Maudy Ayunda (Foto: Instagram @maudyayunda)
Maudy Ayunda (Foto: Instagram @maudyayunda)

Warganet Singgung Beasiswa LPDP Maudy Ayunda Usai Klarifikasi Konten Mindfulness

Basuki Rachmat • 14 September 2026 13:33
Ringkasnya gini..
  • Maudy Ayunda meminta maaf atas kekurangpekaannya dalam konten mindfulness.
  • Klarifikasi tersebut dinilai sebagian warganet masih berbau self-defense.
  • Publik tetap melontarkan kritik pedas dengan menyinggung status alumni LPDP Maudy.
Jakarta: Aktris sekaligus penyanyi Maudy Ayunda kembali menjadi sorotan setelah memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf terkait kontennya yang membahas mindfulness di tengah maraknya pemberitaan negatif di Tanah Air.

Konten berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya sebelumnya menuai beragam kritik dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial menilai ulasan Maudy kurang sensitif terhadap situasi yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia.

Menanganggapi kritik tersebut, Maudy mengakui bahwa dirinya belum cukup mempertimbangkan perspektif mengenai keistimewaan dalam konten tersebut. Ia menyadari bahwa kemampuan untuk mengambil jarak sejenak dari pemberitaan buruk merupakan bentuk hak istimewa yang tidak dimiliki semua orang.

Maudy kemudian menyampaikan permintaan maaf karena merasa pembahasan mengenai hal tersebut belum ia refleksikan secara utuh dalam videonya. Ia menuliskan klarifikasi tersebut melalui media sosial.

"Bisa menjauh dari pemberitaan itu sendiri merupakan suatu keistimewaan. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Maaf minta karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," tulis Maudy Ayunda dalam klarifikasinya.

Maudy juga menegaskan bahwa memahami berbagai permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia menyampaikan sejumlah isu, mulai dari kebakaran hutan dan bencana alam hingga kebijakan maupun program yang dinilai tidak tepat sasaran dan berdampak langsung kepada masyarakat.

Menurut Maudy, pembahasan mengenai mindfulness yang ia sampaikan tidak dimaksudkan untuk mengajak masyarakat mengabaikan berbagai permasalahan tersebut. Ia pun menegaskan bahwa mindfulness seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menjauh dari kenyataan.

“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat keadaan seolah-olah baik-baik saja,” tegas Maudy.

Di tengah kritik yang bermunculan, Maudy juga mengapresiasi warganet yang memberikan masukan dan menghadirkan sudut pandang berbeda. Ia menganggap berbagai kritik tersebut sebagai kesempatan untuk memikirkan pemikirannya sekaligus memperluas perspektif.
 

Maudy pun menyampaikan terima kasih kepada mereka yang telah mengingatkan dirinya melalui kritik yang disampaikan di media sosial.

“Terima kasih kepada teman-teman yang telah menyumbangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku mendengar dan aku hargai feedbacknya. Aku mendengarkan dan aku belajar dari ini,” tutup Maudy.
 

Warganet Tetap Kritik Maudy Ayunda


Meski telah memberikan klarifikasi dan meminta maaf, pernyataan Maudy belum sepenuhnya menghentikan kritik di media sosial. Sejumlah warganet masih menilai penjelasan tersebut belum cukup menjawab pertanyaan mengenai sensitivitas konten yang dibuatnya.

Banyak kritik bahkan menunda latar belakang pendidikan Maudy yang pernah menempuh studi di Stanford University. Statusnya sebagai penerima beasiswa LPDP juga turut menjadi sorotan sejumlah pengguna media sosial.

Salah seorang warganet di X menilai Maudy seharusnya dapat melihat persoalan tersebut dari perspektif yang lebih luas, terutama dengan latar belakang pendidikannya.

"Lihat bagaimana itu benar-benar terdengar sangat tuli? Anda lulus dari Stanford (ingatlah bahwa kita semua membayarnya) seharusnya tidak terlalu sulit bagi Anda untuk memahaminya," tulis seorang warganet di X.

Kritik lain menilai klarifikasi Maudy masih terkesan sebagai bentuk pembelaan terhadap dirinya sendiri. Warganet tersebut menyimpulkan apakah permintaan maaf yang disampaikan benar-benar menunjukkan refleksi terhadap kritik sebelumnya.

“Aduh, bikin klarifikasi pun tetep bela diri,” tulis warganet lainnya.

Sementara itu, sejumlah komentar lain menyoroti persoalan biaya pendidikan yang dikaitkan dengan status Maudy sebagai penerima beasiswa LPDP. Salah satu warganet bahkan mengkritik konten tersebut karena dianggap tidak mencerminkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat.

“Kuliah pakai uang pajak dari rakyat tapi ketika rakyat dianggap dianggap sebagai berita buruk.. Enak kan jadi orang kaya nir empati kasih nasihat latar belakang kichen set mahal, makanan sehat.. Rugi bener duit pajak untuk sekolahin manusia yang ga bersuara ketika rakyat ditindas. Gausah lah dengerin tipsnya,” tulis warganet melalui akun YouTube @maryamratuloly6222 di kolom komentar unggahan video Maudy.

Kritik serupa juga datang dari warganet lain yang menyoroti kondisi masyarakat di wilayah terdampak asap akibat kebakaran hutan. Ia bahkan mengajak Maudy untuk melihat langsung situasi tersebut.

“Ke Kalbar dan Kalteng yuk kak, rasakan mindfulness di lokasi berasap,” tulis akun @Diazguard744.

Sementara itu, komentar lainnya kembali membahas isu tersebut dengan status Maudy sebagai penerima beasiswa LPDP. Warganet tersebut menilai latar belakang pendidikan yang tinggi seharusnya juga diikuti dengan keberanian yang menggambarkan persoalan sosial secara lebih kritis.

“Sebagai LPDP Awardee seharusnya bisa bersuara lebih kritis, biaya kuliah anda dibayarin rakyat se-Indonesia lho.Terbukti nyata kuliah tinggi tidak menjamin EMPATI,” tulis akun @ratihcondroretno8524.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA