Mendikdasmen, Abdul Mu'ti di SMPN 2 Kudus. Foto: Medcom/Citra Larasati
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti di SMPN 2 Kudus. Foto: Medcom/Citra Larasati

Kisah Abdul Mu'ti, Anak Desa Pecinta 'Dunia Dalam Berita' yang Kini Jadi Menteri

Citra Larasati • 01 Agustus 2026 14:19
Ringkasnya gini..
  • Mendikdasmen Abdul Mu'ti berbagi kisah inspiratif dan growth mindset kepada siswa SMPN 2 Kudus.
  • Berawal dari desa dan rajin mendengar radio Australia dan Dunia Dalam Berita di TVRI, ia membuktikan mimpi keliling dunia bisa menjadi nyata.
  • Ia tekankan pentingnya belajar rutin, organisasi, dan doa, bukan sekadar mengandalkan sistem kebut semalam.
Kudus: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menghadirkan wajah pendidikan yang paling sejati. Merangkul, membumi, sembari menyalakan mimpi di hadapan ratusan murid di SMPN 2 di Kudus, Jawa Tengah, kampung halamannya.
 
Di hadapan ratusan siswa yang menatapnya dengan semangat, dan penuh kekaguman, Sang
menteri tidak berdiri sebagai seorang "birokrat Jakarta" yang membawa setumpuk regulasi kaku. Ia memberi sambutan yang ringan berbumbu pantun dan cerita lucu layaknya seorang pencerita ulung. Mencuri perhatian di tengah terik lapangan sekolah yang berdiri di Jalan Jenderal Sudirman Kota Kudus tersebut.
 
Dengan narasi sederhana, ia membedah makna belajar. Bukan dari buku teks tebal, melainkan dari lembaran-lembaran pengalaman hidupnya yang otentik.

“Saya kalau ke sekolah tidak mencatat di buku, tapi di kertas. Satu, dua lembar, dicatat, kenapa? karena kertas bisa dibawa kemana-mana. Bisa dibawa naik angkot, jadi ketika waktu lagi longgar, baca, lagi senggang, baca lagi. Ternyata itu lebih kuat melekat di ingatan,” kata Mu'ti membuka sambutannya di SMPN 2 Kudus, Jawa Tengah, Jumat, 31 Juli 2026.
 
Kisah Abdul Muti, Anak Desa Pecinta Dunia Dalam Berita yang Kini Jadi Menteri
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin di SMPN 2 Kudus. Foto: Medcom/Citra Larasati

Mengenalkan 'Hukum Jost' dalam Belajar

Mu'ti menegaskan, ia bukanlah penganut tradisi "Sistem Kebut Semalam (SKS)" dalam belajar. Hal ini ditegaskannya saat menjabarkan sebuah konsep psikologi memori yang dikenalkannya sebagai 'Hukum Jost' (Jost's Law) di hadapan para siswa SMPN 2 Kudus.
 
Untuk memudahkan pemahaman para siswa, Mu'ti mengemas Hukum Jost melalui analogi matematika sederhana yang membandingkan dua metode belajar. "Mengapa '2 x 10' jauh lebih efektif daripada '10 x 2', meski hasil akhirnya sama-sama 20," tanya Mu'ti yang disambut riuh siswa yang berebut menjawab soal tersebut. 
 
Keberanian itu pun muncul dari Talitha, siswi kelas delapan yang dengan lantang menjawab teka teki yang Mu'ti lemparkan.
 
“Karena sudah jelas, dua kali sepuluh itu lebih baik Kenapa? Karena sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Jadi kalau misalnya kita belajar sedikit demi sedikit, kita bisa langsung paham daripada kita belajar banyak. Semisal kita belajar langsung satu buku full, tapi yang masuk cuma sedikit. Jadi lebih baik sedikit demi sedikit, tapi kita paham lebih banyak,” jawab Talitha yang disambut Mu'ti dengan kagum, melihat siswi tersebut menjawab dengan tegas dan percaya diri. 
 
