Call for Proposal Penanganan Karhutla. Foto: Medcom.id/Adinda Kinanthi
Call for Proposal Penanganan Karhutla. Foto: Medcom.id/Adinda Kinanthi

Call for Proposal Riset Penanganan Karhutla Lewat KSTI 2026, Cek 3 Fokus Utamanya!

Citra Larasati • 04 November 2026 17:26
Ringkasnya gini..
  • Kemdiktisaintek menyiapkan call for proposal riset karhutla yang berfokus pada pengelolaan gambut, deteksi dini, dan teknologi pemadaman kebakaran.
  • Riset penanganan karhutla akan dimulai Januari 2027 melalui tiga fokus utama, mulai dari pengelolaan gambut hingga pengembangan teknologi pemadaman.
  • Kemdiktisaintek menggandeng peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk mengembangkan inovasi berbasis sains dalam penanganan karhutla.
Jakarta: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan program call for proposal atau penerimaan usulan penelitian untuk mendorong pengembangan teknologi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Program ini menjadi bagian dari rangkaian Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026.

Melalui program tersebut, Kemdiktisaintek akan mengarahkan peneliti dan perguruan tinggi untuk mengembangkan inovasi berbasis sains dan teknologi yang dapat menjawab persoalan karhutla di Indonesia. Riset yang diusulkan direncanakan mulai berjalan pada Januari 2027.

Terdapat tiga fokus utama pengembangan riset penanganan karhutla, yakni Pengelolaan dan Pemulihan Lahan Gambut, Pengembangan Teknologi Deteksi Dini dan Prediksi Kebakaran, dan Pengembangan Teknologi Pemadaman Api.

"Jadi kita akan buka riset yang akan dimulai bulan Januari tahun depan. Nah, nanti riset-riset ini akan mendukung kalau untuk kebakaran hutan berdasarkan tiga aspek utama. Jadi kita ingin sekarang riset tersebut mulai terarah dengan baik," ujar Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin, 2 November 2026.

Tiga Fokus Riset Penanganan Karhutla

Pengembangan inovasi penanganan karhutla melalui riset nasional diarahkan pada tiga aspek utama, meliputi:
  1. Pengelolaan dan Pemulihan Lahan Gambut

Fokus pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai karakteristik dan pengelolaan lahan gambut. Pemerintah mendorong peneliti untuk mengembangkan riset mengenai kondisi lahan gambut, termasuk keberadaan sumber air di bawah permukaan tanah.

Air tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kelembapan gambut agar tidak mudah terbakar.  Selanjutnya, penguatan basis data lahan gambut juga menjadi perhatian.

Data yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove diharapkan dapat dihidupkan kembali untuk mendukung pemetaan dan pengelolaan kawasan gambut secara lebih komprehensif.

Selain mencegah kebakaran, riset juga diarahkan untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan lahan gambut agar lebih produktif dan mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
  1. Pengembangan Teknologi Deteksi Dini dan Prediksi Kebakaran

Fokus kedua adalah mengembangkan kemampuan mendeteksi dan memprediksi kebakaran sejak dini. Pencegahan menjadi langkah penting agar api tidak berkembang dan menyebar ke wilayah yang lebih luas.

"Deteksi dini menjadi kunci karena dengan pemahaman temperatur, kelembapan, dan kondisi di lapangan, perkembangan dari kebakaran ini sedikit demi sedikit mulai bisa kita pahami," kata Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin, 2 November 2026.

Salah satu bagian dari pengembangan tersebut berupa Teknologi pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan inovasi yang disiapkan adalah UAV U-12 Palapa S-1 yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Teknologi ini memiliki kemampuan terbang dalam durasi berjam-jam dan dirancang untuk mendukung pemantauan wilayah, mitigasi bencana, serta pencarian dan penyelamatan atau search and rescue (SAR).

Data dari berbagai perangkat tersebut diharapkan dapat membantu peneliti memahami perkembangan kondisi lingkungan yang berpotensi memicu kebakaran.
  1. Pengembangan Teknologi Pemadaman Api

Fokus ketiga adalah mencari metode pemadaman yang lebih efektif ketika kebakaran sudah terjadi. Penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai alternatif solusi, baik menggunakan bahan alami maupun pendekatan kimiawi.

Khusus untuk lahan gambut, penanganan membutuhkan strategi berbeda karena api dapat membakar material organik hingga ke lapisan bawah tanah. Kondisi ini membuat penyiraman dari permukaan saja belum tentu mampu menjangkau seluruh sumber api.

Fuazan menjelaskan, salah satu pendekatan yang dinilai penting adalah pemanfaatan sumber air di bawah permukaan tanah. Pemerintah juga mulai mengidentifikasi kawasan yang berdekatan dengan permukiman agar dapat dilengkapi fasilitas pompa dan akses sumber air.

“Berdasarkan hasil diskusi para pakar, apabila sudah terjadi kebakaran terutama pada lahan gambut, solusi yang paling efektif adalah memahami bagaimana menggunakan air yang ada di bawah,” jelasnya.

Inovasi lain, yakni metode water bombing atau pemadaman menggunakan pesawat yang menjatuhkan air dari udara dinilai masih dapat dimanfaatkan untuk jenis kebakaran tertentu. Efektivitasnya tetap perlu mempertimbangkan karakteristik lahan dan kondisi sumber api.

Gandeng Pemerintah Daerah dan Masyarakat Peduli Api

Kemdiktisaintek juga berupaya memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan di lapangan. Pemerintah daerah diharapkan dapat berperan sebagai off-taker atau pihak yang memanfaatkan hasil pengembangan riset.

Melalui upaya kerja sama tersebut, inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan untuk membantu menyelesaikan persoalan karhutla di wilayah masing-masing. Selain itu, keterlibatan masyarakat peduli api juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem penanganan kebakaran.

Fauzan menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membangun ekosistem penanganan kebakaran. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran diharapkan dapat bekerja sama dengan peneliti dan para pakar untuk memperkuat upaya pencegahan maupun penanganan.

Melalui pengembangan riset tersebut, pemerintah berharap penanganan karhutla berorientasi pada pemadaman ketika api sudah meluas dan juga mampu memperkuat pencegahan sejak awal. Berbagai inovasi yang sedang atau akan dilakukan diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi nasional setelah melalui kajian dan pengujian ilmiah.

(Adinda Kinanthi) 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan