Melalui akun Threads miliknya, kreator konten Bima Yudho Saputro membandingkan sikap Cinta Laura dan Maudy Ayunda dalam berbicara mengenai keadilan.
“Cinta Laura dinilai memiliki suara yang lebih lantang dalam memperjuangkan keadilan dibanding Maudy Ayunda,” tulis Bima Yudho Saputro, dikutip dari akun Threads @awbimax pada Senin, 14 September 2026.
Latar Belakang Pendidikan dan Beasiswa
Menurutnya, Cinta Laura menggunakan biaya pribadi untuk menempuh pendidikan ke luar negeri. Berbeda dengan Maudy Ayunda yang diketahui merupakan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) milik pemerintah.“Alasannya, ia menempuh pendidikan di luar negeri tanpa menggunakan dana dari pajak rakyat, meski berasal dari keluarga berada,” tulis Bima.
Ia juga menganggap Cinta Laura sebagai figur kuat yang mampu menghadapi segala tantangan di Indonesia.
Sebagai informasi, Maudy Ayunda menempuh studi S-1 dengan mengambil jurusan Philosophy, Politics, and Economics (PPE) di University of Oxford, Inggris, dan lulus pada 2016. Ia pun melanjutkan pendidikan S-2 dengan beasiswa LPDP di Stanford University, Amerika Serikat, serta meraih dua gelar sekaligus, yaitu Master of Business Administration (MBA) dan Master of Arts in Education (MA).
Sementara itu, Cinta Laura menempuh studi di Columbia University, New York, Amerika Serikat, salah satu kampus anggota Ivy League. Ia diketahui mengambil double degree jurusan Psikologi dan Sastra Jerman, lalu lulus dengan predikat cum laude hanya dalam waktu tiga tahun.
Sorotan Warganet atas Peran Awardee LPDP
Dalam kolom komentar unggahan tersebut, sebagian besar warganet setuju dengan pendapat Bima.“Yang satu beneran queen, yang satu cuma queen wannabe, se-ujung jari pun ga ada apa-apanya dibanding Cinta Laura dia,” tuli seorang warganet.
Beberapa warganet menilai bahwa Maudy Ayunda seharusnya lebih vokal dalam membicarakan isu yang terjadi di Tanah Air. Hal ini mengingat dirinya menempuh pendidikan menggunakan uang yang bersumber dari pajak masyarakat Indonesia.
“MA justru harus lebih speak louder, karena dia penerima LPDP, dibiayai kuliah dari tax rakyat. Makin harus dia bersuara, makin harus belain rakyat. Banyak kok awardee-awardee lain yg bersuara lantang. Emang dasar si MA aja tone deaf udah bawaan lahir. Bikin skincare pake buah dll dari Papua, tapi bersuara tentang Papua juga ga. Murni mau ambil resources dan memperkaya diri aja,” tulis warganet yang lain.
“Harusnya kalau sadar pake uang rakyat maudy should have spoken more loudly dong, buat belain hak-hak rakyat,” tambah warganet lainnya.
Kontroversi Konten Mindfulness
Sebelumnya, video terbaru Maudy Ayunda berjudul Mindfulness in the Age of Bad News memang memicu perdebatan cukup besar di media sosial.Banyak yang menilai cara Maudy membingkai isu-isu seperti kelangkaan BBM, bencana alam, dan kebakaran hutan sebagai “sekadar kabar buruk” kurang peka. Bagi masyarakat, itu bukan sekadar berita, melainkan kenyataan yang langsung memengaruhi hidup mereka.
Latar video yang menampilkan dapur mewah, makanan sehat, dan suasana nyaman dianggap mempertegas jarak antara pengalaman pribadi Maudy dan realitas masyarakat yang sedang kesulitan.
Kritik pun diarahkan pada sikap Maudy Ayunda dalam “menghindari berita buruk” sebagai bentuk mindfulness. Warganet menilai tidak semua orang punya pilihan untuk mengabaikan isu sosial karena mereka justru merasakan dampaknya secara nyata.
Ada juga yang menyoroti bahwa sebagian figur publik memilih turun langsung ke lapangan, sementara Maudy dianggap lebih fokus pada refleksi pribadi. Hal ini memunculkan tudingan “nirempati.”