Influencer Ferry Irwandi, YouTuber Jerome Polin, dan filmmaker Chandra Liow, dalam MPKMB 63 IPB University. DOK IPB
Influencer Ferry Irwandi, YouTuber Jerome Polin, dan filmmaker Chandra Liow, dalam MPKMB 63 IPB University. DOK IPB

Bakar Semangat Mahasiswa Baru IPB, Ferry Irwandi hingga Jerome Polin Bagikan Resep Sukses Kuliah

Renatha Swasty • 13 Agustus 2026 18:03
Ringkasnya gini..
  • Tokoh publik dan influencer membagikan pengalamannya kepada mahasiswa baru IPB University dalam acara MPKMB 63.
  • Jerome Polin dan Bene Dion mengajak mahasiswa baru berani mencoba hal baru, membangun karakter, serta menjadikan kegagalan sebagai pelajaran.
  • Kepala BRIN Arif Satria dan Chandra Liow menekankan pentingnya growth mindset, adaptasi teknologi, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Jakarta: Masuk ke jenjang perguruan tinggi bukan sekadar berganti status dari pelajar menjadi mahasiswa. Tetapi juga proses belajar menemukan jati diri, membangun karakter dan berani menjalani proses di dalamnya. 
 
Influencer Ferry Irwandi, YouTuber Jerome Polin, filmmaker Chandra Liow, komika Bene Dion, hingga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria berbagi pandangan dan pengalaman mereka kepada mahasiswa baru IPB University.
 
Ferry Irwandi menekankan kesempatan merasakan bangku sekolah dan kuliah merupakan sebuah privilege. Karena itu, proses belajar seharusnya dinikmati sebagai kesempatan setiap mahasiswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Dia menyebut mahasiswa harus punya value. Seseorang yang punya karakter akan selalu dihargai bahkan oleh musuh sendiri. 
 
“Prinsip yang gua pegang dari kecil itu cuma satu, yaitu semoga hidup gua nggak membebani hidup orang lain,” kata founder Malaka Project ini saat menyapa mahasiswa baru di acara MPKMB 63 di Kampus IPB Dramaga melalui keterangan tertulis dikutip Kamis, 13 Agustus 2026.
 
Jerome Polin dan Bene Dion mendorong mahasiswa berani mencoba banyak hal. Jerome melihat masa menjadi mahasiswa sebagai kesempatan mengenal diri sendiri melalui berbagai pengalaman, baik di kelas maupun di organisasi. 
 
Dia menyebut kunci mencapai kesuksesan adalah fokus untuk terus mencoba dan berkembang, serta menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran.
 
Sebagai mahasiswa yang pernah belajar di Jepang dan tertinggal dari segi bahasa, ia mengaku dihadapkan dua pilihan, yaitu menerima keadaan berada di belakang atau memberikan effort lebih untuk mengejar apa yang tertinggal.
 
“Kalau mereka belajar cuma 3 jam, aku harus belajar 5 jam. Believe in yourself,  berusaha lebih baik dan kasih effort lebih banyak untuk kejar mereka,“ pesan dia.
  Bene Dion memandang kegagalan sebagai bagian dari jalan menuju kesuksesan. Pengalaman mengikuti stand up comedy di 2013 dan hanya meraih peringkat 5 membuatnya menyadari panggung tersebut bukan jalan yang tepat baginya. 
 
“Dari kegagalan itu, aku menemukan apa yang aku suka, yang menjadikan aku sebagai penulis skenario dan sutradara sekarang,“ ujar dia.
 
Sebagai anak yang tumbuh besar di desa, Bene mengingatkan bahwa proses adaptasi selama menjadi mahasiswa mungkin terasa lebih berat karena perbedaan akses dan perkembangan teknologi. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk menyerah. 
 
“Justru dari sana muncul dorongan untuk mengejar ketertinggalan, mengenali diri sendiri, dan menikmati proses menjadi mahasiswa dengan hati yang gembira,“ tutur dia.
 
Di Sekolah Vokasi IPB University, Chandra Liow dan Arif Satria mengajak mahasiswa baru untuk adaptif terhadap perkembangan dan berani keluar dari zona nyaman. 
 
“Perkembangan teknologi yang semakin cepat harus diimbangi dengan kemampuan manusia untuk terus belajar dan beradaptasi. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki learning agility, yakni kemampuan untuk belajar dengan cepat dan menyesuaikan diri terhadap perubahan,” kata Arif.
 
Selain kompetensi, ia juga menekankan pentingnya karakter growth mindset, learning agility, grit, kemauan kuat, empati, dan integritas. ”Kemampuan dapat membawa seseorang menuju puncak, tetapi karakter menjadi pilar untuk mempertahankan keberhasilan,” ujar dia.
 
Sementara itu, Chandra Liow mengajak mahasiswa tidak terlalu nyaman di satu posisi dan harus berani keluar dari zona nyaman untuk terus berkembang. Sebagai seorang content creator, dia berpesan untuk selalu menikmati proses dan konsisten.
 
“Konten viral hanya sebagai bonus. Percaya diri dan tidak terlalu memikirkan omongan orang lain juga penting agar tetap berani berkarya,” tutur dia.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan