Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan KKA. Dia menegaskan kebijakan ini sejalan dengan langkah kementerian dalam memperkuat kompetensi siswa.
"kita mendukung sebenarnya karena ini sejalan dengan apa yang sudah dicanangkan ya. Karena di Kementerian kita mulai tahun pelajaran 2025-2026 kita sudah mencanangkan mapel pilihan coding dan kecerdasan artifisial," ungkap Gogot dalam Acara Djarum Foundation di GOR Jati Djarum Kudus, Minggu, 20 September 2026.
Gogot menuturkan kehadiran KKA bertujuan agar siswa lebih termotivasi dalam mengaktualisasikan pelajaran. Mereka juga membutuhkan wadah untuk mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari.
"Mereka perlu tempat untuk mempraktekkan apa yang sudah mereka pelajari. Tapi rupanya teman-teman di Djarum Foundation ini sudah lama mengembangkan ini," ujar dia.
Ia menjelaskan, hingga 2025 pemerintah telah melatih lebih dari 24 ribu sekolah untuk mengimplementasikan KKA. Seluruh dokumen pendukung juga telah disiapkan secara menyeluruh.
Suasana lomba di booth plugged. Foto: Medcom.id/ Bramcov Stivens Situmeang
"2025 sudah ada melatih lebih dari 24 ribu sekolah untuk mengambil mapel coding dan kecerdasan artifisial. Semua dokumen sudah disiapkan, peraturan menteri, modul, pelajar sudah kita laksanakan. Jadi pertama, yang kedua hal praktek baik ini perlu kita kembangkan," ungkap dia.
Selain itu, Gogot menilai praktik baik yang dilakukan Djarum Foundation di Kudus perlu diperluas ke berbagai daerah. Hal ini penting agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.
"Kita skill up ke beberapa tempat yang lain. Tidak hanya kudus, tentu kabupaten-kabupaten yang lain, praktek baik ini kita tularkan ke tempat-tempat lain," ujar dia.
Suasana lomba di booth uplugged. Foto: Medcom.id/ Bramcov Stivens Situmeang
Ia berharap penerapan KKA secara masif dari PAUD hingga SMA dapat mencetak generasi unggul. Generasi ini diharapkan mampu menghadapi tantangan dengan kemampuan berpikir berbasis data.
"Kita ingin anak-anak menjadi pemecah masalah atau problem solver, itu yang kita targetkan sehingga mereka kalau selesai di masalah mereka, mereka nggak akan menjadi masalah keluarga, kalau masalah anak nggak selesai, jadi masalah keluarga. Keluarga nggak selesai, masalah masyarakat, masyarakat nggak selesai, masalahnya jadi masalah negara," beber Gogot.