Selain sebagai aktris, sebenarnya seperti apa profil lengkap Maudy Ayunda? Apa pula latar belakang pendidikannya? Simak informasi berikut ini:
Profil Maudy Ayunda
Maudy Ayunda memiliki nama lengkap Ayunda Faza Maudya. Maudy lahir di Jakarta 19 Desember 1994. Maudy merupakan anak pertama dari dua bersaudara, pasangan Didit Jasmedi R. Irawan dan Muren Murdjoko. Maudy telah menikah dengan Jesse Choi, pria Korea Selatan, pada 2022.
Pendidikan Maudy Ayunda
- SMA: British School Jakarta
- S1: Oxford University jurusan Politics, Philosophy and Economics (2016).
- S2: Standford University dengan dua gelar Master of Arts dan Master of Business Administration.
Kronologi Viral Video Maudy Ayunda
Maudy mengunggah video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News melalui akun YouTube-nya pada 21 Agustus 2026. Pelantun hit "Perahu Kertas" tersebut membagikan refleksi mengenai cara menjaga kesehatan mental di tengah banyaknya kabar buruk yang terjadi di Indonesia. Maudy menyampaikan sejumlah permasalahan, mulai dari bencana alam, kelangkaan BBM, kebakaran hutan, hingga berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Namun, alih-alih mendapat respons positif, konten tersebut justru memicu keributan di media sosial.
Sejumlah warganet menilai Maudy mengutarakan nada tuli, istilah yang merujuk pada sikap kurang peka terhadap situasi sosial di sekitarnya. Kritik terutama diarahkan pada cara Maudy membingkai berbagai persoalan tersebut sebagai “berita buruk”.
Menurut warganet, sejumlah isu seperti kelangkaan BBM, keracunan MBG, bencana alam, dan kebakaran hutan bukan sekadar pemberitaan yang dapat dijauhkan dari kehidupan sehari-hari. Permasalahan tersebut merupakan kenyataan yang berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.
"Kabar buruk kamu adalah kenyataan buruk dari orang-orang tau, info aja," tulis akun @nadilnar di kolom komentar YouTube Maudy Ayunda.
Komentar serupa juga datang dari akun @nadineamaratasya yang menyoroti kondisi Maudy dalam video tersebut ketika berbicara mengenai kesehatan mental dan kabar buruk.
"Sakit hati bgt ngeliat dia sarapan sehat, enak senyum2 sementara org lain banyak kesusahan dan dia 'ga nyaman' dengan berita org lain kesusahan. Gila lu modi," tulis akun @nadineamaratasya.
Warganet lain bahkan menyoroti latar tempat Maudy membuat konten tersebut. Menurut mereka, situasi nyaman yang terlihat dalam video menjadi kontras dengan kondisi masyarakat yang tengah menghadapi berbagai bencana.
"Ah, la membuat video tersebut dengan latar belakang dapur, kitchen set mahal, makanan sehat, telur ceplok 8 omega 2 butir, tempat mewah yang bagus di saat 3 minggu yang lalu ke belakang, banyak bencana, banjir, gempa, korban di pengungsian," tulis akun @maidinaafif6075.
Kritik tersebut kemudian dikaitkan dengan persoalan keistimewaan. Warganet menilai tidak semua orang memiliki pilihan menghindari pemberitaan atau persoalan sosial yang terjadi karena sebagian justru masyarakat merasakan dampaknya secara langsung.
"Tapi ada yang punya privilage memlih untuk mengkurasi sebuah berita supaya tidak masuk ke jangkauan radarnya. Memilih stoik katanya. Karena ada hal yang tidak bisa ia kontrol. Sementara banyak influencer lainnya hanya dengan berbekal follower, aktif terjun ke lapangan. Inikah yang kita sebut dengan 'NIREMPATI'?" tulis warga net.
Klarifikasi Maudy Ayunda
Setelah mendapat berbagai kritik, Maudy Ayunda akhirnya memberikan penjelasan mengenai maksud dari konten tersebut. Ia mengakui terdapat perspektif penting yang belum cukup ia sampaikan dalam video sebelumnya, terutama mengenai hak istimewa untuk dapat mengambil jarak dari pemberitaan.Maudy menyadari kemampuan untuk menjauh sejenak dari berbagai kabar buruk merupakan sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki semua orang, terutama bagi mereka yang terdampak langsung oleh masalah tersebut.
"Bisa menjauh dari pemberitaan itu sendiri merupakan sebuah keistimewaan. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," tulis Maudy Ayunda di kolom komentar.
Maudy juga mengakui kondisi yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia tidaklah ringan. Ia kembali menyampaikan sejumlah permasalahan, termasuk kebakaran hutan, bencana alam, serta kebijakan dan program yang dinilai tidak tepat sasaran hingga memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat keadaan seolah-olah baik-baik saja,” tegas Maudy.
Ia menyampaikan apresiasi kepada warganet yang memberikan kritik dan perspektif berbeda terhadap kontennya. Menurut Maudy, masukan tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajarannya.
“Terima kasih kepada teman-teman yang telah menyumbangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku mendengar dan aku hargai feedbacknya. Aku mendengarkan dan aku belajar dari ini,” tulis Maudy Ayunda.