Dalam konteks penyerapan ilmu, "dua kali sepuluh" merepresentasikan metode belajar yang dicicil secara rutin atau spaced repetition. Mempelajari materi sedikit demi sedikit memberi waktu bagi otak untuk memproses dan mengendapkan informasi, sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.
 
Sebaliknya, "sepuluh kali dua" diibaratkan seperti menjejalkan isi satu buku penuh dalam satu malam atau "SKS". Meski kuantitas materi yang dipelajari sama, informasi yang diserap secara sporadis ini hanya akan mengendap di memori jangka pendek.
 
"Menurut teori memori, kalau kita mengingat atau menghafalkan sesuatu (dalam satu waktu), saat itu kita mungkin bisa hafal 80 persen. Tapi begitu besok pagi, yang tersisa tinggal 20 persen," jelas Mu'ti memberikan gambaran betapa rapuhnya ingatan dari hasil belajar SKS. Momen tersebut menjadi jembatan narasi yang brilian bagi Mu'ti untuk mendekonstruksi budaya belajar instan yang sering meracuni mental pelajar. “Jadi kalau kalian jangan 'SKS' sistem kebut semalam. Rutin, yang penting rutin. Karena menurut teori memori kalau kita itu mengingat sesuatu, kita hafalkan begini, pada saat berapa kita hafal, yang hafal bisa 80 persen. Tapi begitu sudah besok pagi, tinggal bisa tinggal 20 persen," ujar Mu'ti.
 
Secara ilmiah, Hukum Jost yang dirumuskan oleh psikolog Adolph Jost pada tahun 1897 memang menegaskan bahwa ingatan akan melekat lebih kuat jika proses mempelajarinya didistribusikan dalam beberapa waktu yang berbeda, dibandingkan dipelajari sekaligus secara maraton.
 
Melalui penjelasan ini, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas, konsistensi mengalahkan intensitas yang dipaksakan. Mu'ti pun mengingatkan para pelajar agar tidak lagi memaksakan diri belajar semalam suntuk menjelang ujian.
 
"Bukan kita belajar semalam suntuk sampai kepalanya diikat. Rutin, yang penting rutin. Belajarlah dengan gembira dan prinsipnya harus semangat," ujar Mu'ti yang dalam kunjungan tersebut didampingi Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin tersebut.
 
​Sebuah pengingat bahwa proses belajar yang baik seharusnya tidak menyiksa, melainkan memberdayakan.  “Semua orang punya pengalaman gagal.Tapi gagal tidak berarti akhir dari segalanya Karena itu, kita harus punya namanya Growth Mindset,” tutur Mu'ti.
 
Dialog kembali terjalin saat seorang siswa kelas 9 yang akrab disapa Bara, maju untuk mengartikan konsep tersebut. “Pemikiran, bertumbuh kembang. Growth Mindset itu," ujar Bara lugas.
 
Mu'ti memperkuat jawaban Bara dengan sebuah analogi yang sangat relevan bagi anak sekolah. “Karena itu ketika Anda misalnya ulangan Nilainya 5 Itu bukan akhir segalanya Tapi anda lihat kenapa nilainya 5, bagaimana memperbaikinya, dan seterusnya. Sehingga anda terus ingin maju dan menganggap kegagalan bukan akhir segalanya Tapi proses anda menjadi hebat," tegas Mu'ti.

Anak Desa Jadi Menteri

Puncak dari inspirasi pagi itu di Kudus adalah ketika Mendikdasmen membuka lembar masa lalunya, membuktikan bahwa tempat lahir tidak menentukan batas akhir pencapaian seseorang.
 
"Dari sebuah desa di Getassrabi, bahkan kalian saja ada yang tidak tahu. Ada seorang dari desa itu menjadi menteri. Nggak kebayang, kan? Nggak kebayang, bahkan It's beyond my childhood dream. It's beyond my imagination. But this is me. Karena itu kalian semua harus menjadi anak yang percaya diri Jangan menjadi rendah diri hanya karena Anda orang desa. Jangan menjadi rendah diri karena Anda anak orang biasa-biasa saja,” bebernya lagi.
 
