Dalam video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 itu, Maudy membagikan refleksi tentang cara menjaga kesehatan mental di tengah berbagai kabar buruk. Ia membahas sejumlah masalah pelik mulai dari bencana alam, kelangkaan BBM, hingga kebakaran hutan.
Alih-alih mendapat respons positif, video tersebut justru memicu perdebatan luas di media sosial. Sejumlah warganet menilai Maudy menunjukkan sikap tone-deaf atau kurang peka terhadap situasi sosial di sekitarnya.
Kritik utama diarahkan pada latar tempat pembuatan video yang memperlihatkan suasana mewah di dapur dengan makanan sehat. Warganet merasa hal tersebut sangat kontras dengan kenyataan pahit yang sedang dihadapi oleh masyarakat di lapangan.
Setelah menuai banyak kritik, Maudy akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan klarifikasi secara terbuka. Ia mengakui kemampuan untuk mengambil jarak dari pemberitaan merupakan sebuah hak istimewa (privilege) yang tidak dimiliki semua orang.
Lantas, apa sebenarnya arti tone-deaf? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Tone-Deaf?
Mengutip laman dictionary.com, secara harfiah, istilah tone-deaf merujuk pada ketidakmampuan seseorang dalam mengenali perbedaan nada atau tinggi rendahnya suara dalam musik. Namun, dalam konteks modern dan perilaku sosial, istilah ini mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan.Melansir laman The Week, secara metaforis, tone-deaf berarti ketidakpekaan terhadap sentimen publik, sikap, atau preferensi masyarakat di sekitarnya. Orang yang tone-deaf sering kali dinilai kurang memiliki wawasan emosional, tidak peka, bersikap masa bodoh, atau bahkan kejam terhadap penderitaan sesama manusia.
Menjadi tone-deaf di kehidupan saat ini berarti bersikap tidak peduli, ceroboh, dan acuh tak acuh terhadap situasi di sekitar. Sikap tersebut bahkan dapat berubah menjadi tindakan yang kejam terhadap sesama manusia yang sedang mengalami kesusahan.
Komentar Terkait Tone-Deaf. DOK Youtube Maudy Ayunda
Bentuk-Bentuk dan Kategori Tone-Deaf
Berdasarkan pembahasan teks, perilaku tone-deaf dalam kehidupan sosial dapat dibagi menjadi beberapa kategori utama:
1. Sikap Hipokrit dan Acuh Tak Acuh
Sikap ini termasuk ke dalam situasi yang disengaja ketika figur publik atau tokoh penting menunjukkan ketidakpedulian yang mencolok terhadap krisis yang sedang menimpa masyarakat luas.2. Ketidaksengajaan atau Kecerobohan Spontan
Kasus ketika orang yang sebenarnya baik dan bijak secara tidak sadar membuat kesalahan komunikasi karena kurang berpikir panjang (thoughtless).3. Keistimewaan yang Tidak Disadari (Privilege Blindness)
Situasi ketika seseorang gagal melihat realitas hidup orang lain karena mereka terbiasa hidup dalam kenyamanan atau memiliki jarak dari masalah nyata.Cara Menyikapi Sikap Tone-Deaf
Teks tersebut juga menguraikan bagaimana masyarakat dapat merespons tindakan tone-deaf yang terjadi di ruang publik:1. Evaluasi dan Koreksi Diri
Bagi pelaku yang tidak sengaja melakukannya, teguran publik sering kali menjadi sarana pembelajaran untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan.2. Melakukan Kritik Konstruktif
Warganet dapat menyuarakan kritik secara terbuka agar figur publik menyadari dampak dari konten atau tindakan yang mereka bagikan.3. Menyatukan Suara Bersama
Menggalang kekuatan kolektif untuk menyuarakan perspektif yang benar untuk menenggelamkan sikap acuh tak acuh yang dipamerkan oleh pihak tertentu.Contoh Penggunaan Kata Tone-Deaf dalam Percakapan
Berikut beberapa cara menggunakan istilah tone-deaf dalam kalimat agar tidak kaku:- "Pernyataan pejabat tersebut dinilai sangat tone-deaf di tengah kesulitan ekonomi yang sedang dirasakan oleh masyarakat kecil."
- "Unggahan pamer gaya hidup mewah saat banyak warga terkena bencana menuai kritik karena dianggap tone-deaf."
- "Meskipun tidak ada niat buruk, komentar yang ia berikan terasa sangat tone-deaf bagi orang-orang yang sedang berjuang."