Wamendiktisaintek Stella Christie. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Wamendiktisaintek Stella Christie. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Indonesia Harus Tentukan Spesialisasi Riset Berbasis AI

Ilham Pratama Putra • 17 April 2026 15:19
Ringkasnya gini..
  • Indonesia harus memiliki spesialisasi riset berbasis AI.
  • Riset berbasis AI di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara lain.
  • Wamendiktisaintek Stella menilai ekosistem rumput laut dapat dijadikan riset berbasis AI di Indonesia.
Jakarta: Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mendorong Indonesia memiliki bidang spesifik dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), utamanya dalam bidang riset. Salah satu potensi ada di rumput laut.
 
"Indonesia perlu menentukan bidang spesialisasi yang menjadi kekuatan nasional," kata Stella dalam keterangan tertulis dikutip Jumat, 17 April 2026. 
 
Stella mengatakan kesenjangan kemampuan pemanfaatan AI di Indonesia dengan luar negeri cukup nyata. Di luar negeri, sudah banyak negara yang memiliki produksi, paten, dan publikasi ilmiah di bidang AI. 

"Seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang dan India," tutur dia. 
 
Dia menyebut salah satu potensi riset berbasis AI di Indonesia adalah rumput laut. Stella mengatakan Indonesia merupakan penghasil rumput laut terbesar di dunia. 
 
Baca juga: IPB Gandeng Hainan University Perkuat Kolaborasi Riset Tropis dan Inovasi

"Bahwa spesialisasi seperti inilah yang perlu digencarkan pembangunannya," jelas dia.
 
Stella mendorong pengembangan pengetahuan, investasi, dan infrastruktur secara tepat guna sebagai strategi mengejar kesenjangan yang dialami Indonesia dalam pemanfaatan AI. Dengan begitu, ia meyakini ketertinggalan Indonesia dapat dikejar. 
 
"Saat kita mengalami kesenjangan, kita harus lihat kenyataan berdasarkan data. Asah kemampuan yang tepat dan terspesialisasi, investasi kepada hal-hal yang mendukung jawaban dari apa yang dibutuhkan Indonesia, dan bangun infrastruktur di negara sendiri setelah memiliki sumber daya yang dibutuhkan,” jelas dia.
 
Stella juga menyinggung pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan sektor swasta melalui pendekatan konsorsium dan kemitraan riset. Kemendiktisaintek telah mendorong transformasi kebijakan pembiayaan riset yang tidak lagi hanya bergantung pada pemerintah. 
 
"Tetapi juga melibatkan sektor industri dalam menjawab kebutuhan nyata pembangunan nasional," ujar dia.
 
Pada aspek infrastruktur, Stella menyoroti pentingnya kemandirian dalam pengelolaan data sebagai salah satu aset utama Indonesia. Stella menilai AI hanya terdiri dari data, algoritma, dan kekuatan processing
 
Baca juga: 18.215 Riset Kampus Terima Pendanaan Rp1,7 Triliun

Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi ketersediaan data, yang dapat menjadi modal strategis untuk pengembangan AI. Dengan catatan, apabila masyarakat memiliki kesadaran mengelola data dengan baik dan aman di dalam negeri.
 
Stella juga mengingatkan pembangunan infrastruktur seperti pusat data (data center) harus mempertimbangkan kesiapan energi yang stabil. Termasuk mempertimbangkan keterjangkauan, berkelanjutan, serta dirancang agar tidak membebani kebutuhan energi masyarakat.
 
"Bahwa strategi pemanfaatan AI di Indonesia harus berbasis pada kebutuhan nasional. AI harus kita gunakan untuk pembangunan Indonesia, bukan sebaliknya. Dengan strategi yang tepat pada pendidikan, investasi, dan infrastruktur, kita dapat memperkecil kesenjangan dan meningkatkan daya saing bangsa,” ujar Stella.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan