Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. DOK IG @prof.stellachristie
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. DOK IG @prof.stellachristie

Bukan Sekadar Teori Kuno, Wamen Stella Ungkap 3 Bukti Filsafat Masih Relevan di Era AI

Bramcov Stivens Situmeang • 07 Mei 2026 13:41
Ringkasnya gini..
  • Stella Christie menyebut filsafat masih dibutuhkan bahkan melahirkan kecerdasan buatan hingga batas pengetahuan manusia modern.
  • Stella menuturkan ada tiga bukti terkait filsafat masih dibutuhkan.
  • Stella menyebut sains membutuhkan filsafat.
Jakarta: Selama ini, filsafat kerap dianggap sebagai ilmu usang yang tak lagi relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menyebut filsafat masih dibutuhkan bahkan melahirkan kecerdasan buatan hingga batas pengetahuan manusia modern.
 
“Apakah filsafat masih relevan dan berguna? Sangat. Kita pikirin, PhD. Saya ilmuwan kognitif, suami saya Profesor Fisika, kita semua gelarnya PhD, Doctor of Philosophy atau Dokter Filsafat. Kenapa? Karena sains berasal dari filsafat,” kata Stella dalam akun Instagram @prof.stellachristie dikutip Kamis, 7 Mei 2026.
 
Stella menuturkan ada tiga bukti terkait filsafat masih dibutuhkan. Pertama, dia menyebut Artificial Intelligence (AI) tidak lahir semata dari laboratorium teknologi, melainkan dari pertanyaan filosofis yang diajukan matematikawan Alan Turing.

Pertanyaan “Can Machines Think?” atau “Apakah mesin bisa berpikir?” pertama kali dipublikasikan dalam jurnal filsafat Mind: A Quarterly Review of Psychology and Philosophy. Fakta itu menjadi bukti lahirnya AI berakar dari pemikiran filsafat.
 
Bukti kedua, berkaitan dengan batas antara sains dan pseudosains, seperti astrologi. Dikutip dari laman history.princeton.edu, pseudosains adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tampak seperti sains, tetapi sebenarnya tidak didasarkan pada metode ilmiah yang dapat dibuktikan kebenarannya.
 
Biasanya, pseudosains bersifat menyesatkan atau tidak memiliki dasar bukti yang kuat. Stella menjelaskan filsuf Carl Popper memperkenalkan konsep falsifikasi, yaitu gagasan bahwa sebuah teori hanya dapat disebut ilmiah apabila bisa diuji dan berpotensi dibuktikan salah.
  "Contohnya saat Einstein memperkenalkan teori relativitas, dia memprediksi bahwa cahaya bisa dibelokkan oleh matahari saat terjadi gerhana. Jika ini tidak terjadi kita bisa langsung tahu bahwa teorinya salah," ungkap dia.
 
Sementara itu, astrologi dinilai berbeda karena ramalannya cenderung bersifat umum sehingga terasa selalu benar bagi banyak orang. "Berbeda dengan astrologi yang selalu terasa benar. Saya bacain ya, peruntungan Zodiac hari ini, emosi cenderung mudah terpancing hari ini. Ya pastilah tiap hari juga emosi mudah terpancing, selalu terasa benar astrologi, ya kan?," beber Stella.
 
Berikutnya, bukti terakhir datang dari pemikiran matematikawan Kurt Gödel mengenai keterbatasan pengetahuan manusia. Stella mengatakan akan selalu ada hal benar yang tidak bisa sepenuhnya diketahui manusia.
 
"Arti gampangnya untuk seorang ilmuwan seperti saya tidak akan habis pekerjaan karena ada selalu hal yang harus kita temui atau kita discover. Tapi saat ini AI memproduksi mathematical proof lebih cepat daripada yang manusia bisa baca. Ini membuat kita bertanya-tanya apakah kita bisa bilang kita tahu ketika kita tidak bisa membacanya," jelas dia.
 
Stella juga menyoroti tantangan baru di era AI ketika mesin mampu menghasilkan bukti matematika lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan manusia untuk membacanya. Menurut dia, kondisi ini memunculkan pertanyaan filosofis baru mengenai hakikat pengetahuan.
 
Dia menyebut pertanyaan mengenai “What really is knowledge?” kini tengah diteliti secara matematis. Penelitian tersebut dilakukan oleh peraih Fields Medal, penghargaan yang kerap disebut sebagai Nobel di bidang matematika sekaligus rekannya, Michael Freedman.
 
Stella juga merekomendasikan buku Gödel, Escher, Bach karya Douglas Hofstadter bagi siapa saja yang ingin mendalami hubungan antara filsafat, matematika, dan ilmu kognitif. "Singkat kata, sains membutuhkan filsafat," tegas dia.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA