Ia menegaskan pendidikan yang diberikan sekolah pada dasarnya sudah cukup untuk membekali siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. "Sebenarnya apa yang diberikan di sekolah sudah cukup. Banyak mereka yang tidak ikut bimbel diterima di perguruan tinggi ternama," kata Mu'ti kepada Medcom.id, Rabu 2 September 2026.
Fenomena berburu bimbel belakangan ramai diperbincangkan karena viral di media sosial. Sejumlah orang tua bahkan rela datang sejak subuh untuk mendapatkan tiket pendaftaran bimbingan belajar bagi anak mereka.
Baca juga:
Sekolah Terdampak Asap Kebakaran di Kalimantan Boleh Belajar dari Rumah, Ini Syaratnya |
Muncul anggapan bahwa pendidikan di jenjang menengah belum cukup kompetitif untuk menjadi bekal menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, Mu'ti menilai mengikuti bimbel bukan satu-satunya jalan bagi siswa untuk meraih pendidikan tinggi.
Meski begitu, Mu'ti menghargai keputusan orang tua yang memilih mendaftarkan anak ke bimbel. Hal itu merupakan bagian dari usaha untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak.
"Soal mendaftarkan anak di bimbel itu pilihan orang tua. Itu bagian dari usaha orang tua agar anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik. Tidak perlu dipermasalahkan," ujarnya.
Meski demikian, Mu'ti mengingatkan agar ambisi mempersiapkan anak menghadapi persaingan pendidikan tidak berubah menjadi tekanan. Orang tua diminta tidak memaksakan anak mengikuti berbagai kegiatan belajar tambahan yang justru membebani mereka.
"Yang penting jangan membebani anak," kata Mu'ti.
Di samping itu ia menegaskan sekolah dapat fokus dalam mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan. Karena itu, sekolah didorong terus memberikan layanan pendidikan terbaik agar siswa memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan studi.
"Sekolah hendaknya memberikan layanan pendidikan yang terbaik sehingga para murid memiliki bekal yang cukup untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi," pungkasnya.