Kreator konten pendidikan Jerome Polin menilai hasil tersebut menjadi alarm bagi pendidikan Indonesia. Ia menyoroti kecenderungan siswa Indonesia yang masih lebih mengandalkan feeling atau common sense dibandingkan fakta ilmiah ketika mengevaluasi informasi.
“Misal, ketika menemukan sebuah informasi, apakah murid-murid ini membandingkan dengan sumber lain? Atau, ketika harus membuat suatu keputusan, mereka itu lebih mengedepankan common sense atau feeling,” kata Jerome melalui unggahan instagramnya @jeromepolin dikutip Selasa 15 September 2026.
Menurut Jerome, hasil PISA 2025 menunjukkan mayoritas siswa Indonesia memiliki profil performa sains di bawah rata-rata OECD. Kondisi tersebut itu pula kata dia yang mencerminkan jika siswa Indonesia kurang memahami informasi yang diterima untuk mengambil keputusan.
“Sederhananya, performance science siswa kita masih sangat rendah. Dan cara mereka mengevaluasi informasi itu patut diperhatikan,” ujarnya.
Dalam PISA 2025, skor sains Indonesia mencapai 389 poin, membaca 365 poin, dan matematika 364 poin. Seluruh capaian tersebut masih berada di bawah rata-rata negara OECD.
Jerome menilai persoalan tersebut menjadi semakin penting karena siswa saat ini berhadapan dengan informasi dalam jumlah besar. Kemampuan memahami informasi saja tidak cukup jika siswa belum terbiasa membandingkan sumber, mencari bukti, dan memeriksa kebenaran informasi yang diterimanya.
Hasil PISA juga memperlihatkan tantangan besar pada kemampuan sains siswa Indonesia. Capaian tersebut berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan ilmiah untuk memahami fenomena serta mengambil keputusan berdasarkan bukti.
Karena itu, kemampuan mengevaluasi informasi perlu menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya perlu mengetahui jawaban, tetapi juga memahami alasan di balik sebuah kesimpulan dan bukti yang mendukungnya.
Persoalan ini menjadi semakin relevan di tengah derasnya informasi digital. Anak-anak kini dapat menemukan informasi dari media sosial, mesin pencari, video, hingga teknologi kecerdasan artifisial dalam waktu singkat.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan membedakan informasi berdasarkan bukti menjadi semakin penting. Siswa perlu dibiasakan bertanya dari mana informasi berasal, apakah ada sumber pembanding, serta apakah sebuah kesimpulan didukung data.

Media sosial. Foto: MI
Baca Juga :
Hasil Pisa 2025: Gara-gara Gadget, Kemampuan Membaca Remaja Sedunia Turun ke Titik Terendah
Jerome pun mengajak guru, orang tua, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan untuk melihat hasil PISA 2025 sebagai bahan evaluasi. Menurutnya, persoalan pendidikan Indonesia bukan hanya bagaimana meningkatkan skor, tetapi juga membangun kemampuan berpikir yang dibutuhkan siswa untuk menghadapi informasi.
“Untuk para guru, orang tua, dan semua yang berperan dalam pendidikan Indonesia, menurut kalian gimana dengan hasil PISA ini? Apa yang harus dibenahi?” kata Jerome.
Ia juga mempertanyakan apakah kondisi tersebut masih memungkinkan Indonesia mencapai target Indonesia Emas 2045. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa hasil PISA 2025 tidak hanya berbicara tentang angka.
Di balik skor sains, membaca, dan matematika, terdapat tantangan yang lebih luas. Yakni bagaimana membentuk siswa yang mampu menggunakan bukti dan berpikir kritis ketika berhadapan dengan informasi.