Kisah Abdul Muti, Anak Desa Pecinta Dunia Dalam Berita yang Kini Jadi Menteri
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti saat berdialog dengan siswa di SMPN 2 Kudus, Jawa Tengah. Foto: Medcom/Citra Larasati
 
Di lapangan upacara SMPN 2 Kudus itu juga, ia menyelipkan pesan penting tentang kedisiplinan dan spiritualitas. “Tapi dengan kebiasaan-kebiasaan baik kalian bisa menjadi anak-anak yang tangguh bermartabat. Biasakan untuk bangun pagi Jangan karena harus membuat laporan Tapi that is for you. Biasakan berdoa ketika Anda memulai hari dan mengakhiri hari," ujarnya.
 
Untuk menegaskan pentingnya doa dan berserah diri di atas segala logika manusia, Mu'ti juga menceritakan pengalaman menegangkan saat menumpang pesawat canggih dari Abu Dhabi ke Amerika yang mengalami turbulensi hebat. “Goncangan itu terjadi di luar prediksi sistem yang dimiliki. Karena itu banyak hal terjadi, karena kehendak Tuhan, karena takdir Tuhan sehingga dekatkan diri. Mau belajar berdoa, Mau makan berdoa, Bahkan mau tidur pun berdoa," serunya.
 
Tapi yang penting lagi tentu, kata Mu'ti, adalah belajar.  Bagaimana seorang anak desa bisa menembus batas dunia? Rahasianya ada pada visi dan imajinasi yang dipupuk sejak dini.
 
"Pak Menteri mendengarkan English from Radio Australia every morning. I didn't go to any English course, tidak kemana-mana, because it is unaffordable. Tidak bisa dibiayai oleh orang tua saya. But I have the spirit Saya punya semangat untuk maju," tegas Mu'ti yang disambut riuh tepuk tangan siswa. 

Penonton Setia "Dunia Dalam Berita"

Bahkan tontonan masa kecilnya pun berbeda dari anak-anak seusia Mu'ti kecil pada umumnya. Ia menuturkan kebiasaan uniknya saat kecil, yakni rajin menonton program Dunia Dalam Berita yang kala itu disiarkan di TVRI. 
 
“Kalau jam 9 saya nonton TV Tapi nontonnya Dunia Dalam Berita sendirian. Saya carikan bagian acara TV yang banyak orang tidak tertarik. Apa sih nonton Dunia Dalam Berita. Tapi saya sudah tahu bagaimana dunia dan saya bayangkan negara-negara di dunia seperti apa. Jadi itu membangun mimpi Abdul Mu'ti kecil. Bagaimana ya kira-kira bisa kuliah di Australia. Bagaimana ya kira-kira bisa keliling dunia," ujar Mu'ti.
 
Melanjutkan kisahnya, Mu'ti mengatakan, mimpi yang dipupuk lewat siaran radio dan tayangan berita itu akhirnya berbuah manis. “Dan ternyata the dream come true. Pada tahun 1995 Saya mendapatkan beasiswa S2 ke Australia," ungkap lulusan S2 Flinders University, Adelaide, Australia ini.
 
Namun, ia mengingatkan bahwa pintar secara akademik saja di era kekinian tidak cukup. Keterampilan sosial adalah kunci kelangsungan hidup. “Jangan jadi anak yang hanya Belajar belajar-belajar, tapi tidak aktif berorganisasi. Tidak aktif bersosialisasi," ujar peraih gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. 
 
Kini, bocah desa penikmat siaran Dunia Dalam Berita itu telah menjelajahi puluhan negara yang dulu hanya ada dalam imajinasinya. “Sekarang Pak Menteri sudah ke 55 negara di dunia. Jadi negara-negara yang dulu Pak Menteri bayangkan hanya dari nonton di Dunia Dalam Berita itu Semuanya sudah Pak Menteri kunjungi,” tandasnya.
 
Bahwa sebaik-baiknya sistem pendidikan, pada akhirnya muaranya ada pada sosok pendidik yang mampu menularkan semangat, menanamkan growth mindset, dan meyakinkan setiap anak. dari latar belakang apapun, bahwa dunia ini terlalu luas untuk tidak ditaklukkan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan