Wamendiktisaintek Stella Christie. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Wamendiktisaintek Stella Christie. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Waduh! Ternyata Pemanfaatan AI Boros Energi, Bahkan Setara Satu Negara

Ilham Pratama Putra • 23 Juli 2026 17:20
Ringkasnya gini..
  • Stella menilai biaya energi AI jarang dibahas di tengah euforia teknologi.
  • Konsumsi energi AI diproyeksikan setara Kanada pada 2030.
  • AI dinilai belum menghasilkan terobosan sebanding dengan biaya lingkungannya.
Riau: Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi teknologi yang mampu merevolusi berbagai sektor. Mulai dari kesehatan hingga pendidikan. 
 
Namun, di balik potensi tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan AI memiliki konsekuensi besar terhadap kebutuhan energi dan sumber daya alam. Menurut Stella, pembahasan mengenai AI selama ini lebih banyak berfokus pada manfaat yang mungkin dihasilkan, sementara biaya lingkungan yang harus ditanggung justru jarang mendapat perhatian. 
 
Stella menjelaskan konsumsi listrik dan air bersih untuk menopang operasional pusat data AI terus meningkat. Bahkan konsumsi energi yang digunakan untuk operasional sistem AI diperkirakan setara dengan kebutuhan energi sejumlah negara setiap tahun.

Stella mengatakan setiap kali masyarakat menggunakan layanan AI seperti ChatGPT, Claude, maupun Gemini, terdapat biaya energi yang bekerja di balik layar. Menurut dia, seluruh proses komputasi tersebut berlangsung di pusat data (data center) yang membutuhkan pasokan listrik dan sistem pendingin dalam jumlah sangat besar.
 
"Mungkin adik-adik sekalian belum pernah berpikir tentang betapa rakusnya artificial intelligence. Setiap kalian mengetik di ChatGPT, Claude, atau Gemini, apa pun yang kalian tanyakan itu ada biayanya," ujar Stella dalam Acara Tanoto Scholars Gathering 2026, di Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis 23 Juli 2026. 
 
Baca juga: 
 
 

 
Ia memaparkan sejumlah estimasi menunjukkan konsumsi energi AI meningkat sangat cepat dari tahun ke tahun. Pada 2024, kebutuhan energi AI diperkirakan setara dengan konsumsi listrik negara Latvia selama satu tahun, kemudian meningkat menjadi setara Rumania pada 2025, Republik Ceko pada 2026.
 
"Diperkirakan penggunaan energi untuk AI setara konsumsi energi  Italia pada 2028, Inggris Raya pada 2029, hingga diproyeksikan menyamai konsumsi energi Kanada pada 2030," jelasnya. 
 
Meski demikian, Stella menekankan seluruh angka tersebut masih berupa estimasi karena perusahaan pengembang AI tidak membuka data konsumsi energi mereka secara rinci. Namun, menurutnya, tren peningkatan kebutuhan energi tersebut tetap menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan ketika dunia semakin bergantung pada AI.
 
Stella mengingatkan besarnya konsumsi energi tersebut terjadi ketika AI masih berada pada tahap awal pemanfaatannya. Ia menilai teknologi tersebut bahkan belum benar-benar menghasilkan berbagai terobosan besar yang selama ini dijanjikan, seperti menemukan obat kanker, menulis novel terlaris, ataupun membangun perusahaan kelas dunia.
 
"Yang kita lihat selama ini adalah potensi. AI belum menyembuhkan kanker, belum menulis novel yang paling laris, juga belum membangun perusahaan Fortune 500, tetapi hari ini pun sudah sedemikian rakusnya," kata Stella.
 
Selain listrik, Stella juga menyoroti besarnya kebutuhan air bersih untuk mendinginkan pusat data AI. Ia menyebut estimasi pada 2025 menunjukkan GPT-4 saja membutuhkan air bersih setara kebutuhan air minum sekitar 1,2 juta orang, yang kemudian menguap selama proses pendinginan.
 
Menurut dia, kondisi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan penting ketika masyarakat terus mendorong pemanfaatan AI di berbagai sektor. Ia mengajak publik tidak hanya melihat potensi teknologi tersebut, tetapi juga menghitung biaya lingkungan yang harus dibayar agar AI dapat terus berkembang.
 
"Kalau AI benar-benar menemukan obat kanker nanti, seberapa besar energi dan sebanyak apa air minum yang akan terevaporasi dari dunia ini? Ini pertanyaan yang harus kita pikirkan bersama. Jadi sangat seyang sekalai AI ini justru untuk membuat meme kucing," ujar Stella.
 
Baca juga: Indonesia Harus Tentukan Spesialisasi Riset Berbasis AI  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan