Prof Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater memaparkan tarian Rumi. (Foto: Talitha Islamey/Medcom.id)
Prof Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater memaparkan tarian Rumi. (Foto: Talitha Islamey/Medcom.id)

Sains di Balik Tarian Rumi: Bagaimana Ritual Sufi Mempengaruhi Otak dan Kebahagiaan

Muhammad Syahrul Ramadhan • 03 April 2026 19:00
Ringkasnya gini..
  • Whirling Dervishes yang dipopulerkan oleh Jalaluddin Rumi memiliki dampak biologis yang nyata pada otak manusia.
  • Setiap gerakan memiliki kaitan erat dengan manajemen emosi dalam konteks psikiatri.
  • Prof. Tarhan, saat seseorang melakukan tarian berputar dengan penuh penghayatan, bagian otak yang paling aktif adalah lobus frontal.
Jakarta: Selama berabad-abad, tarian berputar atau Whirling Dervishes yang dipopulerkan oleh Jalaluddin Rumi dikenal sebagai bentuk meditasi bergerak untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, di era modern ini, sains mulai mengungkap bahwa gerakan tersebut bukan sekadar ritual budaya, melainkan memiliki dampak biologis yang nyata pada otak manusia.
 
Dalam sesi public talk bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health”, Prof. Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater terkemuka, memaparkan hasil penelitiannya yang dipublikasikan pada tahun 2014 mengenai pengaruh ajaran dan praktik Rumi terhadap fungsi otak.

Aktivasi "Pusat Kebahagiaan" di Otak

Berdasarkan penelitian Prof. Tarhan, saat seseorang melakukan tarian berputar dengan penuh penghayatan, bagian otak yang paling aktif adalah lobus frontal (prefrontal cortex). Bagian ini merupakan pusat kendali yang mengatur perasaan, pengambilan keputusan, dan perilaku sosial manusia.
 
Stimulasi pada bagian ini memicu pelepasan hormon kebahagiaan secara alami. Penelitian yang serupa juga ditemukan pada praktisi meditasi Buddhis, di mana kondisi ketenangan mendalam tercapai saat seseorang merasa kebutuhan emosionalnya terpenuhi melalui koneksi spiritual.

"Tarian Rumi membuktikan bahwa kebahagiaan sejati dapat dijemput secara biologis melalui stimulasi otak yang selaras dengan penyerahan diri secara spiritual,” ujar Prof. Dr. Nevzat Tahran.
 

Filosofi Gerakan dan Respon Saraf


Tarian Rumi bukan sekadar berputar tanpa makna. Setiap gerakan memiliki kaitan erat dengan manajemen emosi dalam konteks psikiatri:
 
Berputar dari Kiri ke Kanan
 
Dimulai dari arah hati, melambangkan perjalanan hati menuju Tuhan. Secara neurologis, fokus pada gerakan ritmis ini membantu menenangkan sistem saraf yang tegang.
 
Tangan Kanan ke Atas, Tangan Kiri ke Bawah
 
Melambangkan proses menerima rahmat dari Allah untuk disalurkan kepada sesama makhluk. Hal ini menciptakan perasaan "bermakna" dalam diri manusia, yang menurut Prof. Tarhan adalah kunci kebahagiaan autentik.
 
Kepala yang Menunduk
 
Simbol tawadhu (rendah hati) yang secara psikologis berfungsi untuk menekan ego atau narsisme yang sering menjadi sumber stres masyarakat modern.
 
Melepaskan "Jubah Hitam" Nafsu
 
Dalam perspektif psikiatri, proses pelepasan jubah hitam sebelum menari adalah simbol dari penyucian jiwa. Dalam tarian ini, seseorang diajak untuk "meleburkan diri" atau mencapai titik nihilnya ego. Ketika ego mengecil, kecemasan terhadap duniawi pun berkurang.
 
"Manusia datang ke dunia ini untuk mendidik nafsunya agar mencapai hakikat kebenaran," ungkap Prof. Tarhan. Dengan mengikat nafsu yang disimbolkan dengan ikat pinggang hitam pada kostum penari seseorang belajar untuk mengendalikan emosi, bukan dikendalikan olehnya.
 
Temuan ini membuktikan bahwa praktik Tasawuf yang diajarkan Rumi 700 tahun lalu sangat relevan sebagai terapi kesehatan mental modern. Dengan menggabungkan akal dan wahyu, manusia dapat mencapai kondisi perasaan hadir sepenuhnya di hadapan Tuhan yang membawa kedamaian abadi, bahkan di tengah situasi tersulit sekalipun.
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>