Wakil Rektor IPB University Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Ernan Rustiadi, menyatakan kerja sama ini merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring global sekaligus meningkatkan dampak riset. Kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci untuk menghasilkan riset yang aplikatif dan berdampak luas bagi masyarakat.
“IPB University berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mendorong inovasi, penguatan kapasitas, dan pengembangan SDM,” ujar Ernan dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 April 2026.
Dia menjelaskan IPB University memiliki keunggulan pada bidang pertanian, ilmu kelautan, dan lingkungan yang relevan dengan tantangan global saat ini. Berbagai capaian internasional telah diraih, antara lain masuk peringkat 48 dunia untuk bidang Agriculture & Forestry berdasarkan pemeringkatan QS World University Rankings (QS WUR) by Subject 2026.
Vice President Hainan University, Prof Qiu Xiguang, menegaskan kerja sama ini diarahkan pada pengembangan platform kolaborasi yang konkret dan berkelanjutan. “Kami berharap dapat mendorong berbagi sumber daya, saling melengkapi keunggulan, serta mencapai perkembangan bersama antara kedua universitas,” kata dia.
Dia mengatakan Hainan University merupakan bagian dari inisiatif nasional Double First-Class, program pemerintah Tiongkok untuk mengembangkan universitas dan disiplin ilmu unggulan berkelas dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, institusinya terus mengalami peningkatan kualitas, termasuk melalui penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi internasional.
Kesamaan karakter wilayah tropis antara Indonesia dan Hainan menjadi peluang besar bagi kedua institusi untuk mengembangkan riset bersama. Fokus kolaborasi mencakup komoditas strategis seperti pisang, nanas, singkong, dan kedelai, serta kajian perubahan iklim, termasuk potensi dampak fenomena El Nino Godzilla terhadap sektor pertanian dan pangan.
Wakil Rektor IPB University Bidang Konektivitas Global, Kerjasama, dan Alumni, Iskandar Z Siregar, menekankan pentingnya integrasi berbagai disiplin ilmu dalam kerja sama ini. “Kita perlu memprediksi dan mengantisipasi teknologi serta pendekatan yang dapat digunakan untuk memitigasi risiko El Nino tersebut,” ujar dia.
Selain riset, kerja sama juga mencakup pengembangan program pendidikan bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen seperti joint double degree, serta kolaborasi dengan industri. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas akademik kedua institusi sekaligus menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News