia menyuntikkan dana fantastis Rp724,3 triliun untuk pendidikan. Dari sisi logistik, Indonesia tak kekurangan apa pun, termasuk status sebagai penguasa 42,3 persen cadangan nikel dunia. Ironisnya, PISA 2022 mengungkap skor matematika, literasi, dan sains pelajar kita tertinggal lebih dari 100 poin dari rata-rata OECD. Angka ini kasarnya setara dengan ketertinggalan lima tahun proses belajar.

Lompatan peradaban tidak akan terjadi jika mineral strategis hanya dikeruk tanpa ada SDM lokal yang mampu mengolahnya menjadi inovasi teknologi bernilai tinggi. Sistem sekolah harus berhenti menyeragamkan murid, dan mulai bergeser menjadi ruang yang menemukan dan memoles talenta unik setiap anak.

“Institusi yang baik bukanlah institusi yang paling banyak mengatur manusia, melainkan yang paling mampu mengembangkan potensi manusia," kata Rizal. 

Perubahan Dimulai dari Ruang Kelas

Paradigma pendidikan kini harus berfokus pada formula: menemukan talenta, menghubungkannya dengan persoalan nyata, dan menggerakkannya menjadi kapasitas bangsa. Di sinilah guru berdiri sebagai garda terdepan pembentuk manusia masa depan. Guru mungkin tidak merancang kebijakan negara secara langsung, tetapi dari tangan merekalah lahir manusia-manusia tangguh yang akan menentukan arah kapal besar bernama Indonesia.

"Kita tidak boleh menjadi penonton atas kekayaan kita sendiri," pungkas Rizal.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan